Pengrajin Gerabah Berebut Tanah

nurul roudhoh   |   Serang Raya  |   Selasa, 28 Januari 2020 - 14:53:05 WIB   |  dibaca: 61 kali
Pengrajin Gerabah Berebut Tanah

TIDAK PRODUKSI : Arpat, warga Desa Bumijaya, Kecamatan Ciruas menunjukkan gerabah yang telah selesai dibuat dan siap untuk dibakar, Senin (27/1).

SERANG, BANTEN RAYA – Pengrajin gerabah di Desa Bumijaya, Kecamatan Ciruas rebutan membeli tanah yang menjadi bahan baku pembuatan gerabah dengan pengusaha dari Provinsi Bali.

Arpat, warga Desa Bumijaya, Kecamatan Ciruas mengatakan, pembelian tanah oleh pembeli asal Bali saat ini memang sudah tidak seperti empat sampai lima tahun ke belakang. “Memang kalau sekarang satu bulan paling satu kali belinya. Kalau dulu kan satu bulan bisa tiga kali. Tapi tetap saja kita kadang harus menunggu lama untuk bisa dapat tanah,” ujar Arpat saat ditemui di lokasi, Senin (27/1).

Pria yang mengaku sudah 44 tahun membuat gerabah itu menyebutkan, penjual tanah untuk bahan baku pembuatan gerabah di Desa Bumijaya hanya tiga orang dan harus melayani semua pengrajin gerabah di desa tersebut. “Jadi kita membeli tanah itu tidak bisa langsung dapat, kita harus pesan dulu, kadang sampai satu minggu baru dapat. Tanahnya mah ada tapi satu orang hanya bisa membeli lima sampai 10 sepeda,” ungkapnya.

Persoalan lain yang dihadapi pengrajin, beberapa di antaranya kesulitan untuk mendapatkan modal sehingga sering tidak berproduksi. “Untuk biaya kadang dari pemesan, kadang biaya sendiri tapi kalau pas enggak ada modal kita enggak bisa bekerja (produksi-red). Saya beli tanah satu sepeda Rp100 ribu sama beli pasirnya satu sepeda Rp100 ribu. Biasanya sekali beli lima sepeda,” tuturnya.

Selain membeli tanah dan pasir, pengrajin gerabah juga harus mengeluarkan biaya untuk membeli kayu dan biaya untuk pengiriman gerabah ke pembeli. “Kalau dihitung-hitung dari lima sepeda itu keuntungannya Rp500 ribu sampai Rp700 ribu. Untuk pembuangan (penjualan-red) kita punya langganan sendiri di Jakarta. Kalau dikirim ke Jakarta bayarnya tempo satu minggu, makanya kita kadang kehabisan modal,” ungkapnya.

Selain di jual ke Jakarta dan beberapa daerah lainnya, Arpat mengungkapkan, banyak juga pembeli yang datang langsung ke rumahnya. “Untuk yang beli langsung ke sini (rumah-red) saya minta tempo kalau belinya banyak, kalau cuacanya bagus dua minggu sudah bisa diambil. Memang usaha gerabah ini untungnya enggak besa tapi ini sudah menjadi kerjan saya, makanya ke anak saya sering bilang cari pekerjaan lain saja,” katanya.

Bapak enam anak itu berharap, pemerintah daerah bisa memfasilitasi permodalan yang bunganya kecil sehingga bisa memproduksi gerabah setiap hari. “Sebenarnya, kalau pembayaran yang di Jakarta lancar, kita enggak sampai kehabisan modal, tapi seringnya tempo pembayarannya. Kalau bisa mah pingin ada pinjeman yang bungannya tidak terlalu besar. Untuk penjualan mah gampang, rata-rata sudah punya pelanggan masing-masing,” ujarnya. (tanjung/fikri)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook