Dahlan Iskan Ngajar di UIN Banten

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Kamis, 20 Februari 2020 - 16:04:57 WIB   |  dibaca: 109 kali
Dahlan Iskan Ngajar di UIN Banten

JANGAN TAKUT MENCOBA : Dahlan Iskan menjadi pembicara dalam kuliah umum yang digelar Ma’had Al-Jamiah Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten, Rabu (19/2).

SERANG, BANTEN RAYA - Ma'had Al-Jamiah Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten, menggelar kuliah umum bertajuk "Membangun Jiwa Entrepreneur di Kalangan Mahasantri UIN SMHB" di aula rektor lantai III, Rabu (19/2).Kegiatan tersebut menghadirkan Dahlan Iskan, mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Dirut PLN era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Kepada para peserta, Dahlan Iskan mengatakan, dalam membangun jiwa berbisnis, perlu adanya proses penularan, bukan pendidikan. Setidaknya, sebelum menemukan siapa yang dapat ditulari, temukan siapa yang bisa tertular. "Harus menularkan hal yang positif, jangan yang negatif.

Salah satu caranya dengan memiliki sifat terbuka dan proses latihan itu harus merugi. Dimulai dengan berlatih jualan kecil-kecilan misalkan. Tidak jadi masalah dapat untung kecil, yang berharga itu pengalamannya," katanya.

Dahlan mengaku saat masih duduk di bangku kuliah semester dua, dirinya sudah mencoba berbisnis. Pengalaman berbisnis tersebut, setara dengan belajar ilmu manajemen entrepreneurship selama delapan semester. "Bekerja atau berkarir itu tidak harus nyambung sesuai program studi kuliah. Belajarlah sesungguh-sungguhnya. Pahit diawal itu perlu, nanti ketika bekerja, baru kalian jalin relasi seluas-luasnya," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, pria yang pernah menjadi jurnalis ini berpesan, hidup ini begitu luas, jangan pikirkan apa itu program studi yang diemban saat kuliah, tapi pikirkan kemaslahatan umat. "Apakah kita sudah bermanfaat? Contohnya saya, lulusan pesantren disuruh pimpin PLN pada era SBY. Baru tiga bulan diangkat jadi menteri BUMN. Setelah itu menjadi wartawan, mengajar jurnalistik, berbisnis, kemudian kembali lagi mengurusi pesantren," tutur Dahlan sambil tertawa.

Disinggung soal program Menteri Pendidikan yang bernama 'Kampus Merdeka', Dahlan menganggap kurang relevan. Alasannya, regulasi Kampus Merdeka belum selesai dibuat dan masih perlu perbaikan dan penyesuaian. "Secara teknis, sistem kredit semester (SKS) nya juga yang diubah secara sempurna.

Jika diubah dari jam belajar menjadi jam kegiatan, akan jadi berubah makna dan pengertian. Belum lagi kegiatan mahasiswa di luar kampus selama 3 semester itu," ungkapnya."Magang kurang cocok kalau di pabrik-pabrik. Tapi lebih pas untuk semua jurusan ditempatkan pada bidang usaha, wiraswasta, wirausaha, entrepreneur dan sejenisnya," sambung Dahlan. (satibi)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook