Satu Hari Wajib Pakai Jawa Serang

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Senin, 18 November 2019 - 14:39:04 WIB   |  dibaca: 148 kali
Satu Hari Wajib Pakai Jawa Serang

MILAD BJS: Wakil Walikota Serang Subadri Ushuludin hadir di acara milad komunitas BJS, Minggu (17/11).

SERANG, BANTEN RAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Serang berencana akan menerapkan aturan satu hari dalam satu pekan masyarakat Kota Serang berbahasa Jawa Serang. Bahkan, saat ini Pemkot Serang tengah mengkaji terkait regulasinya. Hal tersebut dalam rangka memasifkan kembali Bahasa Jawa Serang di kalangan masyarakat.

Demikian dikatakan Wakil Walikota Serang Subadri Ushuludin setelah menghadiri acara Milad IX Komunitas Bahasa Jawa Serang (BJS) Banten di Gedung Gelanggang Remaja (GGR), Kawasan Komplek Stadion Maulana Yusuf (MY), Ciceri, Kota Serang, Minggu (17/11) siang sekitar pukul 11.30.    

“Kita baru saja membuat perwal (peraturan walikota) tentang batik Kota Serang. Terus kedepan ada perwal juga untuk satu hari dalam satu minggu, kalau di Jawa Barat ada Rabu Yunda. Mungkin di Kota Serang ada Selasa Beubasan atau Kamis Beubasan, atau Jumat Beubasan. Kita lagi kaji itu,” ujar Subadri, di hadapan awak pers.

Komitmen Pemkot Serang, lanjut dia, telah memasukan Bahasa Jawa Serang ke dalam kurikulum muatan lokal (mulok) di pendidikan mulai jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

“Selain itu nama-nama taman yang ada di Kota Serang, diganti namanya seperti Taman K3 Ciceri diganti namanya dengan Taman Deduluran, lalu ada Taman Cecantelan, Taman Mbok Nyai Bapeyai. Itu dilakukan sebagai upaya dalam melestarikan Bahasa Jawa Serang,” ucap dia.

Menurut Subadri, penggunaan bahasa Jawa Serang sangat penting karena sebagai bentuk identitas daerah Serang. Oleh karena itu, pihaknya tak bosan-bosan mengimbau kepada masyarakat untuk membiasakan kembali menggunakan Bahasa Jawa Serang dalam kehidupan sehari-hari.

“Terhitung sejak saya jadi ketua dewan sampai sekarang, selama masyarakatnya bisa untuk menggunakan bahasa Jawa Serang, maka saya maksakan menggunakan bahasa Jawa Serang. Itu untuk membiasakan diri dalam rangka melestarikan bahasa Jawa Serang,” ungkap dia.

Namun ia juga berharap melalui komunitas BJS, kuliner lokal khas Serang dapat meningkatkan dari sisi kemasannya, sehingga dapat dipasarkan hingga tingkat nasional.“Kuliner lokal kita dari sisi pemasaran dan kemasan masih belum. Kalau daging rendang khas masakan Padang itu bisa dikemas, kenapa rabeg tidak bisa? Saya berharap kuliner khas Serang pemasaran dan kemasannya bisa ditingkatkan lagi supaya pasarannya tembus pasar nasional,” harap Subadri.

Subadri pun sangat mengapresiasi kehadiran komunitas BJS ini. Ia berharap melalui komunitas BJS ini Bahasa Jawa Serang diakui oleh masyarakat Banten khususnya.“Pertama baik atas nama pribadi dan Pemkot Serang sangat bersyukur dan sekaligus mengapresiasi yang setinggi-tingginya. Semoga Bahasa Jawa Serang ini makin jaya dan keberadaannya diakui oleh masyarakat Kota Serang khususnya,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua BJS Banten Lulu Jamaludin sangat mengapresiasi atas dukungan Pemkot Serang tersebut. Ia berharap di Serang adanya penerapan aturan satu hari berbahasa Jawa Serang yaitu Jumat Jaseng (Jawa Serang) atau Jumat Beubasan. “Kalau BJS tidak melestarikan Bahasa Jawa Serang kedepan Bahasa Jawa Serang akan musnah. Makanya jangan malu gunakan Bahasa Jawa Serang,” kata Lulu.

Ia menuturkan, selain memasifkan Bahasa Jawa Serang di komunitasnya, pihaknya pun terus masif menyosialisasikan Bahasa Jawa Serang masyarakat luas. “Sementara ini kita sosialisasikan sekolah-sekolah bagaimana agar mereka (siswa) selalu menggunakan Bahasa Jawa Serang,” tutur dia.

Lulu menyebutkan, jumlah anggota komunitas BJS sudah mencapai 25 ribu anggota. Untuk perekrutan anggota BJS sangat selektif karena tujuan komunitas BJS adalah melestarikan Bahasa Jawa Serang. “Kalau di komunitas kami wajib menggunakan beubasan dua hari dalam satu minggu yakni Kamis dan Jumat. Kalau ada anggota kita yang menginfokan di grup tapi tidak menggunakan bahasa Jawa Serang kita akan hapus. Kalau sampai tiga kali diperingatkan tetep ngeyel kita blokir. Karena BJS itu mengedepankan kualitas bukan kuantitas,” tegasnya.

Untuk kuliner khas Serang yang potensial, ia mengakui bahwa kuliner khas Serang masih jadi tamu di rumah sendiri khususnya di Kota Serang. Oleh karena itu, ia bersama rekan-rekan BJS Banten terus memperkenalkan makanan khas Kota Serang seperti jejorong, kontol sapi, cecuer, kolak radio, sambel kutang (kulit tangkil), bintul, roti gulacir, dan lainnya. Pasalnya, kuliner khas Kota Serang kurang dilirik oleh masyarakat Banten maupun luar Banten. Padahal, manfaatnya banyak dirasakan.

“Saya kira, makanan khas Kota Serang lebih sehat dan bergizi. Terlebih tidak memakai bahan pengawet. Kami juga berharap pemkot turut mengkampanyekan makanan khas serang di acara-acara resmi baik di Banten maupun di luar Banten,” ungkap dia.

Ia juga mengaku tengah berupaya mengembangkan potensi kuliner yang ada di Kota Serang. Melalui mengkampanyekan makanan sehat khas Kota Serang melalui internet, hingga akan meluncurkan kafe yang berbahasa Jawa Serang.

“Berbagai upaya akan kita lakukan, untuk memperkenalkan makanan khas Kota Serang. Masyarakat Banten maupun luar Banten harus mengetahui kalau Kota Serang memiliki makanan yang bergizi dan juga sehat,” jelas dia. (harir)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook