Banten Dapat 3.600 Rapid Test

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Kamis, 26 Maret 2020 - 15:09:47 WIB   |  dibaca: 158 kali
Banten Dapat 3.600 Rapid Test

SERANG, BANTEN RAYA – Banten mendapat jatah alat rapid test atau tes cepat sebanyak 3.600 unit dari pemerintah pusat, Rabu (25/3). Sasaran penggunaan alat tersebut ditujukan bagi mereka yang memiliki riwayat kontak dengan kasus positif hingga tenaga kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti mengatakan, untuk alat rapid test atau tes cepat dari pemerinah pusat yang berjumlah 3.600 unit. Alat tersebut selanjutnya akan didistribusikan ke kabupaten/kota. “Bantuan rapid test kami terima tadi (kemarin-red) pagi. Kami distribusikan ke delapan kabupaten/kota dan RSUB (Rumah Sakit Umum Banten) sebagai RS pusat rujukan covid di Provinsi Banten,” ujarnya, kemarin.

Mantan Direktur Utama RSUD Kota Tangerang itu menjelaskan, waktu pelaksanaan tes cepat sendiri sepenuhnya diserahkan kepada dinkes kabupaten/kota pada hari ini. Mengingat ketersediaan alat tes yang terbatas maka pihaknya telah menetapkan prioritas sasaran.

“Rapid test diprioritaskan untuk PDP (pasien dalam pengawasan), ODP (orang dalam pemantauan), petugas kesehatan yang kontak erat dengan PDP. Lalu yang terakhir adalah masyarakat yang kontak erat dengan kasus terkonfirmasi atau positif (terinfeksi Covid-19),” katanya.

Selain alat tes cepat, kata dia, pihaknya juga telah menerima bantuan APD sebanyak 5.000 set berupa baju pelindung. “Ini pun sudah kami distribusikan melalui dinkes kabupaten/kota dan RSUB,” ungkapnya.  

Lebih lanjut dipaparkan Ati, terkait hari pertama beroperasinya RSUB sebagai RS khusus korona pihaknya telah menerima total tujuh pasien. Pasien merupakan PDP rujukan dari RS yang ada di Banten. Hingga kemarin, pihaknya juga sedang menunggu pasien rujukan dari 14 RS di Banten.

“Bila (tes) swab sudah dilakukan di RS pertama, kami tidak melakukan periksa swab ulang. Kami  menunggu hasil dari pemeriksaan yang pertama, kecuali jika pasien yang dirujuk belum dilakukan swab kami yang melakukan swab,” tuturnya.

Untuk data jumlah kasus, hingga kemarin terdapat 50 warga Banten yang positif terinfeksi korona. Rinciannya, Kabupaten Tangerang 16 masih dirawat dan 1 sembuh. Kota Tangerang 13 masih dirawat dan 3 meninggal. Terakhir, Kota Tangerang Selatan 14 masih dirawat dan 3 meninggal. “Pasien yang positif ada di Tangerang Raya. Sedangkan kabupaten/kota lainnya belum,” ujarnya.

Sementara untuk ODP berjumlah 1.212 yang tersebar di delapan kabupaten/kota. Rinciannya, Kabupaten Pandeglang 182 dipantau dan 1 sembuh, Kabupaten Serang 194 dipantau dan 6 sembuh, Kabupaten Tangerang 132 dipantau dan 51 sembuh. Kota Tangerang 233 dipantau dan 36 sembuh, Kota Tangerang Selatan 190 dipantau dan 12 sembuh, Kota Serang 40 dipantau dan 2 sembuh, Kota Cilegon 93 dipantau dan 1 sembuh serta Kabupaten Lebak 30 dipantau dan 9 sembuh.

Sedangkan untuk PDP berjumlah 180 orang dengan rincian di Kabupaten Pandeglang 3 dirawat dan 2 sembuh, Kabupaten Serang 3 dirawat dan 3 sembuh, Kabupaten Tangerang 33 dirawat dan 6 sembuh. Kota Tangerang 32 dirawat dan 4 sembuh, Kota Tangerang Selatan 87 dirawat dan 2 sembuh, Kota Serang 5 dipantau. Lalu untuk Kota Cilegon serta Kabupaten Lebak nihil.“Di Provinsi Banten ada 113 RS untuk ODP, 4 RS untuk PDP dan 1 RS pusat rujukan covid,” paparnya.   

Untuk menekan penyebaran Covid-19, Pemprov Banten telah melakukan sejumlah upaya lainnya seperti seruan menjaga  komunikasi dengan resiko secara langsung dan tidak langsung. Menggerakan physical distancing atau menjaga jarak dengan orang lain.

“Ada juga upaya dengan disinfektan di tempat-tempat umum, work from home (kerja dari rumah-red), school from home (belajar dari rumah-red). Tracing (melacak-red) kontak klinis dan non klinis, penambahan ruang atau ranjang isolasi hingga pengendalian harga dan ketersediaan bahan pokok dan alat kesehatan,” katanya.

Gubernur Banten Wahidin Halim mengatakan, untuk pemeriksaan pasien positif atau negatif Covid-19, Pemprov telah menyiapkan Laboratorium Kesehatan Provinsi Banten dan Laboratorium RSUD Tangerang. “Kami siapkan dana yang semula untuk proyek lain, semua kita konsentrasikan untuk pengadaan penanganan covid-19 demi kebaikan dan ketenteraman masyarakat,” jelasnya.

Pria yang karib disapa WH itu mengaku, berkomitmen membiayai RS khusus dari APBD, termasuk gaji tenaga medis hingga makan dan minumnya. RS khusus korona  dikelola secara khusus, ditangani dengan dokter-dokter khusus dan dibiayai juga secara khusus oleh pemprov.

“Semua aktivitas sosial agar memperhatikan protokol kesehatan. Bila perlu tidak melakukan aktivitas apapun yang berpotensi penularan sampai waktu yang ditinjau nanti. Mari bersama kita melawan corona untuk kita semua dan memberikan manfaat pada kita semua,” pungkasnya.

Terpisah, Ketua DPRD Provinsi Banten Andra Soni mengatakan, untuk saat ini seluruh persiapan pemprov telah sesuai dengan apa yang ungkap ke publik. Salah satunya adalah menjadikan RSU Banten sebagai RS khusus korona sudah baik berdasarkan pantauan saat inspeksi mendadak (sidak) pada Selasa (25/3).

“Apa yang dilakukan pemprov sudah sesuai dengan apa yang disampaikan masyarakat. Dengan ketua Komisi V berinisiatif melihat persiapan di RSU Banten. Memberikan dukungan moral kepada pengelola rumah sakit untuk memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat Banten,” ujarnya.  

Politikus Gerindra mengaku, tak bisa memberi kepastian apakah kesiapan di RSU Banten sudah optimal. Sebab, pelaksanaan pelayanan medis sebagian besar bersifat teknis. Adapun yang disampaikan pihak RS ke dirinya saat ini mereka telah menyiapkan sekitar 600 tenaga medis untuk melakukan penanganan kasus Covid-19.

“Intinya kita memberi support (dukungan-red) moral karena menjadi barisan terdepan enggak gampang. Kita saja mau ke sini (RSUD Banten-red) takut-takutan. Jadi kita harus kasih dukungan moril ke mereka (tenaga kesehatan-red), kita harus support mereka bahwa mereka adalah pahlawan,” katanya.

Sementara itu, salah satu mahasiswa Untirta dikabarkan positif Covid-19 dan saat ini dirawat di RSU Banten. Saharudin Didu, dosen pembimbing mahasiswa tersebut mengatakan, muridnya itu diduga terpapar virus korona dari ayahnya yang juga sebelumnya dinyatakan positif Covid-19.

"Kalau dari cerita mahasiswa saya ini, dia tertular saat merawat bapaknya yang sakit. Setelahnya dibawa ke rumah sakit, ternyata bapaknya positif Covid-19. Nah sesuai prosedur rumah sakit yang yang kontak dengan pasien positif Covid-19, harus menjalani pemeriksaan, dan hasilnya dia juga positif covid-19," kata Didu, Rabu (25/3).

Menurut Didu, mahasiswanya itu harus dirujuk ke RSU Banten lantaran rumah sakit di Tangerang untuk penanganan pasien Covid-19 penuh. Sebelum sakit, mahasiswanya tidak pernah ke kampus karena memang kampus sudah menerapkan kegiatan belajar mengajar dan bimbingan secara online. "Terakhir dia ini komunikasi dengan saya melalui aplikasi whatsapp minta bimbingan tanggal 15 Maret. Namun saya persilakan bimbingan secara online," ujarnya.

Perwakilan dari Untirta Akhmadi mengaku segera melakukan kroscek terkait dengan adanya mahasiswa Untirta yang positif Covid-19. Hasil dari kroscek tersebut akan dilaporkan ke Rektor Untirta Fatah Sulaiman untuk meminta arahan lebih lanjut. "Saya masih harus melakukan kroscek terlebih dahulu. Hasilnya akan saya laporkan ke Pak Rektor.

Apakah nanti akan diambil langkah kegiatan belajar mengajar online diperpanjang atau tidak? Saya menunggu arahan Pak Rektor. Namun untuk penanganan terhadap yang bersangkutan sudah ditangani RSUD Banten. Saya hanya bisa menyampaikan simpati, berdoa dan memberikan semangat agar yang bersangkutan bisa lekas sembuh," ujarnya.

Terpisah, Rumah Sakit Dradjat Prawiranegara (RSDP) Serang kembali menerima tiga pasien dalam pengawasan (PDP) terduga Covid-19. Dua pasien berasal dari Kabupaten Serang yang masuk pada Sabtu (21/3) pekan lalu dan Selasa (24/3). Sedangkan satu orang PDP lainya berasal dari Kota Serang yang masuk ke RSDP Serang pada Sabtu (21/3).

“RSDP Serang kembali menerima penambahan dua PDP. Pertama berjenis kelamin laki-laki usia 27 tahun, masuk pada Selasa (24/3) pukul 01.30 WIB dengan gejala demam dan sesak. Kemudian yang kedua berjenis kelamin laki-laki usia 15 tahun, masuk pada Sabtu (21/3) pukul 21.15 WIB, gejala batuk, demam, dan sesak. Kedua-duanya berasal dari Kabupaten Serang,” ujar Humas RSDP Serang Khoirul Anam, Minggu (25/3).

Anam mengungkapkan, selain menerima PDP dari Kabupaten Serang, RSDP Serang juga menerima PDP dari Kota Serang berjenis kelamin perempuan usia 58 tahun yang masuk pada Selasa (21/3), pukul 17.00 WIB dengan gejala batuk, demam, pilek, dan diare. “Untuk swab sudah dikirim ke Litbangkes, Jakarta. Jadi total PDP yang masih dirawat menjadi enam orang. Total sampai hari ini (kemarin -red) ada 11 PDP yang sudah dan sedang ditangani,” katanya.

Terkait dengan tiga orang PDP yang berasal dari Kabupaten Tangerang dan Kota Serang, Anam menuturkan, kondisinya saat ini mulai membaik namun untuk hasil swab belum juga keluar. “Untuk hasil swab belum keluar. Kasian pasiennya padahal kondisinya sudah baik. Mungkin tujuh sampai 10 hari baru keluar, kita tunggu saja,” ungkapnya. (satibi/dewa/tanjung)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook