Pengelolaan Garam Diintegrasikan

nurul roudhoh   |   Serang Raya  |   Senin, 18 November 2019 - 14:35:52 WIB   |  dibaca: 102 kali
Pengelolaan Garam Diintegrasikan

BERKUALITAS TINGGI : Kepala DKPP Kabupaten Serang Suhardjo memeriksa hasil produksi garam di Desa Domas, Kecamatan Pontang, belum lama ini.

SERANG, BANTEN RAYA – Pengelolaan garam di wilayah Serang utara bakal diintegrasikan dalam satu kawasan tambak garam dengan luasan minimal 15 hektar. Rencana integrasi pengelolaan garam dilakukan karena pengelolaan garam yang ada saat ini masih dilakukan perorangan dengan luasan lahan yang terbatas dan manajemen masing-masing sehingga hasil produksi garam belum optimal.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Serang Suhardjo mengatakan, pengelolaan integritas kawasan tambak garam sebagai bagian dari upaya meningkatkan produksi garam. “Di kita ada pengembangan garam tapi masih perorangan satu, dua hektar. Jadi ini akan kita integrasikan minimal 15 hektar digabungin menjadi satu manajemen pengelolaannya biar lebih efektif,” kata Suhardjo, Minggu (17/11).

Ia menjelaskan, pengelolaan garam dengan menggunakan sistem ulir atau menggunakan membran untuk ukuran satu atau dua hektar sebagian besar lahannya habis untuk pembuatan meja kristal. “Kalau luas lahannya 15 hektar, 30 persennya buat meja kristalisasi, lainnya buat tandon. Dengan pengelolaan integritas ini targetnya per hektar bisa menghasilkan 100 ton dan sekarang masih di bawah itu. Jadi belum optimal,” ujarnya.

Suhardjo mengungkapkan, potensi tambak di Serang utara baik yang sudah terbentuk maupun yang belum terbentuk atau hamparan kosong seluas 9.981 hektar. Sedangkan yang baru dimanfaatkan untuk budidaya udang, bandeng, dan rumput laut baru sekitar 5.000 hektar. “Jadi sisa tambak yang belum dimanfaatkan sekitar 4.981 hektar, itu yang kita rencanakan untuk pengembangan garam. Untuk integrasi ini pelakunya masyarakat sekitar,” tuturnya.

Terkait dengan harga garam yang sering anjlok, Suhardjo menuturkan, Pemkab Serang belum bisa mengendalikan harga garam karena masih ada impor yang dilakukan pemerintah pusat. Mamun pihaknya optimis usaha garam sangat menjanjikan karena kebutuhan garam nasional baru terpenuhi 2 juta ton dari kebutuhan 3,5 juta ton pertahun. “Langkah kita pertama adalah kita butuh gudang dengan kapasitas minimal 5.000 ton,” paparnya.

Dengan adanya gudang garam tersebut, pihaknya berharap bisa sedikit mengendalikan harga garam minimal untuk industri di Kabupaten Serang yang menggunakan bahan baku garam untuk memakai garam lokal.

“Kalau sekarang kita memaksa industri untuk menggunakan garam lokal enggak bisa, karena stok saja kita belum punya, sementara kalau ke industri kan harus terus menerus. Kalau kita sudah ada gudang kita perkuat dengan regulasi,” katanya.

Suhardjo mengatakan, sampai saat ini pihaknya belum menghitung berapa kebutuhan garam bagi industri di Kabupaten Seang namun untuk angka kasarnya mencapai 10.000 ton per tahun. “Yang menggunakan garam ada Indah Kiat Pulp and Paper, pabrik-pabrik kimia di Bojonegara. Kalau lingkup provinsi ada pabrik semen merah putih, semen Jakarta, ada Asahimas Chemical, dan industri lainnya,” ujarnya.

Ia memastikan, kualitas garam di Kabupaten Serang lebih baik dari garam yang ada di daerah lain seperti Indramayu dan Karawang, Jawa Barat dan Madura, Jawa Timur. “Hasil uji laboratorium kadar NaCl (natrium klorida) garam kita 96 persen, sementara di Indramayu, Karawang, dan Madura baru 93 NaClnya. Warna garam juga kita lebih bagus lebih putih dan lebih bersih,” katanya. (tanjung/fikri)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook