Saham Bank Banten Rp8 per Lembar

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Jumat, 28 Februari 2020 - 16:07:22 WIB   |  dibaca: 296 kali
Saham Bank Banten Rp8 per Lembar

SERANG, BANTEN RAYA – Bank Banten berencana menerbitkan saham baru untuk penambahan permodalan sebanyak 400 miliar lembar senilai Rp1,2 triliun mulai April mendatang. Kepemilikan saham akan dilakukan melalui mekanisme hak memesan efek terlebih dahulu (HMTED) atau right issue dengan harga Rp8 per lembarnya.Demikian terungkap dalam coffee morning awak media dengan manajemen Bank Banten di salah satu restoran di Kota Tangerang, Kamis (27/2).

Direktur Utama Bank Banten Fahmi Bagus Mahesa mengatakan, pihaknya telah mendapat persetujuan untuk menggelar right issue pasca menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB). Ada tiga yang yang disetujui dari rapat tersebut, pertama terkait perubahan anggaran dasar perseroan sehubungan dengan pengeluaran saham baru perseroan.

“Kedua, persetujuan peningkatan modal pasar, modal ditempatkan dan modal disetor dengan memberikan HMTED. Ketika, terkait perubahan anggaran dasar pasal 3 untuk disesuaikan dengan klasifikasi baku lapangan usaha Indonesia (KBLI) 2017. Rapat dihadiri oleh pemegang saham mewakili 67,57 persen dari seluruh jumlah saham sebanyak 64.109.403.357 lembar,” ujarnya.

Mantan bankir Bank Jabar Banten (BJB) itu menuturkan, perseroan telah mendapat persetujuan dalam RUPSLB untuk melaksanakan right issue. Jumlah maksimal saham baru yang akan diterbitkan sebanyak-banyaknya 400 miliar lembar. Jumlah itu setara dengan 40 persen. “Setara dengan 40 persen modal dasar dengan nilai nominal Rp8 per lembar saham,” katanya.

Penerbitan saham baru akan dibagi dalam dua tahap, tahap pertama atau penawaran umum terbatas (PUT) VI digelar pada April. Pada kesempatan pihaknya menargetkan ada penambahan modal senilai Rp500 miliar. Sementara tahap dua atau PUT VII akan digelar sekitar Desember 2020 hingga Januari 2021 dengan target senilai Rp700 miliar. “Sebelumnya kami sudah melaksanakan PUT I sampai V, jadi sekarang PUT VI dan VII,” ungkapnya.  

Dijelaskan Fahmi, pelaksanaan right issue sebanyak dua tahap adalah untuk memfasilitasi Pemprov Banten untuk tetap menjadi pemegang saham mayoritas. Sebab, pemprov baru akan mengalokasi tambahan penyertaan modal pada Perubahan APBD 2020 sehingga bisa ikut di PUT VII.

“Makanya kami di RUPSLB meminta persetujuan untuk PUT VI dan VII, antisipasi masuknya Pemprov Banten di PUT VII melalui APBD perubahan. (Besaran modal yang diberikan pemprov) berharap sisa dari perda dihabiskan semua Rp335 miliar,” tuturnya.

Lebih lanjut dipaparkannya, karena ini adalah PUT, maka saham yang akan diterbitkan diperuntukan bagi investor lama. Jika memang saat dilepas ke pasar modal ada yang tak terserap maka pihaknya baru akan mengajak investor baru untuk masuk.

Dia berharap, rencana aksi korporasi ini bisa berjalan dengan lancar dan berdampak positif pada permodalan bank plat merah tersebut. Dengan demikian Bank Banten bisa mendapat kepercayaan lebih dari masyarakat. “Ketika trust (kepercayaan-red) masuk tidak hanya masyarakat, kabupaten/kota juga akan lebih kuat. Saya pikir ini momentum,” ujarnya.

Disinggung bagi mereka yang berminat terhadap right issue, Fahmi mengungkapkan para investor bisa menghubungi PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia. “Kami menunjuk PT Bahana untuk mengelola right issue. Perusahaan BUMN (badan usaha milik negara),” ungkapnya.

Pelaksana tugas (Plt) Komisaris Utama Bank Banten Media Warman mengatakan, pada dasarnya bank adalah sebuah usaha padat modal. Dengan demikian maka sangat wajib untuk menjaga rasionya. Terkait hal itu, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki dari Bank Banten terutama struktur permodalan. “Terakhir OJK (Otoritas Jasa Keuangan) menyampaikan modal Bank Banten harus ditingkatkan. Kalau tidak maka akan diturunkan menjadi BPR (bank perkreditan rakyat),” katanya.

Mantan anggota DPRD Provinsi Banten itu menjelaskan, dalam diskusinya dengan OJK, modal inti yang harus dimiliki Bank Banten adalah Rp3 triliun. Sementara saat ini modal inti yang dimiliki adalah di bawah Rp1 triliun. “Kita modal inti baru ratusan miliar, makanya kami lakukan aksi korporasi untuk pemenuhannya. Modal inti yang diupayakan 2020 senilai Rp1 triliun, 2021 Rp2 triliun dan 2022 Rp3 triliun,” imbuhnya.

Ia menegaskan, penerbitan saham baru merupakan salah satu aksi korporasi yang disiapkan agar kecukupan modal itu bisa terpenuhi. Terkait harga saham baru Rp8 per lembar, diakuinya hal itu ditetapkan melalui mekanisme yang bisa dipertanggung jawabkan. 

“Itu hasil jasa penilai independen. Dalam setiap perencanaan Bank Banten, kami meminta pendampingan dari Kejaksaan Agung selaku pengacara negara dan OJK, kami tidak mau salah langkah. Jika aksi korporasi berjalan dengan baik  di 2021 kami sudah bisa dapat untung,” tuturnya. (dewa)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook