Pemprov Carikan Gurandil Pekerjaan Alternatif

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Kamis, 16 Januari 2020 - 14:20:54 WIB   |  dibaca: 121 kali
Pemprov Carikan Gurandil Pekerjaan Alternatif

SERANG, BANTEN RAYA – Pemprov Banten mulai mencarikan mata pencaharian alternatif bagi gurandil atau penambang emas ilegal di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Hal itu dilakukan agar mereka tak kembali lagi menambang. Sebab, kini pemprov bersama Polda Banten akan menutup paksa semua lokasi tambangnya.

Gubernur Banten Wahidin Halim mengatakan, selain proses penegakan hukum, pemprov juga kini mulai merumuskan dampak sosial penertiban bagi para gurandil. Pemprov  kini mulai mencari mata pencaharian alternatif bagi para gurandil akan tak kembali ke profesi awalnya.“Ini yang kita rumuskan, bidang-bidang kerja apa yang mereka (cocok),” ujar pria yang akrab disapa WH ini di Pendopo Gubernur Banten, KP3B, Kecamatan Curug, Kota Serang, Rabu (15/1).

Mantan Camat Tigaraksa, Kabupaten Tangerang itu menuturkan, pemprov ingin mengkajinya secara dalam karena pengalihan profesi para gurandil sangat sulit dilakukan. Sebab, kemampuan mereka mendulang emas diperoleh sejak berabad-abad lalu dan terus diwariskan pada keturunannya.“Tapi enggak gampang mengalihkan profesi itu, kebiasaan bubukin gunung dapat emas, sekarang bubukin apa,” katanya.  

Selain itu juga, kata dia, tak mudahnya gurandil beralih profesi dikarenakan dari kegiatan mereka itu memiliki penghasilan yang tinggi. Dari lima orang penambang dalam, masing-masing bisa memeroleh Rp400.000 sekali tambang. Meski demikian, penertiban tambang ilegal tetap harus dilakukan jika melihat dampak negatif yang ditimbulkannya.“Tetapi tentu kita lihat juga tingkat mudaratnya, akibatnya, dampaknya kan. Seperti misalnya banjir, orang terpapar merkuri,” ungkapnya.  

Terkait penertiban tambang ilegal, WH menegaskan telah dilakukan. Bahkan, Polda Banten telah menyegel sejumlah tambang emas ilegal. Pihaknya bersama Polda Banten tak akan kalah dengan para gurandil. Mereka akan terus datang andai gurandil kembali membuka tambangnya.“(Dipasang) police line (garis polisi-red) karena begitu dioperasi mereka enggak ada, kabur semua, takut. Dengan kita datang tidak menambang sudah ada tingkat kepatuhan dia. (Jika tetap menambang) kita balik lagi, tindak lagi,” tuturnya.

Untuk memberikan efek jera, siapa yang bertanggung jawab terhadap tambang ilegal akan diproses hukum. Tak hanya gurandilnya saja tapi juga para pemodal hingga pemasok alat bantunya.“Sekarang tempat produksi (tambang ilegal-red) diperiksa kan. Tidak hanya gurandil, tapi yang membiayai, menjual merkuri, kan sudah dicatat polisi. Polda lagi mencatat, wilayahnya kita inventarisasi,” ujarnya.  

Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Banten Eko Palmadi mengaku, terkait penanggulangan penambangan liar pihaknya telah melakukan berbagai upaya. Mulai dari upaya persuasif hingga represif. Meski demikian, upaya tersebut belum juga membuahkan hasil seperti yang diharapkan.“Dulu ada namanya penanganan penambangan yang ramah lingkungan. Dia tidak menggunakan merkuri, dia menggunakan alat sederhana. Akan tetapi setelah dipindahin ke situ enggak efektif, orang-orangnya balik lagi. Kalau menurut dia yang menghasilkan ada di tempat lain bagaimana? masa iya mau gali terus di situ,” ujarnya.

Sebelumnya, Eko juga mengungkapkan pihaknya bersama pihak berwajib pernah mencoba menutup paksa tambang ilegal. Akan tetapi yang terjadi penambang liar memberikan perlawanan yang tak kalah hebat.“Ini pengalaman pribadi tahun 2003. Kita mau lakukan operasi, waktu itu Lebak, itu masih ada Dinas Pertambangannya. Kita membawa polisi, bawa tentara, bawa Satpol PP. Begitu datang ke sana ada ribuan orang, mengadang bawa golok, ada yang mau bakar mobil. Terus bagaimana coba? ditembakin jadi masalah, HAM urusannya, terus mau diapakan coba,” paparnya.  

Diberitakan sebelumnya, Pemprov Banten mencatat ada seratusan lebih lubang tambang emas ilegal di kawasan TNGHS perbatasan Bogor, Jawa Barat dan kabupaten Lebak, Banten. Keberadaan aktivitas di hutan lindung itu disinyalir menjadi penyebab terjadinya banjir bandang yang melanda Lebak pada 1 Januari lalu. (dewa)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook