Umrah Disetop, Pengusaha Travel Pusing

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Jumat, 28 Februari 2020 - 16:01:26 WIB   |  dibaca: 267 kali
Umrah Disetop, Pengusaha Travel Pusing

MASIH SEMANGAt : Lima belas jamaah umrah bimbingan Kurma travel saat di Bandara Soekarno-Hatta sesaat sebelum ditolak terbang ke Arab Saudi, Kamis (27/2).

SERANG, BANTEN RAYA - Pengusaha travel umrah di Banten pusing dengan kebijakan Pemerintah Arab Saudi yang menutup akses warga asing untuk umrah sebagai langkah mencegah merebaknya virus corona. “Yang pasti sih ini sangat menjadi sesuatu yang gimana yah (berat).

Bikin lemes pastinya. Karena kalau pahitnya ternyata ini dibuka laginya lama, otomatis harus reschedule. Tapi ini pun akan berefek domino. Akomodasi hotel apakah pas penjadwalan ulang masih tersedia atau tidak, sementara permintaannya tinggi,” kata Direktur PT Bahana Sukses Sejahtera Uswatun Hasanah kepada Banten Raya, Kamis (27/2).

Uswatun berharap, penutupan itu tidak terlalu lama sehingga bisnis travel di Banten bisa berjalan normal kembali. “Kita ketahui bersama keputusan Saudi Arabia ini kan sepihak. Padahal Kabah itu kan milik umat Islam di seluruh penjuru dunia. Kita sih berharap kalau pemerintah Arab Saudi mau memutuskan sesuatu itu ada prepare ke kita (pengusaha travel).

Karena kasian loh, sahabat-sahabat Ibu (panggilan Uswatun kepada dirinya -red) itu yang hari ini (kemarin -red) tidak bisa berangkat. Tapi Alhamdulilah kalau hari ini untuk ibu tidak ada keberangkatan. Tapi Ibu sekitar 14 hari lagi akan ada keberangkatan dengan jumlah jamaah umrah 95 orang,” katanya.

Kata Uswatun, jika kebijakan Arab Saudi ini terus berlanjut, akan berdampak negatif terhadap bisnis travel umrah dan haji di Banten termasuk Indonesia. “Sementara ini yang dilakukan sih ibu hanya membuat jamaah tetap tenang dengan cara mengedukasi ke jamaah. Terus kita tunggu update perkembangannya bagaimana. Karena kita ketahui bersama keputusan Saudi Arabia ini kan sepihak,” katanya.

Hal sama juga diungkapkan Rahmat, Manajer PT Inayah Haromain Tours dan Travel yang berdasarkan jadwal akan memberangkatkan sebanyak 270 jemaah umrah pada 25 Maret mendatang. Rahmat berharap, kebijakan penghentian visa Arab Saudi hanya selama 14 hari kerja, sehingga jemaah yang akan berangkat berdasarkan jadwal pada 25 Maret, bisa secepatnya mengurus visa untuk keberangkatan.

Jika kebijakan pembatasan umrah tetap berlaku, pihaknya akan menerima konsekuensi dengan mengembalikan sepenuhnya uang jamaah seratus persen. Sebab, sebelumnya saat ada kenaikan harga asuransi dari Kerajaan Arab Saudi, pihaknya mengembalikan sepenuhnya 100 persen kepada para jemaah yang keberatan karena adanya tambahan harga.

“Alhamdulillah sampai sekarang kami masih membuka pendaftaran karena dari 270, sekitar 50 masih kosong. Namun ada juga saat kebijakan baru asuransi Arab Saudi yang dinaikan. Kalau itu kami sampaikan dan fleksibel. Jika mau dilanjut dengan tambahan sekian, namun tidak juga bisa dikembalikan sebenuhnya 100 persen,” imbuhnya.

Febriyanto, pemilik Yayasan Azkia Kamala, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang mengaku keberatan dengan kebijakan larangan umrah. "Banyak jamaah yang kecewa. Kalau kita tidak dirugikan. Uang tidak akan sirna. Cuman jamaah kan yang tadinya semangat, terus tidak jadi akhirnya kecewa," kata Febri.

Febri sendiri memberangkatkan 25 jamaah di bulan Maret dan masih menunggu perkembangan situasi. "Kalau tiket belum kita pesan. Jamaah juga tidak ada yang meminta uang dikembalikan. Kalau tiket biasanya kita pesan setelah visa keluar," tuturnya.

Sementara itu, sebanyak 15 jamaah umrah asal Banten yang akan berangkat menuju Arab Saudi terpaksa harus pulang lagi karena dilarang terbang oleh otoritas Arab Saudi. Padahal, mereka sudah mau masuk ke dalam kapal Saudi Arabian Airlines setelah sebelumnya menunggu di Bandar Udara Soekarno-Hatta.

Iyus Gusmana, pemilik travel umroh dan haji Kurma Travel, mengatakan bahwa kemarin seharusnya 15 jemaah umrah yang diberangkatkannya berangkat pukul 13.30 WIB. Ke-15 jemaah umrah itu bersama dirinya sudah akan masuk ke dalam pesawat Saudi Arabian Airlines.

Namun, mereka ditolak terbang oleh  Saudi Arabian Airlines dengan alasan Pemerintah Arab Saudi melarang dan menghentikan sementara ibadah umrah dari berbagai negara. “Tadi (kemarin -red) sudah mau masuk pesawat tapi dibatalkan tidak boleh terbang sama Saudi Arabian Airlines,” kata Iyus, Kamis (27/2).

Iyus mengatakan bahwa semula ia mengira dengan menaiki Saudi Arabian Airlines para jemaah yang dibawanya akan tetap bisa terbang. Nahas, tidak ada perlakuan istimewa pada semua jamaah, termasuk yang menggunakan Saudi Arabian Airlines. Yang dilayani terbang ke Arab Saudi hanya warga asli Arab Saudi.“Bahkan menurut teman yang di Arab Saudi jemaah umrah yang baru tiba ke Arab juga langsung diminta balik lagi ke Indonesia,” kata Iyus.

Dengan batalnya 15 jemaah umrah yang dibawanya itu, ia mengaku sangat rugi. Meski demikian, Iyus tidak mau menyebutkan angka kerugiannya. Yang jelas, kerugian tidak hanya materil melainkan juga fisik, psikis, dan lain-lain.

Iyus mengaku kecewa dengan Saudi Arabian Airlines yang menolak menerbangkan jemaah umrah yang dibimbingnya namun tidak memberikan kompensasi. Alasan Saudi Arabian Airlines bukan mereka yang menolak menerbangkan tetapi pihak Pemerintah Arab Saudi yang menolak. Sebenarnya  Saudi Arabian Airlines mau saja menerbangkan tetapi akan percuma karena ketika sudah sampai di Bandara King Abdul Aziz akan diminta kembali ke Indonesia.“Kalau memaksakan terbang kita akan rugi dua kali. Sudah hangus tiket pesawat sampai sana ditolak terus kalau mau balik lagi ke Indonesia harus beli tiket lagi,” kata Iyus.

Ia mengungkapkan bahwa Pemerintah Arab Saudi kerap membuat kebijakan yang mendadak yang seringkali merugikan pengusaha travel seperti dirinya. Seingatnya dalam setahun ke belakang sudah ada tiga kebijakan yang diputuskan mendadak oleh Pemerintah Arab Saudi. Belum lama ini, misalkan, Arab Saudi menaikkan visa di kisaran Rp2 juta per travel. Lalu menaikkan asuransi jemaah umrah sebesar 186 real.“Arab Saudi kalau mengeluarkan kebijakan sesuka hati dan selalu mendadak. Ini sangat merugikan,” ujarnya.

Karena informasi tentang penolakan jemaah umroh ke Arab Saudi sampai saat ini belum jelas, maka Iyus akan menginap di hotel dekat bandara selama dua malam untuk memastikan apakah mereka akan bisa berangkat atau tidak. Ia berharap dalam satu dua hari ke depan ada kejelasan mengenai nasib jemaah yang dibawanya.“Doain semoga bisa pada berangkat,” katanya.

Kepala Seksi (Kasi) Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Cilegon Sakhrudin mengungkapkan, sampai sekarang belum ada surat edaran resmi dari pusat dan kantor wilayah soal adanya penghentian jemaah umrah, sehingga pelayanan rekomendasi pembuatan paspor jamaah umrah yang dilakukan Kemenang Kota Cilegon masih terus dilakukan.

“Soal informasinya sudah ada diketahui dari medsos (media sosial). Namun secara surat edaran resmi kami pastikan belum ada soal itu penghentian jemaah umrah,” ungkapnya.
Sakhrudin menjelaskan, rekomendasi pembuatan paspor setiap tahunnya meningkat di Kemanag Kota Cilegon yaitu sekitar 1.030 orang pada 2018, menjadi 1.220 orang pada 2019.

Sementara untuk Januari 2020 ada sekitar 88 orang atau rata-rata 3 sampai 4 orang per hari. Meski begitu, Data rekomendasi tersebut tidak menjadi gambaran keseluruhan orang yang berangkat umrah di Kota Cilegon. Sebab, data itu merupakan data orang-orang yang akan berangkat umrah dan mengurusinya di Kemenag Cilegon, sehingga bisa domisili mana saja.  

“Angkanya selalu naik untuk Kemanag Kota Cilegon. Untuk rekomendasi pembuatan paspos sudah dilakukan secara online dimanapun yang terpenting surat-surat dari travel resmi ada,” katanya. (ismet/tohir/uri/fikri)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook