Puluhan Tahun Janim dan Atik Tinggal di Gubuk Bambu

nurul roudhoh   |   Metro Tangerang  |   Jumat, 06 Desember 2019 - 14:23:10 WIB   |  dibaca: 155 kali
Puluhan Tahun Janim dan Atik Tinggal di Gubuk Bambu

TAK DAPAT RASKIN : Pasangan suami istri warga Kecamatan Teluknaga hidup digubuk reyot, kemarin.

KAB TANGERANG, BANTEN RAYA- Ternyata masih banyak warga Kabupaten Tangerang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kondisi itulah yang sedang menimpa pasangan suami dan istri (pasutri) Janim (70) dan Atik (65), warga Kampung Melayu Barat, Desa Kampung Melayu Barat, Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang. Sejak menikah dan dikarunia dua anak, Janim dan Atik hidup di gubuk rumah bambu dengan lantai dari tanah. Sementara atap rumah terbuat dari daun kelapa ukuran 7 x 4 meter.

Janim bekerja sebagai buruh tani. Sementara istrinya sebagai ibu rumah tangga. Beberapa kali dia mengusulkan akan mendapat program bedah rumah dari pemerintah desa dan Pemkab Tangerang, namun, tidak kunjung ada respons dan jawaban.

Kondisi gubuk bambu yang ditempati pasutri ini tidaklah nyaman. Rumah sangat sempit, tidak ada ruang bercengkerama bahkan nyaris tidak ada barang berharga. Kasur kempis pemberian tetangga menjadi tempat tidur paling nyaman buat mereka.

Lubang-lubang menganga dari atap rumah. “Jika hujan, air masuk dari berbagai sisi. Mulai dari atap, dinding, hingga dari amper, karena terbuat dari atap daun kelapa,” papar Janim kepada wartawan di rumahnya, Kamis (5/12).

Janim mengatakan, sekitar 20 tahun lebih dirinya harus tinggal di gubuk bambu. Saat hujan turun, rumah itu tidak bisa ditempati. Karena mengalami bocor. “Basah semua kalau hujan turun,” ujarnya.

Meski hidup miskin selama puluhan tahun, pasutri itu tidak pernah mendapat bantuan apa pun dari pemerintah. Bantuan raskin hanya menjadi cerita tetangga. Mereka tidak pernah mencicipi. Kemudian, jaminan kesehatan gratis juga tidak pernah menyentuh keluarga miskin ini. Program keluarga harapan (PKH) yang menjadi andalan pemerintah pusat juga tidak pernah menyentuh. “Saya berharap pemerintah mau membantu,” harapnya.

Sementara itu, Ketua RT 003/07 Desa Kampung Melayu Barat, Obes mengungkapkan, pasangan suami istri Janim dan istrinya Atik ini, merupakan penduduk asli yang sudah tinggal sejak puluhan tahun silam. Meski sudah mengetahui kondisi kesusahan Janim dan keluarganya, Obes juga mengaku tidak bisa berbuat banyak untuk membantu, karena kurang mendapatkan sosialisasi mengenai penanganan warga miskin dari pemerintah setempat. "Pak Janim asli penduduk sini, kondisi seperti ini sudah lama, cuma saya juga bingung mau lapor ke siapa, karena saya juga tidak tahu kemana dan bagaimana cara mengatasinya," kata Obes.

Obes juga berharap, ada pihak-pihak yang mau peduli dan membantu kesulitan warganya tersebut. "Saya sangat berharap ada yang dapat membantu, karena saya sendiri tidak bisa membantu," ungkapnya.

Camat Teluknaga Supriyadinata merespons cepat adanya informasi warganya yang tinggal di gubuk reyot. Supriyadi bersama Sekretaris Kecamatan, dan Kepala Desa Kampung Melayu Barat, langsung mendatangi lokasi dan meninjau langsung keadaan Janim dan keluarga. "Setelah kami mendapatkan informasi, kami langsung ke sini (rumah Janim -red), dan kalau melihat kondisi Pak Janim dan keluarga memang cukup memperihatinkan dan layak untuk dibantu," kata dia.

Supriyadi berjanji akan segera memperbaiki rumah Janim yang kondisinya sudah tidak layak huni. "Kami akan musyawarahkan bersama dengan kepala desa agar secepatnya diberikan bantuan dan rumah Pak Janim juga bisa diperbaiki agar lebih layak untuk dihuni," ujarnya.

Terpisah, Subur Maryono yang baru saja terpilih sebagai Kades Kampung Melayu Barat pada Pilkades 2019 kemarin, berjanji akan lebih memperhatikan kesejahteraan warga serta memberantas kemiskinan di Desa Kampung Melayu Barat. "Insya Allah, kami akan langsung bekerja, fokus utama kami adalah kesejahteraan masyarakat dan mengentaskan kemiskinan, saya mohon doa dan dukungan dari semua pihak, semoga semua bisa berjalan lancar," katanya. (imron)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook