1.000 Ha Lahan Karian Mentok

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Sabtu, 18 Januari 2020 - 11:31:04 WIB   |  dibaca: 316 kali
1.000 Ha Lahan Karian Mentok

DIKEBUT : Gubernur Banten Wahidin Halim (kanan) bersama Sekda Banten Al Muktabar memimpin rapat progres PSN di Banten di Pendopo Gubernur Banten, KP3B, Kecamatan Curug, Kota Serang, Jumat (17/1).

SERANG, BANTEN RAYA – Sekitar 1.000 hektare (Ha) bakal lahan Bendungan Karian di Kabupaten Lebak hingga kini belum terbebaskan. Sebagian besar lahan tersebut berlokasi di enam desa  terdampak banjir bandang dan longsor yang menerjang pada awal tahun ini. Demikian terungkap dalam rapat proyek strategis nasional (PSN) di Pendopo Gubernur Banten, KP3B, Kecamaatn Curug, Kota Serang, Jumat (17/1).

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciujung, Cidanau, Cidurian (BBWSC3) Tris Raditian mengatakan, pembangunan bendungan besar tersebut hingga kini masih terus dilakukan. Selain mengejar progres fisik, pihaknya juga sedang menggenjot proses pembebasan lahannya yang baru teralisasi sebesar 54,74 persen.“Karian belum selesai, (target rampung) nanti 2021. Sekarang progresnya 57 persen, untuk pembebasan (lahan) 54,74 persen, jadi yang belum 1.000an hektare lagi,” ujarnya.  

Seperti diketahui, Bendungan Karian sendiri membutuhkan lahan seluas 2.226 hektare. Waduk Karian memiliki luas genangan 1.740 hektare dengan daya tampung air mencapai 314,7 juta meter kubik, dan kapasitas efektif sebesar 207,5 juta meter kubik. Direncanakan, 9,1 meter kubik per detik air akan mengalir ke rumah tangga, kota, dan industri mulai Kabupaten Lebak, Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang Selatan hingga DKI Jakarta.

Ia menjelaskan, sekitar 1.000 hektare lahan yang belum terbebaskan diantaranya berada di enam desa terdampak banjir bandang dan longsor. Desa-desa itu nantinya memang diproyeksikan sebagai daerah genangan air.“Di hulu dari daerah (Sungai) Ciberang itu memang kemarin banyak yang rusak. Mulai dari (Kecamatan) Sajira ke arah bendungan memang kebetulan ada desa-desa terdampak yang nanti akan menjadi area genangan (bendungan),” katanya.

Terkait kondisi tersebut, kata dia, enam desa terdampak itu kini menjadi prioritas pembebasan lahan. Pihaknya kini mulai melakukan percepatan proses pembebasan. “Jadi itu ada enam desa dan itu sekarang yang dipercepat, untuk bagaimana nanti mengenai pembebasan lahan. Itu kan ada pembebasan lahan dan itu memang daerah yang banyak terkena dampak banjir,” ungkapnya.

Tris mengaku, meski pembangunan Bendungan Karian belum rampung namun dia merasa bersyukur lantaran fisik yang ada mampu meminimalisasi dampak banjir bandang dan lonsgor. Di salah satu bagian bendungan diketahui menahan sampah berupa kayu dan bambu dalam jumlah besar.“Alhamdulillah kemarin bisa tereduksi ya. Sampah-sampah dari hulu itu (luasnya) mencapai 2,5 kilometer, itu sampah kayu dan bambu. Itu kita di atasnya bisa berjalan sampai ketebalan 1,5 meter,” tuturnya.  

Dipaparkannya, saat terjadi bencana, air banjir bandang melewati konstruksi bendungan. Saat itu ketinggain air hampir melewatinya karena hanya berjarak setengah meter lagi dari batas atas konstruksi.“Jadi dengan kondisi itu tinggal setengah meter lagi itu dari ketinggan mau terlewati air. Jadi kita diuntungkan. Bayangkan itu kalau enggak ada, itu sampah sebanyak itu melintasi dari pada Sungai Ciujung, ya pinggir sungai akan banyak yang rusak,” ujarnya.

Lebih lanjut dipaparkan Tris, selain Bendungan Karian, Banten juga memiliki PSN pengairan berupa Waduk Sindangheula di Kabupaten Serang. Untuk progresnnya, pembanguann fisik sudah rampung dan kini telah dilakukan penggenangan.

Diakuinya, meski fisik telah rampung namun masih ada lahan yang belum terbebaskan. Tris menegaskan, lahan yang belum terbebaskan tak akan mengganggu karena berada di luar area genangan.“Progresnya bendungan itu sudah siap, hanya kalau nanti peresmian kita menunggu sesudah penuh airnya. Sekarang sebenarnya ini pengisian itu sudah mulai, jadi sekarang masih cek segala macam,” katanya.

Pemenuhan air diperkirakan akan sudah bisa terisi sesuai target selama tiga bulan ke depan. “Kalau untuk full-nya itu sekitar 10 meteran lagi. Itu kan sekarang lagi dibangun WTP (water treatment plant) juga, untuk air bakunya. Kalau irigasi nanti langsung masuk ke daerah (Sungai) Cibanten,” paparnya.

Berdasarkan catatan Banten Raya, Waduk Sindangheula dapat menampung 10 juta meter kubik air. Bendungan ini dapat mengalir 1.000 hektar irigasi se-Kota Serang dan Kabupaten Serang. Selain itu, bendungan ini juga dapat memenuhi kebutuhan air baku sebesar 0,8 meter kubik per detik.

Sementara itu, Gubernur Banten Wahidin Halim mengatakan, PSN merupakan tanggung jawab bersama. "Harus ada kewajiban, dari pemerintah daerah mendorong program pemerintah pusat untuk kepentingan masyarakat. PSN untuk rakyat juga,"  

Progres PSN, lanjut pria yang akrab disapa WH ini, akan terus didorong agar realisasinya bisa segera dirasakan oleh masyarakat. Dia ingin memastikan keseluruhan PSN di Banten bisa selesai sesuai target pada 2022 mendatang."Pemprov terus melakukan evaluasi untuk mengetahui perkembangan setiap pengerjaan PSN. Evaluasi bersama dilakukan dengan bupati/wali kota yang berwenang pada jalur-jalur lokasi tempat PSN dilakukan, serta membahas solusinya bagaimana agar progresnya semakin baik," ungkap Gubernur.

Sebelumnya diberitakan, terdapat 11 PSN yang berlokasi di Banten. Pertama, Kereta Api Ekspress Soekarno-Hatta-Sudirman (SHIA) Rute KA Bandara Soetta, Tol Serang-Panimbang, Tol Cengkareng-Batu Ceper-Kunciran, Tol Kunciran-Serpong, Tol Serpong-Cinere, Tol Serpong-Balaraja.

Selanjutnya, Waduk Sindangheula, Bendungan Karian, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung, Kawasan Industri Wilmar dan Percepatan Infrastruktur Transportasi Listrik dan Air Bersih untuk 10 Kawasan Strategi Nasional (KSPN) Prioritas. (dewa)

 

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook