Putusan PN Serang Dipertanyakan

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Jumat, 15 November 2019 - 11:47:01 WIB   |  dibaca: 39 kali
Putusan PN Serang Dipertanyakan

PUTUSAN: Majelis Hakim PN Serang membacakan putusan gugatan perbuatan melawan hukum (PMH) atas tanah seluas 470 meter persegi, di Desa Drangong, Kecamatan Taktakan, nomor Persil 54a, saat sidang di PN Serang, kemarin.

SERANG, BANTEN RAYA- Putusan Pengadilan Negeri (PN) Serang terkait gugatan perbuatan melawan hukum (PMH) atas tanah seluas 470 meter persegi, terletak di Desa Drangong, Kecamatan Taktakan, Kota Serang nomor Persil 54a yang dimenangkan oleh tergugat dipertanyakan. Hakim dituding telah berlaku tidak adil, tidak objektif, dan tidak professional dalam putusannya.

Tergugat, Nuropik mengatakan, sangat menyesalkan sikap majelis hakim pimpinan Imanuel yang telah memenangkan pihak penggugat dalam perkara perdata 39/Pdt.G/2019/PN Srg. Pasalnya, majelis hakim yang bertugas di PN Serang tersebut dituding telah berlaku tidak adil, tidak objektif, dan tidak professional dalam putusannya.

"Keberatan yang pertama, penetapan sita jaminan tidak dibacakan dalam persidangan. Pihak kuasa hukum tiba-tiba menerima penetapan tanpa didahului persidangan," katanya kepada Banten Raya, usai persidangan di PN Serang, Kamis (14/11).

Nuropik mengungkapkan, majelis hakim dalam memutuskan perkara hanya berdasarkan percaya dengan pernyataan para saksi dari penggugat. Padahal saksi yang dihadirkan masih ada hubungan keluarga dan saksi lainnya tidak mengetahui fakta sebenarnya.

"Saksi dari pihak keluarga itu tetap didengarkan sebagai saksi, seharusnya itu tidak bisa dikasus perdata punya hubungan keluarga tidak didengar kesaksiannya. Andre punya hubungan keluarga dengan tergugat. Kemudian, saksi lainnya tidak melihat hanya mendengar dari tergugat, tapi ini diperkenankan menjadi saksi dan kesaksian itu malah menjadi pertimbangan hakim dalam putusannya," ungkapnya.

Untuk itu, Nuropik mempertanyakan soal objektivitas saksi dalam kasus tersebut, karena saksi yang dimohon oleh penggugat, Andre Pratama masih ada hubungan keluarga dengan penggugat. Dalam persidangan justru keterangan saksi dari tergugat diabaikan oleh majelis hakim."Jelas kami keberatan dan cukup dirugikan dalam kasus ini," tegasnya.

Nuropik mengungkapkan, kasus sengketa tanah itu bermula pada Desember 2014 dirinya membeli sebidang tanah dari Anah Suhanah, dengan bukti akta jual beli nomor 608/2014 yang dibuat dihadapan PPAT Sementara, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, senilai Rp 1,5 miliar."Tidak lama setelah itu muncul gugatan PMH (perbuatan melawan hukum) dari saudara Johny ini, soal perjanjian pengikatan jual beli (PPJB) atas objek perkara tertanggal 29 Januari 2007, nilainya sekitar Rp 253 juta," ujarnya.

Noropik menjelaskan, saat pembelian tanah tersebut, dirinya sudah memastikan jika tanah itu tidak bermasalah. Sehingga dirinya mengajukan penerbitan AJB atau dokumen yang membuktikan adanya peralihan hak atas tanah dari pemilik sebagai penjual kepada pembeli."Tanah itu hasil tanah waris yang sudah inkrah. Karena sudah ada putusan pengadilan, langsung kita buat AJB-nya," jelasnya.

Sementara itu, saksi Andre Pratama membenarkan jika dirinya masih memiliki hubungan keluarga dengan penggugat. Namun kesaksiannya dalam persidangan bukan dalam konteks keluarga. Di sana dirinya hadir sebagai saksi tergugat Anah dalam kasus pidana yang pernah ditanganinya."Iya (hubungan keluarga), yang ngurus perkara Anah kan saya. Jadi terkait perkara itu. Di perdata itu saya ngasih tau kalau Anah itu pernah dipidana (kasus jual beli tanah)," katanya. (darjat/rahmat)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook