10 Siswa Diancam 10 Tahun Bui

nurul roudhoh   |   Metro Tangerang  |   Rabu, 04 Desember 2019 - 12:36:06 WIB   |  dibaca: 115 kali
10 Siswa Diancam 10 Tahun Bui

MENYESAL : Pelaku mengaku menyesal ikut tawuran yang mengakibatkan satu pelajar tewas, Selasa (3/12).

KAB TANGERANG, BANTEN- Sepuluh pelaku yang diduga menghabisi nyawa Oka Mahendra (14), siswa kelas VII SMP Pembangunan Tigaraksa diringkus jajaran Satreskrim Polsek Tigaraksa dan Polresta Tangerang. Kesepuluh pelaku itu yakni KP (16), HS (15), DD (15), AH (15), SZ (15), MRO (16), AR (17), RH (15), S (15), dan YOR (19) yang merupakan siswa SMPN 1 Tigaraksa, Kabupaten Tangerang.

Kapolresta Tangerang AKBP Ade Ary Syam Indradi menjelaskan, tawuran pelajar SMPN 1 Tigaraksa dan SMP Pembangunan Tigaraksa ini berawal dari saling ejek di media sosial (medsos) facebook. Kemudian, , kedua pelajar ini bersepakat untuk mengadakan tawuran.

“Ketika berangkat tawuran di Jalan Raya Aria Jaya Santika, Desa Cisereh, Kecamatan Tigaraksa, mereka ini sudah menyiapkan senjata. Ada yang membawa bambu, dan senjata tajam berupa cerulit dan golok,” kata Ade kepada wartawan saat mengelar konferensi pers di Polsek Tigaraksa, Selasa (3/12).

Para pelaku yang merupakan kelas VII dan VIII ini, lanjut Ade, selain mengakibatkan korban tewas, juga menyerang pelajar SMP Pembangunan Tigaraksa lainnya, yang saat itu jumlahnya kalah banyak.

Pihaknya menduga, tersangka mendapat provokasi dari seniornya untuk membuktikan sekolah yang lebih jagoan dalam hal tawuran. “Dari semua tersangka ini yang menghabisi nyawa korban itu Oka Mahendra. Korban tewas dengan luka di bagian dada dan pinggang,” ungkapnya.

Dari tangan tersangka, anggota Reskrim Polsek Tigaraksa dan Polresta Tangerang berhasil mengamankan sejumlah barang bukti seperti golok, celurit dan pakaian bersimbah darah. “Dalam kesempatan ini, saya mengucapkan belasungkawa terhadap keluarga almarhumnOka Mahendra. Semoga tidak ada lagi pelajar yang menjadi korban tawuran,” tuturnya.

Ade memberikan masukan kepada pihak sekolah agar membuat program salah satunya dengan cara membuat kegiatan yang lebih bersifat akademis atau olahraga. “Saya menyarankan pada sekolah agar menggelar kegiatan yang bermanfaat dan melibatkan pelajar,” harapnya.

Ade menambahkan, akibat perbuatannya, para pelaku diancam Undang-undang (UU) Nomor 34 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. “Kami akan terus mengembangkan kasus ini, karena tidak menutup kemungkinan bakal ada tersangka baru,” katanya.

Sementara itu, salah seorang tersangka yang duduk dibangku kelas VIII SMPN 1 Tigaraksa berinisial YOR,  mengaku ikut tawuran karena diajak oleh temannya. Sementara senjata tajam senjata tajam jenis cerulit yang didapatnya dari toko online dengan alasan untuk menjaga diri. “Cerulit itu dipesan lewat online untuk menjaga diri. Saya membacok korban di bagian pinggang,” katanya.

Setelah mengetahui ada korban yang meninggal, YOR mengaku menyesal dengan apa yang sudah dilakukannya tersebut. “Saya menyesal pak. Tidak akan mengulanginya lagi,” imbuhnya.Di tempat sama, orang tua korban, Aisih, warga Kampung Kedongdong, Desa Pasir Nangka, Kecamatan Tigaraksa, berterima kasih kepada polisi yang sudah menangkap para pelaku yang menghabisi nyawa putranya tersebut. “Pelakunya sudah berhasil ditangkap. Kami meminta agar pelaku bisa di hukum seberat-beratnya,” singkatnya.

Ditemui Terpisah, Pengamat Kebijakan Publik dan Pendidikan Kabupaten Tangerang Sugandi Itra mengaku prihatin terkait peristiwa seorang pelajar SMP Pembangunan Tigaraksa yang tewas setelah terlibat perkelahian dengan sekolah lain. “Peristiwa meninggalnya siswa SMP Pembangunan Tigaraksa merupakan pukulan telak bagi dunia pendidikan.

Generasi muda yang seharusnya melakukan kegiatan posistif, malah melakukan aksi tidak terpuji. Mudah-mudahan ini menjadi hikmah bagi orang tua dan guru agar tidak terulang kembali. Apalagi, insiden seperti ini bukan pertama kalinya terjadi di Kabupaten Tangerang,” kata pria yang akrab dipanggil Bang Gandi ini.

Menurut Gandi, untuk itu, dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), pemerintah harus menekankan pola pendidikan kepada siswanya dengan sistem pembentukan karakter, moral dan pembentukan akhlak. “Dengan sistem pendidikan seperti ini, tentunya dapat meminimalisir terjadinya aksi tawuran pelajar,” ujarnya.

Selain pola pendidikan karakter, lanjut Gandi, untuk mengantisipasi peristiwa tersebut, maka seluruh stakeholder harus menjaga dan meningkatkan sinergitas dalam mengawasi para pelajar, mulai dari keluarga, sekolah dan masyarakat.

“Perlu adanya pengawasan yang intensif untuk mengantisipasi terjadinya tawuran pelajar ini. Iya, intinya seluruh stakeholder harus berperan aktif didalamnya, khususnya peranan pemerintah daerah dan dinas pendidikan untuk terus menerus bersama-sama meningkatkan sinergitas dalam membangun pola pendidikan anak,” tuturnya.

Kepala Bidang (Kabid) SMP Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Tangerang Fahrudin mengatakan, untuk menghentikan tawuran pelajar, Dindik bekerjasama dengan Polresta Tangerang akan memberikan edukasi kepada pelajar saat upacara bendera. “Kami juga meminta kepada orang tua, untuk memantau dan membimbing anaknya dengan baik,” singkatnya.

Diberitakan sebelumnya, tawuran antar pelajar terjadi di Jalan Raya Aria Jaya Santika, tepatnya di Kampung Olek, Desa Cisereh, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Akibatnya, seorang siswa tewas terkena senjata tajam. (imron)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook