SMP dan SMK Tawuran, Satu Tewas

nurul roudhoh   |   Metro Tangerang  |   Jumat, 06 Desember 2019 - 15:30:27 WIB   |  dibaca: 366 kali
SMP dan SMK Tawuran, Satu Tewas

MENYESAL : Tersangka MF (14) tertunduk dan meneteskan air mata saat dihadirkan dalam konferensi pers di Mapolsek Pasar Kemis, Kamis (5/12).

KAB TANGERANG, BANTEN RAYA-  Tawuran antar pelajar kembali terjadi di Kabupaten Tangerang. Kali ini antara SMPN 2 Rajeg dan SMK Yapintek yang terjadi di Jembatan Vila Tomang Baru, Desa Gelam Jaya, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, kemarin. Akibatnya Endi Berliansyah (16), siswa kelas X SMK Yapintek terkena sabetan senjata tajam (sajam) jenis celurit hingga tewas. Setelah dilakukan peyelidikan, Kepolisian Sektor (Polsek) Pasar Kemis menetapkan satu tersangka berinisial MF (14), yang merupakan siswa SMPN 2 Rajeg.

Kapolsek Pasar Kemis AKP Bambang Supeno menjelaskan, tawuran antara pelajar SMPN 2 Rajeg dan SMK Yapintek yang terjadi di Jembatan Vila Tomang Baru, Desa Gelam Jaya akibat dendam lama yang belum terbalaskan. Kedua sekolah tersebut sering melakukan tawuran sebelumnya.

Namun peristiwa tawuran terakhir, kemarin mengakibatkan seorang siswa SMK Yapintek, Endi Berliansyah tewas terkena sabetan cerulit. “Motifnya dendam, korban (Endi Berliansyah_red), tewas setelah mendapatkan perawatan intensif di RSUD Kabupaten Tangerang,” kata Bambang kepada wartawan saat konferensi pers di Polsek Pasar Kemis, Kamis (5/12).

Menurut Bambang, awalnya pihaknya sempat mengamankan puluhan siswa SMPN 2 Rajeg. Namun setelah mendapatkan keterangan beberapa saksi, dan alat bukti, pihaknya menetapkan satu siswa SMPN 2 Rajeg berinisial MF (14) sebagai tersangka. “Tersangka ini yang membacok korban hingga tewas. Dan hanya tersangka yang membawa cerulit saat tawuran itu, yang lain hanya membawa kayu dan batu,” tuturnya.

Bambang menambahkan, akibat perbuatannya, pelaku diancam pasal 80 ayat (2) Undang-undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahaan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. “Ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara,“ ujarnya.

Di hadapan polisi, tersangka berinisial MF (14) mengaku perbuatanya. Menurut MF, perbuatan tidak terpuji yang dilakukannya tersebut dilandasi dendam karena saat tawuran sebelumnya ada salah satu siswa SMPN 2 Rajeg terkena sabetan sajam oleh SMK Yapintek, meskipun tidak meninggal dunia. “Teman saya pernah kena bacok sama siswa SMK Yapintek. Mangkanya saya dendam,” katanya.

Saat tawuran terjadi, lanjut MF, dirinya diajak oleh temannya untuk tawuran dengan SMK Yapintek. Tawuran itu terjadi setelah pulang sekolah. “Yang saya tahu, korban itu merupakan teman yang membacok teman saya. Saya menyesal melakukan tawuran, saya khilaf sudah membacok,” katanya.

Sementara itu, paman korban, Hendi Pandiansyah mengucapkan terimakasih kepada kepolisian yang sudah menangkap tersangka pembacokan yang mengakibatkan keponaknya meninggal dunia. Pihak keluarga, lanjut Hendi, meminta kepolisian memberikan hukuman yang setimpal atas perbuatan tersangka.

Selain itu, Hendi mengimbau, kepada seluruh siswa di Kabupaten Tangerang untuk tidak melakukan tawuran karena perbuatan itu tidak bermanfaat dan merugikan baik yang kalah dan yang menang. “Saya berharap, cukup keponakan saya yang menjadi korban tawuran. Untuk itu, saya minta kepada seluruh pelajar agar tidak terlibat tawuran, belajar yang baik untuk mengejar cita-cita,” ujarnya.

Terpisah, Kapolresta Tangerang AKBP Ade Ary Syam Indardi menyatakan bahwa Kabupaten Tangerang saat ini dalam status darurat tawuran antar pelajar. Ade mengatakan, darurat tawuran dinyatakan setelah tewasnya pelajar SMP Pembangunan Tigaraksa saat tawuran di kawasan Olek, Desa Cisereh, Kecamatan Tigaraksa, dan SMK Yapintek Pasar Kemis.

"Tawuran antar pelajar di wilayah hukum Polresta Tangerang semakin meresahkan masyarakat. Ini masuk darurat tawuran," kata Ade di Mapolresta Tangerang. Status darurat tawuran di wilayah hukum Polresta Tangerang tersebut, lanjut Ade, juga dilihat dari dua kasus tawuran yang merenggut nyawa pelajar selama kurun waktu tiga minggu terakhir. "Selama tiga minggu saya bertugas, sudah ada dua pelajar yang meninggal akibat tawuran," jelasnya.

Ade juga telah meminta anggotanya untuk aktif bersosialisasi ke sekolah-sekolah untuk meredam situasi balas dendam di kalangan pelajar. Salah satunya dengan menjadi pembina upacara di setiap SMP dan SMA.  “Hal ini untuk menekan angka tawuran pelajar di wilayah Kabupaten Tangerang dan sekitarnya,” katanya. (imron)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook