97% pelajar Banten akses pornografi

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Kamis, 13 Februari 2020 - 12:27:32 WIB   |  dibaca: 342 kali
97% pelajar Banten akses pornografi

SERANG, BANTEN RAYA - Sebanyak 97 persen pelajar SMP dan SMA di Banten ternyata pernah mengakses pornografi di internet. Data tersebut terungkap dari hasil ruvei yang dilakukan Kementerian Kesehatan di tahun 2019 kepada 1.411 siswa SMP dan SMA yang ada di Provinsi Banten, plus Jakarta Selatan.

Asisten Deputi Perlindungan Anak dalam Situasi Darurat dan Pornografi pada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Ciput Eka Purwanti mengatakan, akses tertinggi anak terhadap pornografi berada di rumah, atau kamar sendiri, baru kemudian di warnet, dan di sekolah. Selain di internet, akses pornografi juga ditemukan di komik, permainan, film, majalah, koran, dan sarana lainnya.

"Anak-anak usia dini bisa mengakses pornografi disebabkan kelalaian orangtua," kata Ciput saat menjadi pembicara dalam kegiatan Penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD) Pencegahan dan Penanganan Pornografi bagi Anak yang diselenggarakan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Kependudukan dan Keluarga Berencana (DP3AKKB) Provinsi Banten, di ruang rapat Kantor DP3AKKB Banten, Rabu (12/2).

Dari total 79,55 juta anak di Indonesia, sebanyak 65,34 persen atau 30 juta anak di usia 9-19 tahun sudah memiliki smartphone dan bisa mengakses internet. Ciput mewanti-wanti dampak pornografi kepada anak yang bisa berdampak negatif, antara lain, menyebabkan kerusakan otak dan memiliki penyimpangan perilaku. Ia menilai, anak-anak usia dini yang bisa mengakses pornografi dari internet disebabkan ketidaksengajaan anak yang kebetulan diberikan kebebasan untuk menggunakan gadget tanpa pengawasan orangtuanya.

Dalam kesempatan itu, Ciput berharap kepada pemerintah daerah di tingkat provinsi dan kabupaten/kota untuk memperkuat upaya pencegahan dengan cara melakukan edukasi orangtua dan juga calon orangtua.

Sejak masih menjadi calon pengantin, orangtua diberikan edukasi digital. Saat ini di era milenial hampir semuanya menggunakan akses digital. Jika orangtuanya gagap terhadap digital, maka tidak akan memiliki kapasitas untuk melindungi dirinya terhadap bahaya pornografi yang berasal dari internet. "Jika melindungi dirinya sendiri dari tontonan pornografi dengan menggunakan internet tidak bisa, apalagi untuk memberikan perlindungan kepada dirinya sendiri," ungkapnya.

Langkah strategis lainnya, lanjut Ciput, adalah melakukan pemetaan tambahan yang tidak hanya melakukan pendataan terhadap pelajar pada jenjang pendidikan SMP dan SMA, namun saat ini juga dilakukan pendataan terhadap anak usia dini dan usia sekolah dasar. Artinya, harus dilakukan kajian tambahan yang isunya sesuai dengan kondisi masyarakat yang ada.

Ciput menambahkan, pemerintah daerah harus mampu menganalisa dan mencari penyebab anak-anak usia dini sampai dengan pelajar tingkat SMA bisa mengakses pornografi melalui internet. Tentunya kajian tersebut harus berdasarkan riset dan kajian akademis, sehingga bisa diakui dan dipertangungjawabkan.

Terkait upaya pemerintah pusat untuk membantu menekan kasus tersebut, Ciput mengakui, peranan masyarakat sangat ini dibutuhkan, untuk berani memberikan laporan atau aduan kepada pihak yang berwenang menangani persoalan tersebut.

Sitti Ma'ani Nina, Kepala DP3AKKB Banten mengatakan, di era digital saat ini, kemajuan teknologi telah berkembang pesat, terutama teknologi informasi menjadi salah satu kebutuhan hidup. Salah satu bagian dari teknologi informasi tersebut, adalah ketersediaan layanan internet.

Melalui layanan internet, kata Nina, masyarakat dapat mengetahui dan melakukan banyak hal. Mulai belanja online, belajar mencari hiburan, dan lain sebagainya. Tetapi, dibalik itu semua, ternyata internet juga membawa permasalahan yang besar, salah satunya tersedianya situs pornografi. "Keadaan ini sangat meresahkan kita sebagai orangtua, karena tidak menutup mungkin anak-anak kita juga dapat dengan mudah mengakses situs pornografi tersebut jika pengawasan kita lemah," katanya.

Mantan Karo Humas Pemprov Banten ini mengaku, masih maraknya praktik pornografi dalam berbagai bentuk, menjadi perhatian bagi semua pihak. Dengan masalah yang menyangkut pornografi, pihaknya bersama stakeholder terkait lainnya harus benar-benar memerangi pornografi, karena bahaya pornografi itu sama dengan bahaya terorisme.

Kecanduan pornografi, lanjut Nina, terutama bagi anak usia sekolah dan remaja dapat menimbulkan efek kerusakan otak secara permanen. Adiksi atau kecanduan pornografi dan efek terpapar pornografi dapat menimbulkan kecenderungan untuk sulit mengontrol diri, mengambil keputusan, mengatur emosi, perencanaan kegiatan sehari-hari dan mengorganisasikan diri.

"Fenomena pornografi di Indonesia, menunjukkan kecenderungan yang semakin mengkhawatirkan dan akan berpengaruh buruk bagi kelompok rentan, yakni perempuan dan anak-anak," ungkapnya.

Nina menilai, kendati sudah dikeluarkan undang-undang tentang kebiri, Perppu yang sudah disahkan kini menjadi undang-undang, tetap saja dari hari ke hari terjadi pemerkosaan yang berujung pembunuhan. "Tentunya ini butuh kerja keras bersama antara pemerintah pusat, daerah dan stakeholder terkait lainnya," imbuhnya. (satibi)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook