Pakai Logo Peci Miring, Punya Cita Rasa Berbeda

nurul roudhoh   |   Serang Raya  |   Selasa, 17 Maret 2020 - 15:38:44 WIB   |  dibaca: 99 kali
Pakai Logo Peci Miring, Punya Cita Rasa Berbeda

tAK KALAH NIKMAt: Agus Mashuri pemliki kopi cap Abah (kanan) menunjukan salah satu varian kopi cap Abah disela-sela kegiatan pameran di Korpri Kabupaten Serang, belum lama ini.

SERANG – Bagi masyarakat Indonesia, kopi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, belakangan ini bisnis kopi semakin menjamur. Salah satu kopi yang mungkin perlu dicoba yitu, kopi Cap Abah yang memadukan kopi hitam dengan gula aren.

Kopi cap Abah yang menggabungkan kopi hitam dari Liwa, Lampung Barat, dengan gula aren asal Lebak mungkin belum banyak dikenal oleh masyarakat secara luas. Karena kopi tersebut baru tahun ini diproduksi. Namun terkait dengan rasa, kopi cap Abah bisa dibilang tidak kalah nikmat dengan kopi-kopi lain yang biasa dijual di kafe-kafe maupun di pasaran.

Kopi cap Abah diberi logo oleh pemiliknya bernama Agus Mashuri menggunakan peci agak sedikit miring dan sedikit berjenggot serta berkumis tebal. "Ini kopi baru, ini sebenarnya produk kreatif karena kita menggabungkan dua sumber yaitu, kopi dari Lampung dan gula aren dari dari Lebak, Banten," kata Agus saat ditemui di Korpri Kabupaten Serang, Kamis (5/3).

Produk kreatif tersebut oleh pemiliknya disebut sebagai produk masterpiece untuk mengangkat regional Kabupaten Serang. "Logonya kita pakai peci miring dikit yang merupakan ciri khas pedagang tradisional. Kalau pecinya lurus kan anggota dewan, kalau terlalu miring kan tukang gaple," ujar pria berambut gondrong itu sambil tertawa lepas.

Adapun penggunaan gula aren, Agus memiliki fisolofi yang menunjukan masyarakat Kabupaten Serang yang agamis. "Aren itu bentuk Islamisasi nusantara. Kolang kaling buah yang kalau bulan puasa banyak ditemukan di mana-mana, sementara di bulan yang lain agak susah. Jadi kolang kaling itu semacam kurmanya orang Indonesia," tuturnya.

Terkait dengan kopi yang digunakan berasal dari Liwa, Lampung Barat, Agus menuturkan, selain stoknya yang banyak, juga rasanya yang berbeda dengan kopi-kopi yang lain dan tidak bisa ditanam di Kabupaten Serang. "MdPL (meter di atas permukaan laut)-nya itu enggak ketemu. Jadi kontur geografis kita enggak bisa buat tanam kopi. Kalau rasa ada yang pahit, wine, natural, dan ada juga yang manis," ungkapnya.

Sebelum diproduksi secara massal, kopi cap Abah terlebih dahulu dilakukan sosial eksperimen ke beberapa daerah dengan membuat gramasi atau takaran yang kemudian disimpan di beberapa daerah. “Kita uji coba, dari sekian lidah akhirnya ketemu garis merahnya. Untuk kemasan kita buat sachetan yang kita jual Rp1.000 per sachet. Filosofi kita arus bawah, jadi kalau punya duit Rp 5.000 bisa beli kopi sekaligus beli rokoknya juga,” katanya.

Untuk mendapatkan kopi yang berkualitas dengan cita rasa yang tinggi, peracik yang digunakan pun yang telah memiliki sertifikat yang menguasai tentang kopi. “Kopi cap Abah ini aman diminum oleh mereka yang punya penyakit lambung. Insya Allah kopi cap Abah ini akan kita launching pada 27 Rajab (Minggu 22 Maret 2020) bersamaan dengan peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW,” tuturnya.

Tidak hanya mencari keuntungan semata, Agus juga bersama teman-temannya yang memproduksi kopi cap Abah juga memberikan edukasi kepada masyarakat yang ingin belajar tentang seluk beluk kopi dan ingin belajar meracik kopi. “Siapa saja yang datang kita ajari, karena kita juga ingin berbagi pengetahuan dalam usaha kami,” ujarnya.

Sedangkan untuk pengemasannya sendiri, Agus melibatkan warga sebagai bentuk pemberdayaan dan berbagi usaha dengan masyarakat di sekitar kopi cap Abah diproduksi. “Kalau berbicara gudang, gudangnya ada di rumah-rumah warga. Kita hanya mengolah saja, untuk pengemasannya oleh ibu-ibu rumah tangga. Kita memberdayakan ibu-ibu agar juga ada penghasilan,” katanya. (TANJUNG)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook