Camat Ciomas Dinilai Tak Bisa Kerja

nurul roudhoh   |   Serang Raya  |   Jumat, 06 Desember 2019 - 14:06:59 WIB   |  dibaca: 1303 kali
Camat Ciomas Dinilai Tak Bisa Kerja

TIDAK MEMUASKAN: Wakil Bupati Serang Pandji Tirtayasa menyerahkan bendera hitam kepada perwakilan Kecamatan Ciomas, Kamis (5/12).

SERANG, BANTEN RAYA – Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Serang menggelar Rapat Evaluasi Pengelolaan Pajak Bumi dan Bangunan Perkotaan dan Perdesaan (PBB-P2) Semester II tahun 2019. Dalam rapat itu, Wakil Bupati Serang Pandji Tirtayasa menyoroti kinerja Camat Ciomas Edi Suhardiman karena capaian PBB-P2 Kecamatan Ciomas paling rendah yaitu baru tercapai Rp32,8 juta dari ketetapan Rp125,7 juta atau paling terendah dari kecamatan-kecamatan yang lain.

Selain Camat Ciomas, Pandji juga menilai Camat Tirtayasa Sadik dan Camat Puloampel Taufik tidak bisa bekerja karena dua kecamatan tersebut capaian PBB-P2nya masih rendah. Untuk Kecamatan Tirtayasa dari ketetapan Rp287 juta baru tercapai Rp85 juta atau terendah kedua. Sedangkan Kecamatan Puloampel dari ketetapan Rp14,6 miliar baru tercapai Rp4,4 miliar atau terendah ketiga. Pada kesempatan itu Kecamatan Ciomas diberi bendera hitam.

“Yang capaiannya di bawah 40 persen mestinya dikasih bendera hitam karena enggak bisa bekerja. Pemberian bendera itu sangsi moral. Kita tidak dalam kontek menghukum tapi paling tidak itu sebagai warning kinerja yang bersangkutan (Edi Suhardiman-red) tidak terlalu bagus, makanya kita kasih simbol dengan bendera hitam bagi yang persentasinya realisasi PBBnya paling rendah,” ujar Pandji di aula Tb Suwandi, Pemkab Serang, Kamis (5/12).

Sedangkan terkait dengan capaian PBB-P2 Kecamatan Puloampel yang masih rendah, Pandji menjelaskan, camat yang saat ini menjabat bisa saja dievaluasi dan digantikan dengan camat yang mampu bekerja dengan baik. “Puloampel itu potensi PBBnya luar biasa, kalau potensi PBBnya bagus tapi capaiannya rendah bisa kita evaluasi. Kita cari camat seperti apa yang bisa menduduki camat Puloampel, bukan camat-camat yang biasa saja,” katanya.

Pandji mengaku belum mendapat penjelasan terkait masih rendahnya capaian PBB di Kecamatan Ciomas dan Kecamatan Puloampel tersebut karena baik Edi Suhardiman maupun Taufik tidak hadir dalam rapat evaluasi tersebut. “Kita belum tahu kenapa realisasinya kecil karena camatnya tidak hadir dan perwakilannya juga tidak ada untuk Puloampel dan untuk Ciomas hanya perwakilannya yang hadir. Jadi kita belum mendapat penjelasan,” tuturnya.

Ia mengapresiasi kinerja Camat Kragilan Epon Anih Ratnasih dan Camat Kibin Imron karena kedua kecamatan tersebut capaiannya paling tinggi. “Untuk Kragilan dari ketetapan Rp7,2 miliar tercapai Rp6,9 miliar makanya dikasih reward bendera putih. Kemudian Kecamatan Kibin dari ketetapan Rp19,066 miliar tercapai Rp17,666 miliar. Sengaja tadi (kemarin-red) kita cek untuk mengetahui kinerja masing-masing camat,” paparnya.

Kepala Bapenda Kabupaten Serang Deddy Setiadi mengatakan, sampai saat ini realisasi PBB-P2 dari ketetapan Rp65,5 miliar sudah tercapai 97 persen. “Kalau masih ada yang belum bayar mungkin tingkat kesadaran masyarakatnya (untuk membayar-red) yang belum optimal. Menurut kajian kita baru sekitar 60 persen kesadarannya tapi setiap tahunnya selalu meningkat. Tahun ini desa yang lunas PBB ada 17, kalau tahun lalu 14 desa,” ungkapnya.

Untuk meningkatkan pendapatan PBB-P2 pihaknya terus melakukan penilaian individual, salah satunya terhadap PT Lestari Banten Energi (LBE) di Kecamatan Puloampel. “LBE itu setelah dilakukan penilaian harus ada penambahan Rp9 miliar. Untuk target tahun ini insya Allah dengan ada sisa waktu masih bisa tercapai. Potensi pajak kita sebenarnya 10 kali lipat dari yang ditetapkan sekarang,” katanya. (tanjung/fikri)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook