Sekadar Tahu, Tak Pernah Merayakan

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Jumat, 14 Februari 2020 - 13:49:08 WIB   |  dibaca: 291 kali
Sekadar Tahu, Tak Pernah Merayakan

SERANG, BANTEN RAYA - Valentine's Day yang kerap diperingati setiap tanggal 14 Februari sebagai hari kasih sayang disikapi berbeda oleh sejumlah pelajar Banten. Sebagian besar pelajar yang diwawancarai Banten Raya menilai bahwa hari valentine bukan kebudayaan Indonesia, dan berbeda jauh dengan adat ketimuran.

“Menurut sebagain orang, Valentine's Day itu hari kasih sayang, dan hari itu hari  istimewa bagi yang punya pacar karena bisa saling tukar cokelat. Tapi bagi saya sebagai anak muda tidak penting merayakannya karena agama saya tidak mengajarkan itu,” ujar Rifky, Siswa SMAN 1 Tirtayasa kepada Banten Raya, Kamis (13/2).

Siswa kelas 12 itu mengaku, sejumlah kawannya sering merayakan Valentine's Day, namun ia tidak pernah tertarik untuk merayakannya. “Bagi saya menyayangi teman dan orangtua kita harus setiap hari dan terus menerus, bukan hanya saat valentine,” tuturnya.

Hal sama yang disampaikan Listia Ningsih (19), siswi SMK PGRI Pandeglang. Listia menyebutkan bahwa hari valentine tidak perlu dirayakan. "Saya sih gak pernah merayakan hari valentine. Paling saya mah suka ngerayain 1 Muharram, seperti ikut pawai obor gitu," ujarnya saat ditemui di gedung Setda Pandeglang.

Halimatusadiah (18), siswi SMKN 1 Pandeglang mengaku tidak pernah merayakan hari Valentine bersama kekasihnya. "Gak pernah (merayakan). Paling pas valentine makan bareng sama teman-teman," ujarnya.

Salah satu remaja Kota Serang yang juga siswi SMAN 1 Serang Farra Alifiah pun mengaku tidak setuju valentine atau hari kasih sayang dirayakan. Secara menurut Farra, sapaan akrabnya, valentine itu merupakan budaya dari luar yang tidak perlu diikuti.

“Saya sih sebenarnya kurang setuju (dirayakan). Soalnya hari Valentine itu kan budaya luar. Budaya luarnya juga yang terlalu, kayak ngasih besar-besaran hadiah ke ini, ke itu. Padahal kan kalau misalkan budaya kita sendiri itu kasih sayang itu tidak ada batasnya,” ujar Farra, ditemui di SMAN 1 Serang, Kamis (13/2) pagi.

Oleh karena itu dirinya mengaku tidak pernah merayakan hari valentine tersebut terlebih bersama kekasihnya.“Gak sih gak pernah. Kayak dikasih-kasih gitu. Iya karena gak pernah aja. Gak pernah ngerayain aja. Dikasih bunga atau dikasih apa ya biasa aja gitu,” ucap remaja berkulit putih yang duduk di kelas XII IPA ini.

Senada disampaikan siswi SMAN 1 Serang lainnya, Balqis Khaylaryanda. Menurut Balqis panggilan karibnya, dirinya tidak pernah mengikuti dan merayakan hari valentine. “Kalau saya enggak pernah. Saya enggak terlalu memikirkan. Untuk pribadi saya kurang tertarik aja. Dari diri saya sendiri kurang tertarik untuk merayakan. Bukan karena budaya dari luar,” ujar Balqis.

Apabila di era digital saat ini masih ada segelintir remaja seusianya yang masih mengikuti dan merayakan valentine, Balqis enggan mempersoalkan hal tersebut karena hal itu bukan urusannya.“Kalau menurut saya sih kembali ke pribadi masing-masing aja. Mungkin yang tidak merayakan karena soal agama, atau yang merayakan karena dorongan kebiasaan,” katanya.

Terpisah, siswi SMA Negeri 1 Rangkasbitung Reza Sartika Gunawan tak pernah peduli dengan hari valentine. "Gimana yah, bahkan ini aja baru ngeh kalo besok (hari ini -red) Valentine's Day. Kalo nanya ke aku kayaknya gak bakalan dapet banyak info, secara gak pernah tuh ngerayain valentine.

Aku sekadar tahu aja yah kalo valentine kan katanya hari kasih sayang dan identik sama cokelat atau hal hal yang romantis gitu lah. Biasanya orang orang pacaran itu ngerayain sama pacarnya," katanya.

Sartika sendiri mengaku pernah mendapatkan hadiah saat Valentine. "Pernah ada sih temen pas SMP dulu, ngasih cokelat pas valentine. Saya terima aja karena rejeki gak boleh ditolak," ujarnya sembari tertawa.Yusuf, siswa SMK Kalanganyar Filial, Kabupaten Lebak, mengaku lebih suka membaca buku daripada merayakan valentine.

Sementara itu, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (Himsi) Wilayah Banten Sugiarti mengatakan bahwa fenomena adanya remaja yang gandrung merayakan valentine bisa jadi karena di usia mereka sedang mencari jati diri. Di usia remaja peran teman sebaya sangat berperan bagi dirinya karena ia membutuhkan pengakuan dari kelompok dengan cara mengikuti "nilai-nilai" yang ada di kelompoknya.

Di usia remaja juga masanya mulai ketertarikan terhadap lawan jenis jadi bisa jadi hal-hal yang terkait valentine ia jadikan sarana untuk merasionalisasikan maksud perasaannya kepada orang yang ia sasar.

Terlebih lagi pada remaja yang berasal dari keluarga yang kurang berfungsi, yaitu misalnya kurang hangat, remaja yang sedang butuh perhatian dan eksistensi diri bisa jadi serta merta menggunakan momen ikut-ikutan. Bahkan, bisa jadi ada oknum yang memanfaatkan dependensi (ketergantungan) pacar/orang lain terhadap dirinya untuk mendapatkan keuntungan.
 
Terkait adanya remaja yang menggunakan kesempatan valentine guna meraup keuntungan dari pasangan, misalkan mendapatkan keperawanan sang pacar, Sugiarti menyatakan bahwa ia secara pribadi belum pernah menemukan kasus seperti itu di Banten.

Namun, ia menilai bisa jadi hari valentine-nya bukan sebagai faktor tunggal penyebabnya. Butuh pencermatan latar belakang keluarganya, latar belakang hubungannya, ciri kepribadiannya, dan sebagainya guna mengetahui secara pasti penyebab hal itu bisa terjadi.

Sekretaris PWNU Banten Amas Tadjuddin mengatakan bahwa hari valentin tidaklah masalah jika kegiatan tersebut dilakukan selama tidak melanggar norma, hukum, adat, budaya, tradisi, dan kepatutan dalam kehidupan masyarakat.

Oleh karena itu valentine day sebaiknya diisi dengan kumpul keluarga, kerabat, teman, berbagi kasih sayang dalam bentuk makan bersama, berinfak, dan sodaqoh sehingga hal tersebut jauh lebih bermakna dari hanya sekedar berbagi kasih kasmaran pasangan muda-mudi berpacaran mengarah kepada perbuatan asusila. "Jika ini yang dilakukan maka valentine day dimaksud haram hukumnya tanpa tawar-menawar," kata Amas.

Sekretaris MUI Kota Serang ini menyatakan bahwa bagi kalangan remaja sebaiknya valentine day diekspresikan dengan cara kunjungan silaturahim disertai memberi hadiah yang halal dan baik (halalan toyyiban) kepada orang tua, nenek, kakek, kerabat yang jauh atau dekat tapi karena kesibukan tidak setiap saat dikunjungi.

Hadiah itu bisa berupa oleh-oleh makanan atau barang yang berguna bagi keluarga. Dengan cara ini, maka valentine day akan jauh lebih bermanfaat. "Inilah valentine day berakhlakul karimah," kata Sekretaris Forum Majelis Ta'lim Provinsi Banten ini.

Sementara itu, sejumlah tempat usaha menjadikan hari valentine untuk mempromosikan usaha mereka. Seperti diungkapkan Panji, manajer salah satu tempat hiburan malam di Kota Cilegon. Menurutnya, di tempat hiburan yang dikelolanya saat Valentines Day akan menggunakan konsep pink. Jadi, Ladies Companion (LC) yang ada di tempat hiburannya akan berpakaian pink. Di tempat hiburan yang dikelolanya, ada sekitar 30 LC yang siap menjamu para pengunjung dengan keramahannya. “Tetapi, untuk pengunjung dresscode tidak ada ketentuan, bebas saja,” tuturnya.

Dalam perayaan Valentines Day, kata Panji, di tempat hiburan malam yang dikelolanya tidak ada tampilan yang spesial. Hanya dresscode LC saja yang bernuansa pink. “Baju pinknya juga punya sendiri-sendiri, tidak kami sediakan, yang penting pink,” ujarnya. (tohir/harir/gillang/tanjung/uri/yanadi/purnama)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook