Jangan Buang Tikus Sembarangan

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Rabu, 19 Februari 2020 - 13:55:32 WIB   |  dibaca: 162 kali
Jangan Buang Tikus Sembarangan

SERANG, BANTEN RAYA – Masyarakat diminta untuk tidak membuang bangkai tikus sembarangan. Sebab, hewan pengerat itu merupakan perantara bakteri yang bisa menularkan berbagai penyakit kepada manusia secara langsung maupun tak langsung.

Pemerhati Kesehatan Masyarakat Universitas Faletehan Fauzul Hayat mengatakan, pada dasarnya tikus adalah vektor atau pembawa penyakit. Hal itu sudah dibuktikan sejak zaman dahulu ketika penyakit pes masuk ke Indonesia melalui kapal asing yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

“Di kapalnya itu ada tikus bawa bakteri yang nantinya menyebabkan penyakit pes. 245.000-an kasus yang tercatat, meninggal 23.000-an. Alhamdulillahnya 2007 kemarin kita terbebas. Mungkin karena pemerintah sudah bisa mengantisipasi,” ujarnya kepada Banten Raya, Senin (17/2).

Ia menjelaskan, meski demikian dari catatannya di sejumlah daerah masih ada kasus tikus lokal yang terkontaminasi bakteri yestiria pertis yang menyebabkan penyakit pes. Bakteri ini ada di kantung kencing tikus, kontaminasi bisa terjadi saat tikus itu buang air kecil.

“Kontaminasi bisa lewat air. Kalau masuk organ tubuh macam-macam (dampaknya). Ada yang menetap di otak, ada ke paru-paru namanya pneomonia plague. Jenis-jenis penyakit ini ketika masuk ke organ tubuh bisa berbahaya dan mengakibatkan orang meninggal,” katanya.

Diakuinya, kasus itu kini sudah sangat jauh berkurang tapi beralih ke tren penyakit lainnya yaitu leptospirosis atau banyak menyebut sebagai penyakit kencing tikus. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri leptospira interrogans yang juga ada di kantung kencing tikus. “Gejalanya sama seperti penyakit kuning, matanya kuning dan demam,” ungkapnya.  

Lebih lanjut dipaparkan Fauzul, kasus dari bakteri ini banyak terjadi saat musim hujan tiba terlebih ketika terjadi banjir. Jakarta dan Bekasi diketahui sebagai daerah endemis penyakit tersebut. Sementara untuk Banten tercatat ada beberapa kasus.

“Dia kencing kena air banjir dan terkontaminasi ke manusia. Harus waspada, bukan enggak boleh ya,  ketika anak-anak suka habis banjir main air, khawatir air yang sedang dimainkan terkontaminasi. Habis main demam matanya kuning ya sudah, harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan. Ini bisa menyerang berbagai usia,” tuturnya.

Kabar baiknya, kata dia, penyakit leptospirosis jarang menyebabkan kematian tapi tetap saja pengidap bakal menderita. Tingkat bahaya meningkat andai seseorang memiliki penyakit lainnya. Hal itu bisa menyebabkan kematian. “Cuma orangnya enggak bisa ngapa-ngapain, aktivitas terganggung, seminggu bisa enggak masuk kantor. Tetapi memang berbahayanya ketika dia punya penyakit jantung, itu (bisa) meninggal,” ujarnya.

Saat ini yang menjadi sorotan, potensi penyebaran penyakit leptospirosis juga bisa sama tingginya walau bukan di musim hujan. Hal itu bisa terjadi ketika orang-orang membuang bangkai tikus sembarangan.“Enggak ada banjir, orang benci main tembak saja dan mati langsung taruh di jalan. Kalau tikus dibiarkan seperti itu ada vektor selanjutnya. Tikus mati kan bau, dia akan mengundang vektor yang namanya lalat,” paparnya.

Vektor lalat akan lebih merepotkan penyebarannya karena bisa terbang ke segala tempat. Ketika hinggap di makanan, lalat bisa menaruh bakteri leptospira. “Itu yang repot, kalau di tikusnya masih ada bakteri yang tadi, dibawa juga sama si lalat nanti. Lalat terbang ke makanan,” katanya.

Dengan segala ancamannya itu, Fauzul mengimbau agar masyarakat bisa melakukan berbagai pencegahannya. Salah satunya adalah dengan mengolah sampah dengan baik. Sebab, sampah merupakan tempat yang sangat menarik perhatian tikus.

Selanjutnya, ketika terpaksa membunuh tikus maka bangkainya tidak dibuang sembarangan, termasuk ke tong sampah. Sebaiknya bangkai tikus dibakar agar bakterinya ikut lenyap. “Jadi baiknya bagaimana memotong mata rantai itu. Salah satunya ya kita bijak antisipasi saja. Minimal dibakar lebih amannya supaya ya tidak menularkan melalui vektor yang lain. Cuma untuk (mengontrol) populasi (tikus) jangan banyak sampah,” pungkasnya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Kota Serang Ratu Ani Nuraeni mengatakan bahwa kencing tikus mengandung virus leptospira dan bisa menyebabkan penyakit leptospirosis. Efek paling berbahaya leptospirosis adalah bisa menyebabkan kematian.

Virus leptospira bisa masuk ke dalam tubuh melalui mulut atau luka. Masa inkubasi virus ini diperkirakan antara 4-6 hari. Adapun gejala pada orang yang terkena virus leptospira biasanya berupa demam menggigil dan muntah-muntah mirip gejala demam berdarah dengue (DBD) yang ditandai dengan demam, tubuh pegal-pegal, dan menurunnya trombosit.

Bila virus sudah bersarang lebih dari sepekan, maka akan timbul gejala mirip dengan penyakit hepatitis C ditandai dengan munculnya kekuningan, dimulai pada mata, dan adanya rasa kebas di kaki. “Tidak jarang ada juga yang muntah,” kata Ani.

Karena merupakan virus, maka penyakit ini tahan pada asam, tahan basa, bahkan tahan cuaca. Meski demikian, virus bisa dikalahkan dengan anti bodi dalam tubuh, karena itu penderita leptospirosis harus mengkonsumsi antibiotik dan makanan bergizi serta beristirahat dengan cukup.

Cara mencegah penyakit ini adalah dengan menjaga kebersihan rumah dan tidak memancing kedatangan tikus dengan menimbulkan bau amis dari makanan, tidak membuat rumah kotor dan berbau busuk.

Kiat lain adalah tidak membuat tikus kaget karena menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan RI setiap kali kaget tikus akan kencing walaupun jumlahnya tidak banyak.“Lubang pembuangan air dan lainnya juga harus ditutup dengan kawat,” katanya.

Iwan Kuswono, penyuluh program Dinas Kesehatan Kota Serang, mengatakan bahwa bangkai tikus dan bangkai binatang lain hendaknya tidak dibuang sembarangan karena bakteri dalam bangkai tersebut bisa menyebabkan penyakit.“Bangkai mengandung bakteri. Kalau bakteri biasanya menyerang ke usus ke lambung,” katanya. (dewa/tohir)

 


 

 

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook