Tanah Negara Diduga Dijual, Wakil Walikota Sidak Kali Mati

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Kamis, 27 Februari 2020 - 16:28:57 WIB   |  dibaca: 111 kali
Tanah Negara Diduga Dijual, Wakil Walikota Sidak Kali Mati

PAStIKAN KABAR : Wakil Walikota Serang Subadri meninjau Kali Mati di perbatasan Nyapah dan Lebak Wangi, Kota Serang, Rabu (26/2).

WALANTAKA, BANTEN RAYA – Wakil Walikota Serang Subadri Ushuludin melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Lingkungan Cimareng, Kelurahan Lebak Wangi-Kelurahan Nyapah, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, Rabu (26/2). Sidak ini dilakukan untuk memastikan langsung kebenaran adanya dugaan penjualan tanah negara di Kali Mati yang ada di perbatasan antara Kelurahan Lebak Wangi dengan Kelurahan Nyapah.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun dari Subadri, terdapat tanah negara berbentuk Kali Mati, yang tanahnya dikeruk dan hasil kerukannya dijual kepada perusahaan. Pantauan di lapangan, terlihat tanah yang seperti baru dilakukan pengerukan pada daerah tersebut.

Subadri melakukan sidak didampingi oleh seluruh unsur Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) mulai dari Camat Walantaka Karsono, Sekretaris Camat Sahmin, perwakilan Polsek Walantaka, perwakilan Koramil Walantaka, Lurah Nyapah Oewien Kurniawan.

Wakil Walikota Serang, Subadri Ushuludin mengatakan, dirinya sengaja mendatangi langsung lokasi untuk dapat memastikan langsung terkait adanya dugaan penjualan tanah negara. “Saya datang ke sini berangkat dari isu yang beredar di masyarakat bahwa ada tanah negara yang dijual di Kelurahan Nyapah. Maka saya tidak mau menilai hanya dengan katanya katanya, saya langsung ke lokasi,” ucap Subadri, kepada awak media ditemui di lokasi.

Ia membenarkan bahwa berdasarkan hasil keterangan camat dan lurah, tanah tersebut memang merupakan tanah negara, meskipun tanah negara itu tidak tercatat dalam pembukuan aset negara. “Jadi tadi sudah ngobrol, ternyata memang tanah ini sebutannya tanah gege, jadi tanah yang tidak dibukukan, namun merupakan kepemilikan dari pemerintah. Apalagi dulu ini merupakan kali, namun memang sudah mati,” jelas dia.

Namun ia mengaku masih belum tahu tanah mana yang diisukan dijual kepada perusahaan, karena berdasarkan keterangan camat dan lurah, tanah yang dijual itu merupakan tanah milik warga, bukan tanah negara yang berada di Kali mati.“Kalau dijual kemananya Pak Camat bilang tidak tahu, Pak Lurah bilang tidak tahu. Tapi saya meminta kepada keduanya agar dapat segera mencari tahu mengenai isu yang beredar itu,” katanya.

Sementara itu, Camat Walantaka Karsono mengakui memang terdapat aktivitas pengerukan tanah di lokasi tersebut sekitar seminggu yang lalu. Namun, Danramil Walantaka Kapten Inf Tumiran, menghentikan aktivitas tersebut.“Memang katanya ada aktivitas pengerukan sekitar dua hari. Namun ternyata memang sudah dihentikan oleh pak Danramil. Karena saya kan telat datang ke lokasi ini,” kata Karsono.

Ia juga mengaku masih bingung terkait tanah yang dikeruk tersebut merupakan tanah mati yang berstatus tanah negara atau hanya sebutan semata. “Karena di sini tidak ada kali. Jadi saya bingung, Pak Lurah bingung, yang namanya kali mati itu memang benar kali atau hanya sebutan. Kalau pengakuan dari orang kelurahan, yang dikeruk itu memang milik warga dan ada SPPTnya. Cuma saya belum liat langsung,” ungkap dia.

Apabila terjadi aktivitas pengerukan tanah sebelum adanya kejelasan mengenai status tanah tersebut, maka dirinya bersama Forkopimcam akan turun langsung menghentikan kegiatan tersebut. “Kami bersama Kapolsek dan Danramil akan turun langsung mengehentikan. Kunci (mobil beko) akan kami sita nanti,” tegasnya.

Masih di lokasi yang sama, Lurah Nyapah Oewien Kurniawan mengklaim bahwa tanah yang dikeruk dan dijual merupakan tanah milik warga, bukan tanah negara. Ia mengatakan, hal itu dapat dibuktikan dengan adanya Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT). “Jadi ini memang tanah milik warga. Dibuktikan dengan adanya SPPT tanah atas nama Mad Nur. Jadi memang kata dia, tanah itu sudah dimiliki hampir 40 tahun secara turun temurun,” jelas Oewien. (harir)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook