RSUD Banten Jadi RS Khusus Korona

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Senin, 23 Maret 2020 - 13:18:47 WIB   |  dibaca: 176 kali
RSUD Banten Jadi RS Khusus Korona

PUSAT PENANGANAN KORONA: Suasana ruang tunggu atau lobi utama RSUD Banten, Minggu (22/3). Fasilitas kesehatan milik Pemprov Banten ini akan dijadikan sebagai rumah sakit khusus penanganan virus korona mulai Rabu (25/3) mendatang.

SERANG, BANTEN RAYA - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banten tak lagi menerima pasien umum sejak kemarin, Minggu (22/3). Fasilitas kesehatan milik Pemprov Banten itu direncanakan menjadi rumah sakit khusus penanganan pasien kasus virus korona atau Covid-19 mulai Rabu (25/3) mendatang.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti mengatakan, pihaknya telah melakukan persiapan untuk menghadapi pandemik korona. Terbaru, pihaknya akan menjadikan RSUD Banten sebagai RS yang sepenuhnya dioperasikan khusus untuk pelayanan pasien korona.

“Hari ini (kemarin) sudah enggak menerima pasien umum. Rabu (25/3) besok sudah mulai mengoperasionalkan RSUD Banten seluruhnya untuk pasien covid. Tidak lagi menerima untuk pasien umum sementara waktu selama tiga bulan ke depan,” ujarnya kepada wartawan, Minggu (22/3).

Mantan Direktur Utama RSUD Kota Tangerang itu menjelaskan, penetapan RSUD Banten sebagai RS khusus korona dikarenakan mulai penuhnya kapasitas RS rujukan korona. Selain itu juga kebijakan itu disiapkan untuk mengantisipasi adanya lonjakan kasus dari virus tersebut.

“Jadi RSUD Banten 250 bed (ranjang) benar-benar hanya untuk pasien covid. Jadi kami hanya menerima pasien suspect maupun yang terkonfirmasi covid. Semua bed yang ada sebagai ruang isolasi. Biar selama ini yang kesulitan mendapat rujukan penuh kami tampung,” katanya.

Untuk penerapannya, kata dia, pasien yang kini mendapat perawatan di RSUD Banten akan mulai dipindahkan ke sejumlah RSUD milik pemerintah kabupaten/kota pada hari ini. Terkait hal itu, pemprov telah menjalin kerja sama untuk kelancarannya.

“Peralatan Senin sudah siap, Senin dikosongan, Selasa kita simulasi, Rabu kita ready. Ini juga Pak Gubernur dibantu IDI (Ikatan Dokter Indonesia) dan berbagai perhimpunan dokter spesialis bekerja sama (RSUD Banten) untuk dijadikan RS pusat covid,” ungkapnya.

Masih berkaitan dengan fasilitas kesehatan, pihaknya terus memerkuat RS rujukan korona di Banten. Saat ini, RS rujukan korona di Banten berjumlah lima yaitu RSUD Banten, RSUD Drajat Prawiranegara, RSUD Balaraja, RSUD Kabupaten Tangerang dan RSUD Siloam Kepala Dua.

“Sekarang ini hampir seluruh rumah sakit yang ada di Banten terutama yang punya ruang isolasi mereka sudah merawat PDP (pasien dalam pengawasan) walaupun rujukan kami secara resmi hanya lima,” tuturnya.

Diungkapkan Ati, adapun yang kini menjadi kendalanya adalah mulai sulitnya pemprov memeroleh alat perlindungan diri (APD) kesehatan. Hal yang sama juga terjadi pada alat rapid test atau tes cepat karena kini diprioritaskan untuk terlebih dahulu memenuhi kebutuhan pemerintah pusat. Sementara untuk obat-obatan dia menjamin ketersediaannya.

“Bukan hanya rapid test tapi APD ini sulit untuk mendapatkannya. Rata-rata inden (pesan) di April, lama sekali, kita kekurangan juga APD. Harapan kita pemerintah pusat akan memberikan APD lalu mengendalikan penyedia barang alkes (alat kesehatan) penanganan covid. Jadi ketika pesan tidak sulit,” ujarnya.

Disinggung soal perbedaan data jumlah kasus positif di pemerintah pusat dengan yang dirilis Pemprov Banten di situs infocorona.bantenprov.go.id, Ati mengaku hal itu bisa saja terjadi. Sebab, data yang tercatat di situs milik pemprov berdasarkan domisili pasien."Kami menggunakan data domisili, bukan berdasarkan dia positifnya di daerah Banten. Kami pakai akses domisili, karena awal (pemerinah) pusat berdasarkan domisili," katanya.

Dipaparkannya, hingga akhir pekan kemarin rumah sakit di Banten sendiri menangani empat pasien yang positif Covid-19. Namun karena bukan warga Banten, data tersebut tidak disampaikan. Menurutnya, pelacakan dan penanganan pasien korona oleh Dinkes Banten menggunakan akses domisili.

"Kan tujuan data surveillance memastikan rantai penularan, jadi harus tracing (melacak) kontak, benar warga Banten, siapa yang kontak erat dengan warga Banten. Kalau bukan warga Banten kita tidak mungkin tracing di Jakarta misalnya," paparnya.

Informasi yang dihimpun, berdasarkan rilis pemerintah pusat hingga kemarin ada kasus positif korona di Banten berjumlah 47 orang dengan 3 di antaranya meninggal. Sementara data yang dirilis infocorona.bantenprov.go.id yang diperbarui hingga pukul 18.00 terdapat 34 kasus dimana 4 di antaranya meninggal.

Adapun sebarannya terdiri atas Kabupaten Tangerang 1 sembuh dan 10 masih dirawat. Kota Tangerang 9 dirawat dan 1 meninggal. Kota Tangerang Selatan 10 masih dirawat dan 3 meninggal.

Direktur RSUD Banten Danang Hamsah Nugroho menegaskan, fasilitas kesehatan yang dipimpinnya siap dijadikan RS khusus korona. Adapun pasien yang kini masih ditangani akan dipindahkan ke sejumlah RS lainnya. Meski tak menerima pasien umum, pihaknya tetap menerima pelayanan gawat darurat melalui instalasi gawat darurat (IGD).“Pasien yang memakai SKTM (surat keterangan tidak mampu) juga kami alihkan sementara ke RS Sari Asih Kota Serang dan RSUD Kota Serang,” ujarnya.

Pantauan Banten Raya di RSUD Banten pada Minggu (22/3), kondisi rumah sakit sudah sepi. Akses masuk pun dibuat satu pintu melalui pintu utama. Akan tetapi ketika memasuki gedung RS, wartawan tak mendapat pemeriksaan seperti pengecekan suhu tubuh. Padahal, ada dua petugas pengamanan di sana, tapi wartawan bisa masuk ke gedung tanpa ada pemeriksaan apa-apa.

Sejumlah sudut gedung juga nampak sedang ada kegiatan pembangunan sebagai persiapan menjadi RS khusus korona. Pasien Isolasi Meninggal di RSDP Sementara itu, satu orang pasien dalam pengawasan (PDP) yang dirawat di ruang perawatan virus korona atau corona virus disease (Covid-19) Rumah Sakit Dradjat Prawiranegara (RSDP) Serang dinyatakan meninggal dunia pada Sabtu (21/3) pukul 02.00. Pasien asal Kabupaten Pandeglang tersebut dikabarkan sebelumnya memiliki riwayat melakukan perjalanan ke Jakarta.

Humas RSDP Serang Khoirul Anam mengatakan, pasien yang meninggal dunia tersebut berjenis kelamin laki-laki dan berusia 52 tahun. “Pada Jumat (20/3) pukul 15.40, RSDP Serang menerima pasien dari Pandeglang. Setelah dilakukan pemeriksaan di IGD pada pukul 22.24, pasien dipindah ke ruang perawatan Covid, dan pada pukul 02.00 pasien meninggal dunia,” kata Anam, Sabtu (21/3).

Ia mengungkapkan, saat datang ke IGD pasien mengalami keluhan seperti yang dialami lima pasein PDP lainnya yang saat ini masih dirawat di ruang isolasi dan ruang perawatan Covid-19,  seperti batuk, pilek, dan mual-mual. “Pasien habis melakukan bepergian dari Tanah Abang blok F, Jakarta. Untuk swab sudah kita kirim ke Jakarta. Untuk pemakamamnya standar pasien infeksius meskipun belum tahu hasilnya,” ujarnya.

Sementara itu, jumlah orang dalam pemantauan (ODP) di Kabupaten Serang terus mengalami penambahan. Terbaru sampai dengan Sabtu (21/3), jumlah ODP di Kabupaten Serang sebanyak 44 yang tersebar di 15 kecamatan yakni Kecamatan Kramatawatu, Waringinkurung, Mancak, Padarincang, Ciomas, Kragilan, Baros, Cikeusal, Pamarayan, Lebawangi, Bandung, Kopo, Tirtayasa, Carenang, dan Kecamatan Cikande.  “Untuk yang PDP satu orang di Kecamatan Kragilan,” ujar Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang Agus Sukmayadi.

Sementara itu, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Pandeglang Entus Bakti mewakili Bupati Pandeglang Irna Narulita melakukan takziah ke rumah keluarga PDP korona, di Kecamatan Mekarjaya. "Kami diutus mewakili Ibu Bupati untuk mengucapkan turut berduka cita. Mudah-mudahan diberi kesabaran untuk keluarga yang ditinggalkan," ujarnya.  (dewa/tanjung/yanadi)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook