Siswa Cepat Bosan, Kuota Internet Membengkak

nurul roudhoh   |   Metro Cilegon  |   Kamis, 26 Maret 2020 - 14:57:31 WIB   |  dibaca: 187 kali
Siswa Cepat Bosan, Kuota Internet Membengkak

MENGAJAR DI RUMAH: Guru SMA Al Irsyad Rahmat Heldy tengah mengajar secara online di kediamannya Kampung Rencong, Desa Sukabares, Kecamatan Waringinkurung, Kabupaten Serang, Selasa (24/3).

CILEGON, BANTEN RAYA - Penerapan sistem belajar di sekolah mendapat tanggapan beragam dari murid, guru, dan orangtua murid. Ada yang menjalaninya dengan mudah, ada pula yang belum terbiasa.

Siswa Kelas X SMAN 3 Kota Cilegon Ardiyansyah mengaku tak kesulitan menjalani sistem belajar di rumah. Setiap hari (mulai Senin sampai Jumat) dirinya belajar secara daring sesuai jadwal mata pelajaran sekolah. Ada sejumlah aplikasi yang dijadikan untuk belajar, yaitu telegram, google classroom, dan whatsapp (WA).“Setiap hari sesuai dengan jadwal mata pelajaran yang sudah ada, bedanya kelasnya dibuka dari jam 8 sampai pukul 10.00 saja,” katanya kepada Banten Raya, Rabu (25/3).

Namun menurut Ardi, panggilan Ardiyansyah, setiap hari ada saja sejumlah temannya yang tak ikut belajar online akibat tidak ada kuota dan belum bangun tidur. Sebab, setiap harinya guru mengirimkan tugas dan harus dikerjakan dalam bentuk makalah portable document format (PDF) mempresentasikannya lewat voice note (VN) dan catatan biasanya difoto untuk kirim ke grup dalam aplikasi.

“Banyak (murid) yang alpa mungkin karena masih tidur dan juga kuota (internet) habis. Sebab kebanyakan memang kendalanya itu soal kuota. Kalau saya sendiri karena ada internet di rumah, jadi tidak lagi mikir soal kuota,” ucapnya.

Ardi menjelaskan, tidak semua tugas yang diberikan itu bisa dikerjakan. Sebab, ada juga tugas sulit dipahami untuk dikerjakan, sementara dirinya tidak mendapatkan penjelasan langsung seperti saat belajar di kelas. “Kalau media itu tetap terbatas, berbeda dengan langsung bertanya dan mendapatkan materi di kelas. Jadi ada saja kendala kalau tugasnya itu sulit,” imbuhnya.

Hal lainnya yang tidak didapatkan dalam belajar di rumah, papar Ardi, karena tidak ada interaksi dengan teman-teman, sehingga pelajaran dianggap terlalu membuat bosan.“Tidak ada teman jadi mudah bosan, tidak bisa berinteraksi dan saling bertanya,” paparnya.

Sementara itu, siswi kelas VIII SMPN 5 Cilegon Nurma Syawaliyah mengungkapkan, ada puluhan halaman LKS yang setiap hari dikerjakan olehnya saat belajar di rumah. Nantinya tugas tersebut difoto dan dikirim kepada guru melalui aplikasi WA untuk mendapatkan penilaian. Tugas yang dikerjakan sendiri itu sesuai dengan jadwal pelajaran.“Ada 10 halaman setiap harinya yang dikerjakan untuk satu pelajaran. Ini selalu dikerjakan,” ungkapnya.

Nurma menambahkan, belajar di rumah menjadi lebih mudah karena tidak ada jam belajar  yang ditentukan guru. Yang terpenting tugas bisa dikerjakan dan disampaikan saat petang. “Enaknya tidak terlalu terburu-buru, bisa santai soalnya bisa sore di kumpulkan tugasnya,” imbuhnya.

Terpisah, salah seorang guru SMAN 5 Kota Serang Iin Indasari mengaku mengajar tatap muka di sekolah lebih gampang dibanding harus mengajar di rumah (online). Menurutnya, sistem mengajar di rumah belum terbiasa dilakukan olehnya.“Mungkin karena belum terbiasa, jadi saya merasa lebih ringan jika tatap muka,” ujar Iin, Rabu (24/3).

Saat menerapkan sistem belajar di rumahnya, Iin merasa mengalami berbagai kendala yang dihadapi saat memberikan materi kepada peserta didiknya. Salah satunya dari keterbatasan akses internet yang dimiliki oleh para siswa di wilayahnya masing-masing.

Sebab dirinya dalam menerapkan sistem belajar jarak jauh tersebut baru sebatas menggunakan aplikasi WA. Walhasil, ia mengaku kerap kerepotan meladeni siswa-siswanya yang bertanya dan minta dijelaskan ulang materinya. Sehingga dirinya butuh waktu lebih lama untuk memeriksa atau mengoreksi tugas satu per satu para peserta didiknya.

“Saya baru mengandalkan media WA. Kalau untuk pengumpulan tugas pake email. Pakai daring belum siap, anak-anak juga. Aplikasi WA aja tidak semua punya, apalagi daring. Mungkin ini bisa diminimalisir jika sudah menggunakan aplikasi kelas daring atau video conference,” keluh dia.

Tak hanya itu, lanjut Iin, selama menerapkan sistem belajar di rumah, dirinya harus merogoh kocek pribadi untuk membeli pulsa atau kuota internet telepon selulernya.“Untuk pulsa biaya sendiri dan gak ngitung berapa biaya internetnya,” sebutnya.

Ia menerangkan, dirinya masih belum menggunakan sistem daring karena lebih ke alasan pribadi, bukan alasan profesional. Selain itu, Iin juga mengaku belum siap untuk meluangkan waktu full mengajar dari rumah, mengingat fungsi dirinya sebagai ibu yang harus mengurus rumah dan anak.

“Jadi kalau di rumah tuh kurang bisa konsentrasi, kalau untuk pembelajaran langsung. Nah kalau via WA kan saya lebih leluasa mengatur waktu. Dan sekolah belum mewajibkan seluruh guru untuk menggunakan aplikasi ruang belajar online, karena secara hukum yang mengakibatkan ada sanksi. Baru bersifat imbauan aja,” terang Iin.

Hampir serupa dikatakan guru SMA Al Irsyad Waringin Kurung Rahmat Heldy. Sejak ada pemberlakuan sekolah di rumah, dirinya mengalami beberapa kendala mulai dari jaringan internet, cuaca, sampai keluarga. Namun untuk keluarga, ia mengaku masih bisa mengondisikan, namun untuk cuaca, listrik padam, hujan, dan petir, ia merasa kerepotan juga.“Kalau yang terkendala cuaca, mati lampu dan hujan beserta guntur bisa kita geser di jam yang kosong sesuai kesepakatan,” ujar Rahmat.

Ia juga mengakui penerapan sistem belajar di rumah lebih berat ketimbang di tatap muka di sekolah. Namun untuk yang terbiasa menggunakan kelas online, guru merasa lebih enjoy dengan menggunakan kelas online.“Saya sendiri merasa senang menggunakan pembelajaran online, karena tidak banyak keluar biaya dan nyaman di rumah. Tinggal materi yang ada pada salin,  tinggal kita olah lagi dan masukan ke grup, jadi lebih mudah dan cepat,” katanya.

Dampak dari pemberlakuan sekolah di rumah, ia pun harus merogoh kantong pribadinya untuk membeli kuota internet. Namun akibat dari pengeluaran itu ia merasa tidak sampai membuat dirinya tekor. “Saya pakai yang Rp 100 ribu yang unlimited Kang. Sebulan biasanya,” ujar dia.

Sementara itu, para orang tua yang membantu anak mereka belajar di rumah selama masa darurat korona menyatakan suasana belajar di rumah terasa sulit dilakukan, karena mereka juga memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan setiap harinya. Lebih dari itu, orang tua khawatir anak mereka ketinggalan pelajaran karena pelajaran yang didapatkan lebih sedikit dibandingkan saat mereka belajar di sekolah.

Taufik Ghani, warga Kompleks Harjatani Permai, Kramatwatu, Kabupaten Serang yang anaknya sekolah di SD Negeri Serdang II mengatakan, pada dasarnya ia setuju dengan belajar di rumah semasa darurat korona ini, demi kesehatan anak.

Hanya saja sebagai orang tua ia khawatir anaknya yang bernama M Farell Arrafi akan tertinggal jauh pelajaran bila belajar di rumah dilakukan dalam waktu lama.“Sebagai orang tua khawatir anak bakal kelewat jauh dari kurikulum yang harusnya didapetin dari belajar di sekolah,” kata Taufik.

Ia mengatakan bahwa belajar di rumah tidak lebih santai dibandingkan dengan belajar di sekolah. Sebagai orang tua tunggal, ia mengaku sangat kerepotan menemani anaknya belajar di rumah. Apalagi, bila tugas yang diberikan kepada anaknya tidak disertai dengan contoh dalam bentuk video yang memudahkan anak menyerap materi pelajaran.“Jadinya mau enggak mau harus buka Google atau Youtube dulu,” katanya.

Ia mengungkapkan bahwa dalam sehari biasanya ada satu sampai dua tugas yang diberikan oleh guru dan harus dikerjakan oleh anak. Orang tua diminta untuk memfoto aktivitas anak saat mengerjakan tugas sebagai bukti yang harus dikirimkan ke grup WA berisi guru dan wali murid. Masalahnya, ia sendiri bekerja sejak pagi sampai sore, setiap hari. “Jadi cuma bisa ngerjain malam hari pas pulang kerja,” katanya.

Beruntung, guru mengerti kondisi orang tua sehingga mengerjakan tugas pada malam hari pun tidak menjadi masalah.Terkait kemampuan anaknya mengikuti pelajaran, Taufik menyatakan hal itu bergantung pada sukar atau tidaknya materi dari pelajaran yang diberikan guru. Bila materi dan soalnya mudah maka anaknya akan mampu menyelesaikan tugas. Namun bila soal terlalu sulit, jangankan anaknya, ia sendiri pun susah menjawabnya.

“Kalau soal kuota internet alhamdulillah enggak begitu nyedot. Hanya saja namanya belajar di rumah, tentu jauh lebih sedikit ilmu yang diserap anak-anak. Ini terbukti dari anak yang sering kesulitan saat ngerjain tugas,” ujarnya.

Hayati Nufus, warga kompleks Taman Banten Lestari (TBL), Kota Serang yang anaknya bersekolah di SD Peradaban Serang, mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara belajar tatap muka di sekolah dengan belajar di rumah saat ini. Yang berbeda, belajar dilakukan secara daring dengan menggunakan aplikasi Edmodo.

Setiap pagi, sebagaimana di sekolah, setiap anak harus mengisi absen yang dilakukan oleh orang tua mereka di absen yang tersedia. Setelah itu, anak diminta salat duha dan menghafal surat pendek serta doa harian.“Setiap solat atau waktu wudhu orang tua diminta memfoto anaknya lalu harus dikirim ke aplikasi Edmodo itu,” kata Nufus.

Selama belajar, kata Nufus, ia meminta anak pertamanya yang bernama Hilya Fitria itu tidak menonton televisi. Sebagaimana lazimnya anak-anak, ketika berada di rumah mereka seperti tidak sadar bahwa hari itu adalah hari sekolah dan mereka harus tetap belajar. Karena itu ia kerap mengingatkan anaknya agar tetap fokus belajar.

Setiap hari, guru akan mengirimkan materi ke aplikasi Edmodo berbentuk video. Semua siswa harus menonton dan memperhatikan isi video tersebut sampai mereka mengerti. Sejak pukul 09.00 sampai dengan 12.00 semua anak, dibantu orang tua mereka, dapat mengajukan pertanyaan bila ada yang belum jelas dari materi yang dibagikan.“Orang tua jadi teman belajar anak jadinya,” katanya.

Nufus menyatakan bahwa yang merepotkan adalah ketika ia selain mendampingi anak pertamanya belajar juga harus mengurus rumah dan anak keduanya yang masih bayi. Karena itu ia harus bisa membagi waktu dan prioritas selama menemani anaknya belajar di rumah. (harir/tohir/uri)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook