Pedagang Pasar Kalodran Dipalak Rp 300 Ribu

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Rabu, 15 Januari 2020 - 12:19:45 WIB   |  dibaca: 93 kali
Pedagang Pasar Kalodran Dipalak Rp 300 Ribu

PERPANJANGAN: Salah satu kios di Pasar Kalodran, Selasa (14/1). Kios-kios ini konon akan dikenai biaya perpanjangan kontrak yang tidak berdasar oleh oknum.

SERANG, BANTEN RAYA- Pedagang di Pasar Kalodran, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, mengaku dipalak oleh oknum yang mengatasnamakan petugas pengelola pasar, sebesar Rp 300 ribu per kios. Oknum tersebut mengaku atas perintah dari Dinas Perdagangan Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Serang. Oknum peminta uang ini mengatakan bahwa uang itu digunakan sebagai uang perpanjangan kios.

Salah seorang penjual di Pasar Kalodran yang tidak mau disebutkan identitasnya mengatakan bahwa oknum yang meminta uang itu menyatakan akan meminta uang perpanjangan kios pada Januari 2020 ini. Namun sampai saat ini ia sendiri belum memberikan uang kepada oknum tersebut.“Uang sebesar itu dari mana saya?” kata pedagang ini kepada Banten Raya, Selasa (14/1).

Pedagang ini menyatakan bahwa pada tahun-tahun sebelumnya, oknum ini memang pernah juga menyatakan akan menarik uang perpanjangan kios. Namun sampai dengan akhir tahun 2019 rencana itu tidak terealisasi. Ia mengaku tidak tahu apakah sang oknum ketakutan atau memang ada perintah agar tidak memungut uang tersebut.

Pedagang ini mengaku meragukan uang perpanjangan kios sebesar Rp 300 ribu itu. Karena itu bila ia diminta lagi, ia akan meminta surat perintah atau instruksi dari Dinas Perdagangan Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Serang, sebagai bukti bahwa benar ada perintah dari dinas terkait.“Dasar hukumnya harus jelas karena ini menyangkut uang yang tidak sedikit,” katanya.

Selain soal uang perpanjangan kios, kata pedagang ini, sejumlah pedagang di Kalodran juga mengeluhkan retribusi yang akan naik dua kali lipat. Ia menyebutkan ada tiga uang retribusi yang setiap hari dibayar oleh para pedagang. Retribusi pengangkutan sampah Rp 1.000, retribusi sampah Rp 1.000, dan retribusi harian atau salar pasar dan pedagang kaki lima (PKL) Rp 2.000.“Jadi kalau naek saya harus bayar Rp 8.000 per hari,” katanya.

Pedagang lain yang juga tidak mau disebutkan namanya mengatakan bahwa ia yang berjualan sayur-mayur hanya untung Rp 1.000 sampai Rp 2.000. Jika ada kenaikan retribusi, maka untung yang hanya sedikit akan berkurang dengan adanya kenaikan itu.“Seharusnya kalau buat pedagang kecil mah enggak usah naek,” katanya.

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Serang Yoyo Wicahyono mengatakan bahwa tidak ada instruksi atau kebijakan dari Pemkot Serang terkait uang perpanjangan kios. Karena itu, ia pastikan hal itu merupakan sebuah pelanggaran dan dilakukan oleh oknum yang ingin mengeruk keuntungan.“Yang perpanjangan sewa tidak ada itu. Itu yang nagihnya catet aja namanya,” katanya.

Sementara terkait kenaikan retribusi, ia membenarkan akan ada kenaikan mulai 1 Januari 2020 ini. Kenaikan retribusi yang semula hanya Rp 2.000 menjadi Rp 4.000. Ia beralasan kenaikan itu terjadi karena dalam peraturan daerah nomor 13 tahun 2011 tentang retribusi pasar telah diubah menjadi perda nomor 2 tahun 2019.

Dalam perda yang baru itu, retribusi pasar juga sudah mengalami kenaikan.“Kan sudah dipasang pengumumannya di spanduk sudah berbulan-bulan,” katanya.Yoyo menyatakan target retribusi naik untuk tahun 2020 sehingga pihaknya juga menaikkan retribusi untuk para pedagang di seluruh pasar tradisional yang ada di Kota Serang. (tohir)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook