Layanan Bedah RSUD Banten Ditutup

nurul roudhoh   |   Serang Raya  |   Rabu, 20 November 2019 - 13:28:38 WIB   |  dibaca: 77 kali
Layanan Bedah RSUD Banten Ditutup

JEBOL : Rombongan Komisi V DPRD Provinsi Banten meninjau kondisi langit-langit lantai tiga RSUD Banten yang mengalami jebol dalam inspeksi mendadak, Selasa (19/11).

SERANG, BANTEN RAYA – RSUD Banten untuk sementara waktu ini tak bisa memberikan pelayanan bedah. Hal itu terjadi karena ruang bedah dan infrastruktur sekitarnya mengalami kerusakan akibat hujan lebat dan angin kencang yang melanda Kota Serang dan sekitarnya, belum lama ini.  Demikian terungkap dalam inspeksi mendadak (sidak) Komisi V DPRD Provinsi Banten ke RSUD Banten, Kecamatan Curug, Kota Serang, Selasa (19/11).

Pantauan Banten Raya, sidak dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Rombongan wakil rakyat disambut langsung oleh Direktur Utama RSUD Banten Danang Hamsah Nugroho. Selanjutnya, mereka menelusuri setiap ruang di rumah sakit tersebut, mulai dari instalasi gawat darurat (IGD), ruang rawat inap, hingga layanan poli.

Dalam kesempatan itu pula, anggota Komisi V memantau sejumlah bangunan gedung yang mengalami kerusakan. Kerusakan berat terlihat di lantai tiga, tepatnya berdekatan dengan ruang instalasi bedah sentral.

Di sana, atap dan plafon mengalami jebol cukup besar, bahkan saat itu wartawan bisa melihat langit secara langsung dari lubang atap. Lantaran hal tersebut, sejumlah ruangan ditutup dan tak bisa digunakan. Ruangan itu porak poranda oleh reruntuhan atap dan plafon.  

Anggota Komisi V DPRD Provinsi Banten Furtasan Ali Yusuf mengatakan, sidak dilakukan untuk melihat pelayanan di rumah sakit plat merah tersebut, terutama pasca dilanda angin kencang. Hasilnya, pihaknya mendapati pelayanan bedah terganggu.  “Apa lagi tadi saya lihat kejadian luar biasa soal dan itu sudah kita lihat fakta, semua posisi pelayanan terganggu atau tidak. Cuma tadi yang tidak dilayani adalah soal (pelayanan) bedah saja,” ujarnya kepada awak media usai sidak.

Mantan Ketua Komisi II DPRD Kota Serang itu menuturkan, tak beroperasinya layanan bedah jelas sangat berdampak bagi RSUD Banten. Pasalnya, bedah merupakan salah satu layanan dasar sebuah  rumah sakit.  “Itu menurut saya pelayanan yang dasar, karena rumah sakit tanpa bedah seperti apa gambarannya. Harus dirujuk sana-sini, khawatirnya pada saat pelaksanaanya khawatir dipingpong,” katanya.  

Diakui Furtasan, kekhawatirannya sudah diantisipasi oleh pihak rumah sakit. RSUD Banten telah bekerja sama dengan tiga rumah sakit terdekat yaitu RSUD Dradjat Prawiranegara, RS Hermina dan RS Sari Asih Serang. Ketiga rumah sakit itu akan menggantikan layanan bedah RSUD Banten.

“Menurut saya itu solusi sementara. Kalau soal (ruangan di tiga rumah sakit) penuh memang kembali ke rumah sakit yang tersedianya, tetapi sebagai tanggung jawab rumah sakit di sini sudah dilaksanakan dan menurut saya SOP (standar operasional prosedur)-nya semua hampir sama,” ungkapnya.

Selain soal pelayanan, hasil sidak juga menyoroti menyoroti soal arsitektur atau tampak kasat mata bangunan RSUD Banten. Dia menilai, tampilannya tak mencerminkan sebagai rumah sakit milik Pemprov Banten.“Setelah saya melihat secara langsung, kaget saya. RSUD Banten tidak seperti yang ada di benak kita. Artinya masih banyak pembenahan dari sana sini. Dari sisi penampilan, arsitekturnya tidak tahu seperti apa benaknya dalam perencanaan. Yang jelas ini tidak enak dipandang mata,” tuturnya.

Pria berkumis tebal itu menuturkan, hasil sidak akan ditindaklanjuti dalam rapat internal Komisi V DPRD Banten.   “Akan dirapatkan secara internal di Komisi V, apa yang harus kita berikan. Saya melihat dari sisi ketersediaan anggaran, enggak ada problem kita sebetulnya. Sekarang bagaimana meningkatkan mind set (pola pikir) pelayanan yang ada di sini,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama RSUD Banten Danang Hamsah Nugroho membenarkan, pihaknya menutup sementara layanan bedah pasca atap jebol. Meski demikian, pihaknya tetap melayani jika ada pasien yang datang.“Kami tak menolak pasien, tetap kita layani. Kalau perlu bedah kita rujuk ke RS yang memungkinkan. Kita kerja sama dengan (RSUD) Drajat (Prawiranegara), Hermina dan Sari Asih. Sejak hari kejadian, sudah ada 10 (pasien) yang dirujuk,” katanya.   

Agar pelayanan bisa kembali normal, pihaknya mulai kemarin sudah memulai proses perbaikan. Seluruh pembiayaan yang timbul sepenuhnya ditanggung oleh kas RSUD Banten selaku Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).“Sudah kami (pantau menggunakan) drone dan ukur itu perkiraan Rp150 juta, dari BLUD. (Perkiraan lama pegerjaan) selama dua minggu,” tutur mantan Direktur Utama RSUD Malingping ini. (dewa)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook