Mahasiswa: Syafrudin-Subadri Kendor

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Jumat, 06 Desember 2019 - 13:33:14 WIB   |  dibaca: 98 kali
Mahasiswa: Syafrudin-Subadri Kendor

DISEGEL: Mahasiswa menyegel pintu gerbang kantor Walikota Serang, di Puspemkot Serang, Kota Serang Baru (KSB), Kota Serang, menggunakan rantai digembok dan dipasang banner bertuliskan ‘Gedung Ini Kami Segel, Aje Kendor Gagal’, Kamis (5/12).

SERANG, BANTEN RAYA- Dua organisasi mahasiswa yang menamakan dirinya Serikat Mahasiswa Sosialis Demokratik (SWOT) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Majelis Penyelamat Organisasi (MPO) berunjuk rasa di Puspemkot Serang, Kota Serang Baru (KSB), Kota Serang, Kamis (5/12).

Dalam aksi itu, mahasiswa menyegel pintu gerbang gedung kantor Walikota Serang menggunakan rantai yang digembok dan dipasang banner bertuliskan ‘Gedung Ini Kami Segel, Aje Kendor Gagal. Mereka berunjuk rasa untuk menyikapi satu tahun kepemimpinan walikota dan wakil walikota Serang yang memiliki tagline ‘Aje Kendor’.

Koordinator aksi Nuriman Zamsani dalam orasinya menilai, duet Syafrudin-Subadri selama setahun memimpin Kota Serang justru kendor dalam merealisasikan janji-janjinya. Banyak dari janji politiknya yang gagal diwujudkan dalam setahun ini.“Kita ketahui bersama bahwa banyak janji dari Syafrudin-Subadri tidak terpenuhi hingga satu tahun ini. Seperti program 100 hari kerja, yang bahkan sudah setahun ini tidak ada progres sama sekali," ujar Zamsani.

Ia menyebutkan, beberapa janji politik Syafrudin-Subadri (S2) yang gagal yakni terkait penataan pedagang kaki lima (PKL). Menurut mereka, Syafrudin dan Subadri bukan melakukan penataan, melainkan melakukan penggusuran berkedok relokasi.“Berdasarkan perda nomor 4 tahun 2014 tentang penataan dan pemberdayaan PKL, apabila Pemkot ingin melakukan relokasi, maka harus menyediakan segalanya. Mulai dari MCK, auning, hingga saluran irigasi,” sebut dia.

Zamsani pun menyoroti kasus pungli yang terjadi di Kota Serang. Menurutnya, Syafrudin-Subadri 'kendor' dalam melakukan pembersihan terhadap birokrat-birokrat yang nakal. “Seharunya walikota berstatemen bahwa siapa pun yang melakukan pungli, itu harus dipecat. Namun ternyata yang keluar adalah bahasa lihat dulu sejauh mana keterlibatannya. Ini tidak memberikan efek jera,” katanya.

Oleh karena itu, ia menuntut kepada Syafrudin-Subadri agar dapat segera merealisasikan program 100 hari kerja yang mereka canangkan. Selanjutnya, mereka juga mendesak agar pasangan Aje Kendor dapat segera memecat oknum pegawai yang terindikasi melakukan pungli.“Terakhir, kami menuntut agar Syafrudin-Subadri untuk melakukan konferensi pers dan meminta maaf kepada masyarakat Kota Serang, karena belum menyelesaikan janji yang pernah diucapkan. Jika tidak, lebih baik mundur," tegas Zamsani.

Sebelumnya, pada Rabu (4/12) malam, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) Unbaja melakukan aksi refleksi satu tahun kepemimpinan Aje Kendor di depan kampus 1 UIN Banten.Dalam aksi tersebut, HMTL menilai pasangan Aje Kendor dalam setahun ini gagal dalam memimpin Kota Serang. Sebab, banyak persoalan-persoalan lingkungan yang tidak bisa diselesaikan oleh mereka.

Koordinator lapangan (Koorlap) M Ridho mengatakan, melalui kepemimpinan Syafrudin-Subadri, Pemkot Serang masih tetap tidak berdaya melawan para pengusaha ayam. Padahal dalam RTRW Kota Serang, sama sekali tidak memperbolehkan kandang ayam beroperasi.“Jadi harusnya 2010 Kandang Ayam dilarang di Kota Serang. Ternyata dapat kompensasi atau disinsentif 5 tahun persiapan sebelum pindah. Tahun 2015, dapat disinsentif lagi sampai 2018. Tahun ini harusnya sudah pindah. Eh malah dapat disinsentif lagi,” ujar Ridho kepada awak wartawan.

Ia juga menyebutkan kekumuhan di Kota Serang hingga kini masih ada. Menurutnya, Pemkot Serang telah gagal untuk menyelenggarakan permukiman dan perkotaan yang nyaman bagi warganya. “Pemkot juga gagal menyosialisasikan pengelolaan sampah ke masyarakat. Sampah banyak menumpuk dimana-mana membuat drainase dan sungai yang ada di Kota Serang tersumbat. Adapun Kegiatan sosialisasi yang ada, hanya dijadikan seremonial semata,” tegas dia.

Ridho menuturkan, masalah kekeringan di Kasemen yang berlarut-larut pun menjadi sorotan. Ia menilai Pemkot Serang gagal menyediakan air bersih bagi warganya. Sehingga, sebagian warga Kasemen sepanjang tahun harus membeli air. Sedangkan PDAB Tirta Madani tidak sanggup memenuhi kebutuhan masyarakat. “Belum lagi penataan kota yang makin tidak jelas. Tidak memiliki grand design tata kota. Sehingga yang ada semakin semerawut,” tuturnya.

Oleh karena itu, ia mengibaratkan kepemimpinan Syafrudin-Subadri seperti lilin yang menyala. Ia menjelaskan, lilin pada awalnya menyala terang dan menjulang tinggi. Namun semakin lama, lilin tersebut akan semakin pendek dan padam.“Makanya, kami sengaja membakar puluhan lilin sebagai refleksi bahwa Aje Kendor saat ini hanya tersisa kendornya saja,” jelas dia.

Menanggapi hal itu, Wakil Walikota Serang Subadri Ushuludin mengaku berterima kasih banyak atas kritikan mahasiswa yang ditujukan pada pemerintahannya. Menurutnya, kritikan tersebut akan menjadikannya semakin terpacu dalam menuntaskan program kerja selama kepemimpinannya bersama Walikota Syafrudin.“Terima kasih banyak atas kritikannya, karena kritikan itu yang membuat semangat kita menuju Kota Serang ke arah yang lebih baik,” ujar Subadri.

Ia mengungkapkan, dirinya sejak dilantik bersama Syafrudin mempunyai niatan ingin berbuat yang terbaik untuk Kota Serang. Namun membawa Kota Serang ke arah yang lebih baik rupanya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Meski demikian, Subadri menyebutkan, ada beberapa program unggulan dan program mendesak yang sudah direalisasikan salah satu contohnya adalah relokasi PKL.

“Relokasi PKL itu satu bentuk upaya dalam rangka membawa Kota Serang kearah yang lebih rapih dan indah. Tapi karena di perjalanannya dalam penyediaannya kiosnya yang memang sudah, listriknya yang belum. Kan ada pihak-pihak yang terkait. Jadi mungkin belum maksimal emang iya, tapi Pemkot mempunyai program yang jelas, yang benar-benar ril dari A ke B ke C nya ril,” ungkap dia.

Terkait tempat hiburan yang berujung maksiat di Kota Serang, Subadri mengaku Pemkot Serang berkomitmen disamping belum adanya regulasi yang mengatur, pihaknya pun tidak pernah mengizinkan adanya tempat hiburan beroperasi di Kota Serang.

“Semenjak saya jadi ketua dewan sampai saya jadi wakil walikota dan pak wali jadi walikota, kami tidak pernah mengizinkan adanya pusat hiburan yang berujung kemaksiatan di Kota Serang. Langkahnya sudah kami lakukan sudah ditutup, kalaupun mereka buka kembali ya dableg aja. Gak saling menghargai,” akunya.

Selain itu, masih kata dia, upaya lainnya yang dilakukan oleh Pemkot Serang adalah meningkatkan sarana prasarana dari sisi sarana prasana sekolah, ruang kelas baru (RKB), dan unit sekolah baru (USB), meskipun belum signifikan karena terbentur anggaran yang terbatas.

“Ya intinya terima kasi banyak atas kritikan, atas masukan, ya kita bersama-samalah. Kota Serang akan lebih baik, Kota Serang akan lebih maju, kalau diawali sebuah kebersamaan. Kebersamaan itu diawali dari mahasiswa, masyarakat, dan semua stakeholder harus terlibat. Jadi kami tidak mengklaim sudah berhasil. Kami sadar belum bisa maksimal, belum bisa memberikan yang terbaik, tapi upaya menuju Kota Serang baik kami akan tata sekalipun secara pelan-pelan,” tegas dia. (harir/rahmat)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook