Museum yang Memanjakan Panca Indera

nurul roudhoh   |   Hiburan  |   Sabtu, 18 Januari 2020 - 11:01:38 WIB   |  dibaca: 215 kali
Museum yang Memanjakan Panca Indera

Bila pada umumnya museum hanya bisa dinikmati oleh mereka yang secara panca indera lengkap, Museum Multatuli mendobrak kebiasaan itu. Di museum ini semua orang, baik yang panca inderanya normal maupun yang tidak berfungsi dengan baik, bisa menikmati apa yang disuguhkan museum.

Menurut Umaira Pambayun, kurator Museum Multatuli, koleksi museum sebisa mungkin dibuat agar dapat merangsang semua panca indera manusia, seperti melihat (tabel, tulisan, gambar), mendengar (audio, video), meraba (touch screen tentang surat Multatuli, buku), dan mencium (aroma kopi dan rempah-rempah seperti cengkeh, pala). Dengan demikian, para difabel juga memiliki kesempatan menikmati museum tersebut.

Museum Multatuli diambil dari nama seorang penulis roman berjudul “Max Havelaar: Maskapai Dagang Kopi Hindia-Belanda” bernama sama, yaitu Multatuli. Multatuli adalah nama pena (nama samaran) dari Eduard Douwes Dekker yang lahir pada 2 Maret 1827 dan meninggal dunia 19 Februari 1887.

Terdapat 7 ruang dalam Museum Multatuli yang memiliki alur cerita dari mulai selamat datang (menjelaskan siapa Multatuli), awal mula kolonialisasi di Hindia Belanda, tanam paksa, ruang Multatuli, Banten, Lebak, dan temporary museum. Jadi, museum ditata dengan alur dari yang umum ke yang khusus.

Alasan mengapa Museum Multatuli didirikan, karena Multatuli, melalui buku roman yang dibuatnya, memiliki pengaruh besar pada masyarakat Nusantara, khususnya Lebak, yang saat itu masih dalam penjajahan Belanda. Dengan lahirnya roman Max Havelaar kemudian memicu perubahan perlakuan Belanda pada masyarakat pribumi. Salah satunya adalah lahirnya politik etis bagi pribumi.

Selain itu, Museum Multatuli yang diresmikan 11 Februari 2018 oleh Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya itu juga bertujuan sebagai destinasi wisata kota. Ini sejalan dengan visi misi Bupai Lebak saat itu yang sedang gencar mempromosikan wisata dengan jargon Visit Lebak.“Di dunia ada dua Museum Multatuli. Pertama ada di Amsterdam yang kedua ada di Lebak,” kata  Umaira.

Isi museum
Di dalam museum pengunjung bisa menikmati bagaimana awal mula kedatangan Belanda ke Nusantara. Ada fil dokumenter berdurasi 2 menit 43 detik yang menceritakan tentang kedatangan Belanda ke Banten. Ada juga replika kapal De Batavia, yang digunakan oleh Cornelis De Houtman, datang ke Banten menggunakan 4 buah kapal pada tahun 1596 melalui Selat Malaka.

Ada juga displayberbagai rempah-rempah seperti lada, pala, cengkeh, dan kayu manis. Rempah-rempah ini sengaja ditampilkan karena bangsa Eropa masa lalu datang ke Nusantara untuk mencari rempah-rempah ini yang saat itu merupakan komoditas yang sangat digemari dan harganya cukup mahal.

Pengunjung juga bisa mempelajari sejarah (tentu dengan sangat singkat) bagaimana perjuangan masyarakat Banten dahulu dalam merebut kemerdekaan. Mulai dari kisan Nyimas Gamparan sampai Geger Cilegon.

Yang juga bisa dinikmati adalah perjalanan awal pembentukan Lebak sampai saat ini serta potensi yang dimiliki Lebak. Terdapat salinan surat keputusan Komisaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Hindia Belanda Nomor 1, Staatsblad nomor 81 tahun 1828 tentang pendirian Lebak. Serta kain tenun Baduy sebagai salah satu kekayaan Lebak.

Ada juga roman “Max Havelaar” yang asli, yang didatangkan langsung dari Belanda. Juga roman “Max Havelaar” yang sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa. Pengunjung bisa membaca buku-buku ini. Ada juga foto sejumlah tokoh yang terpengaruh oleh roman “Max Havelaar”, seperti Pramoedya Ananta Toer dan Sukarno.

Rute ke lokasi
Bagi masyarakat di luar Lebak, mendatangi Museum Multatuli paling asyik dengan menggunakan kereta api. Bagi masyarakat Serang, bisa naik kereta dari Stasiun Serang menggunakan kereta api lokal tujuan Rangkasbitung. Harga tiketnya hanya Rp3.000 per orang.

Sampai di Stasiun Rangkasbitung, cukup naik angkutan umum nomor 07 yang menuju Alun-alun Rangkasbitung. Sebab posisi Museum Multatuli berada di samping alun-alun. Kita bisa berjalan kaki dari lokasi angkutan umum menurunkan kita atau kita meminta sopir menurunkan kita tepat di depan museum. Ongkos dari stasiun ke museum hanya Rp5.000 per orang. (tohir)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook