Serang Punya 3.687 Janda Baru

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Kamis, 23 Januari 2020 - 14:59:18 WIB   |  dibaca: 355 kali
Serang Punya 3.687 Janda Baru

MAKIN RAMAI : Kantor Pengadilan Agama (PA) Kota Serang di Jalan KH Abdul Hadi, Cipare, Kecamatan Serang, Kota Serang, Rabu (22/1). Dalam data PA, sepanjang 2019 ada 3.687 perceraian di Serang.

SERANG, BANTEN RAYA – Data Pengadilan Agama Kelas I Serang menunjukkan sepanjang tahun 2019 terdapat 3.687 pasangan berperkara perceraian di pengadilan tersebut. Dengan demikian, ada 3.687 janda dan duda baru di Serang.

Ketua Pengadilan Agama Kelas I Serang Dalih Effendy mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2019 lalu ada 3.687 pasangan yang bercerai. Sebagian besar perceraian diajukan oleh pihak perempuan (istri), yang disebut dengan cerai gugat. Sementara perceraian yang diajukan pihak lelaki (suami) yang disebut dengan cerai talak, jumlahnya lebih sedikit.“Cerai gugat 2.955 perkara. Sedangkan cerai talak (suami) 732 perkara,” kata  Effendy, Rabu (22/1).

Effendy mengungkapkan bahwa Pengadilan Agama Serang mengklasifikasi penyebab perceraian ke dalam 14 alasan, di antaranya adalah zina, dipenjara, judi, mabuk, meninggalkan salah satu pihak, ekonomi, poligami, kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT, dan pertengkaran dan perselisihan.

Dari 14 penyebab itu, faktor pemicu perceraian paling tinggi yaitu pertengkaran dan perselisihan dengan 2.263 perkara, disusul KDRT 403 perkara, lalu poligami 182 perkara, dan ekonomi 170 perkara. Sementara faktor penyebab paling sedikit yang mendorong orang mengajukan perceraian yaitu kawin paksa 2 perkara, dihukum penjara 3 perkara, dan murtad 4 perkara.
“Selama 2019 juga tidak ada kasus perceraian akibat zina, madat, dan cacat badan,” kata Effendy.

Pengadilan Agama Serang juga mencatat sepanjang tahun 2019 itu ada 288 ASN yang berperkara perceraian, yang didominasi oleh guru. Sisanya adalah TNI 12 perkara, Polri 22 perkara, dan pegawai BUMN 47 perkara.

Effendy menjelaskan bahwa perceraian yang diajukan suami hanya 1/3 dari seluruh perkara yang ada di tahun 2019. Artinya, sebagian besar perceraian diajukan oleh pihak istri (perempuan). Jumlah ini juga tidak jauh berbeda bila dibandingkan data tahun-tahun sebelumnya.

Mengenai banyaknya perempuan yang mengajukan cerai, Effendy menyatakan bahwa itu menunjukkan para perempuan saat ini sudah lebih banyak yang sadar hukum. Dengan demikian, karena kesadaran itu, mereka menuntut hak mereka sebagai istri juga sebagai perempuan. Hal ini berbeda dengan zaman dulu di mana suami memegang peran kunci dalam perceraian.

“Kalau dulu istri berkali-kali minta cerai pun kalau suami tidak menjatuhkan talak tidak akan ada perceraian. Kalau sekarang tinggal ke pengadilan dan perceraian akan diputuskan pengadilan,” katanya.

Sementara itu, sepanjang tahun 2019 juga ada 2.000 perkara isbat nikah di Kabupaten Serang. Perkara isbat nikah ini merupakan kerja sama antara Pengadilan Agama Kelas I Serang dengan Pemerintah Kabupaten Serang.

Psikolog Nurul Adiningtyas mengatakan bahwa saat ini ada pergeseran citra janda menjadi lebih positif dari yang sebelumnya dinilai sebagai perempuan bermasalah menjadi hanya perempuan single. Karena pergeseran itulah membuat banyak perempuan tidak khawatir bercerai bahkan mengajukan cerai.

Menurutnya banyaknya perempuan yang mengajukan cerai juga bisa jadi karena terpengaruh tontonan infotaintment yang menayangkan banyak artis yang bercerai dan menjadikan pihak perempuan sebagai penggugat. (tohir)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook