Bupati Geram ke Pemilik PT Semarang

nurul roudhoh   |   Lebak  |   Sabtu, 14 Desember 2019 - 09:54:03 WIB   |  dibaca: 40 kali
Bupati Geram ke Pemilik PT Semarang

KUMUH: Akses jalan di kawasan lahan milik PT Semarang di Kampung Kongsen, Kecamatan Rangkasbitung nampak kumuh, Jumat (13/12).

LEBAK, BANTEN RAYA- Bupati Iti Octavia Jayabaya geram terhadap PT Semarang yang menghambat Pemkab Lebak dalam menata kawasan kumuh di Rangkasbitung, tepatnya di Kampung Kongsen, Kelurahan Muara Ciujung Barat, Kecamatan Rangkasbitung. Bupati kesal karena karena PT Semarang menguasai lahan kurang lebih 10 hektare tetapi disewakan kepada pihak lain.

"Pemilik PT Semarang (eks pabrik minyak Rangkasbitung) yang memiliki lahan seluas 10 hektare sulit ditemui. Kondisi itu menghambat kita dalam melaksanaan penataan kota," kata Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya dengan nada kesal, Jumat (13/12).

Bupati menegaskan, PT Semarang disebut menghambat karena lahan miliknya seluas 10 hektare lebih yang berada di pusat kota tidak dikelola oleh sendirinya. Lahan tersebut disewakan kepada pihak lain. "Padahal kawasan paling kumuh di situ. Namun karena lahannya gak bisa kita bebaskan sehingga belum bisa ditata dan rapikan," katanya.

Status lahan masih lahan milik PT Semarang, sementara pemilik belum menghibahkan atau menyerahkan menjadi kendala Pemda. "Lahan PT Semarang statusnya HGU (hak guna usaha) tapi tak dikelola oleh pemiliknya. Kita juga sedang berupaya mencarikan solusi untuk dapat mengelola lebih lanjut karena proses penataan dan pembangunan ketika status lahan sudah menjadi milik pemda," katanya.

Koordinator Presedium MD Kahmi Lebak Asep Sunandar mendukung Bupati Lebak untuk dapat mengambil alih lahan HGU PT Semarang. "Saat ini sudah menjadi keharusan termasuk lahan HGU PT PN VIII seluas 59 yang telah diminta oleh bupati sejak tahun 2014. Lahan HGU harus segera diambil alih karena lokasinya berada di pusat kota sehingga menyulitkan Pemda Lebak dalam melaksanakan pengembangan wilayah perkotaan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya.

Asep menyambut positif langkah bupati yang bersikukuh mengambil alih pengelolaan lahan HGU. Terlebih sekarang ini kawasan pusat perekonomian warga Lebak tepatnya di Rangkasbitung sudah dipersempit seiring pembangunan layanan kereta api double track dan perluasan lahan parkir PT KAI.

"Ratusan permukiman dan pedagang digusur oleh PT KAI. Sementara lahan untuk merelokasinya tidak dipersipakan karena memang pemkab tidak memiliki lahan luas dan representatif yang ada semuanya dikuasai oleh PT yang statusnya HGU yang sudah habis masa kontraknya namun tidak kunjung diserahterimakan, sehingga kami selaku warga Lebak merasa terpanggil dan mendesak PT Semarang maupun PT PN VIII segera menyerahkan lahan kepada Pemkab Lebak karena akan dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat banyak," katanya. (purnama/rahmat)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook