Idul Fitri Bisa-bisa Online

nurul roudhoh   |   Nasional  |   Senin, 30 Maret 2020 - 15:47:13 WIB   |  dibaca: 985 kali
Idul Fitri Bisa-bisa Online

JAKARTA - Wacana larangan mudik yang digaungkan pemerintah, diamini oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ormas Islam ini mengajak umat tidak mudik saat Lebaran. Merayakan Hari Raya Idul Fitri bisa menggunakan teknologi dalam jaringan (daring) guna mencegah penyebaran Covid-19."Silaturahim Idul Fitri tetap dilakukan. Namun secara daring. Online melalui teknologi komunikasi," kata Ketua Pengurus Harian Tanfidziyah PBNU Robikin Emhas di Jakarta, Sabtu (28/3).

Imbauan tersebut disampaikan sebagai salah satu upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. PBNU menilai tetap memaksakan diri untuk mudik dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Termasuk keluarga di kampung halaman."Kita tidak pernah tahu di tengah perjalanan menuju kampung halaman bisa saja tanpa sadar terjadi kontak fisik dengan orang terpapar Covid-19," jelasnya.

Apabila itu terjadi, mudik Lebaran tidak membawa kebahagiaan bagi keluarga dan lingkungan melainkan musibah penularan virus makin meluas. "Fiqih muamalah mengajarkan kepada kita jalbul-mashalih wa daf’ul-mafasid. Seluruh hal untuk meraih kemaslahatan dan menolak kemafsadatan atau kerusakan sesungguhnya adalah bagian dari perintah syariat," papar Robikin.

Apalagi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memperpanjang masa darurat bencana wabah virus korona hingga 29 Mei 2020. Karena itu, masyarakat diminta memahami keadaan tersebut demi kebaikan bersama.

PBNU, lanjutnya, mendorong umat bersikap adil dan proporsional baik dari aspek akidah, ibadah maupun muamalah. Takut hanya kepada Allah. "PBNU berharap semua pihak terutama umat muslim yang sebentar lagi melaksanakan ibadah puasa dan merayakan Idul Fitri, bisa menahan diri serta tidak mudik Lebaran hingga suasana kondusif," katanya.

Terpisah, pengamat sektor transportasi dari Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, mengharapkan pemerintah bisa mengalihkan alokasi anggaran mudik gratis tahun ini untuk bantuan sembako Lebaran bagi yang terdampak Covid-19. "Jika nantinya memang diputuskan program mudik gratis ditiadakan, maka anggaran mudik gratis dapat dialihkan kepada pemudik dalam bentuk voucher bantuan sembako Lebaran. Masyarakat yang mengikuti program mudik gratis tahun lalu lebih diprioritaskan. Data pemudik gratis itu masih ada dan bisa digunakan untuk pemberian bantuan tersebut," kata Djoko di Jakarta, Sabtu (28/3).

Pemerintah, lanjutnya, dapat bekerja sama pula dengan pengusaha mini market. Sehingga voucher tersebut mudah ditukarkan ke mini market terdekat. "Keputusan tidak mudik Lebaran tahun ini oleh Presiden sangat dinanti. Sementara ini, masyarakat diimbau tidak mudik Lebaran untuk menghindari meluasnya virus corona," paparnya.

Terpisah, pemerintah telah memeriksa sebanyak 6.500 orang terkait korona. Ini sejalan dengan munculnya penambahan kasus baru positif sebanyak 130 orang, sehingga jumlah sekarang menjadi 1.285 kasus positif. Untuk jumlah pasien meninggal dunia pun terus bertambah menjadi 12 orang. Sehingga saat ini sudah 114 kasus pasien Covid-19 meninggal dunia. Pilihan karantina wilayah pun dipandang tepat, dengan catatan jangan memperburuk distribusi logistik.

”Ada penambahan kasus baru positif sebanyak 130 orang, sehingga jumlah sekarang menjadi 1.285 orang. Mari kita sadari betul bahwa penambahan kasus positif ini, menggambarkan bahwa masih ada kasus positif yang belum melaksanakan isolasi,” terang Juru Bicara Pemerintah Indonesia untuk penanganan virus korona Achmad Yurianto, Minggu (29/3).

Dikatakan Yuri setidaknya sudah lebih dari 6.500 spesimen yang diperiksa. Dari jumlah itu, pasien Covid-19 yang dinyatakan sembuh bertambah lima orang, sehingga total yang sudah dinyatakan negatif Covid-19 sebanyak 64 orang. Penambahan angka kasus positif tersebut menggambarkan bahwa di lingkungan masyarakat masih ada kasus positif yang belum melaksanakan isolasi, dan masih ada penularan karena kontak dekat.

Oleh karena itu, Ahcmad meminta masyarakat untuk jaga jarak di dalam berkomunikasi sosial, baik dengan orang di luar rumah maupun di dalam rumah. ”Upayakan tetap berada di dalam rumah. Apabila terpaksa keluar rumah, maka jaga jarak, hindari kerumunan, kemudian gunakan masker, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, hindari menyentuh wajah, kemudian praktikan betul etika saat batuk dan bersin,” jelas Achmad.

Dia juga meminta masyarakat untuk memahami betul penularan penyakit Covid-19 yakni melalui percikan ludah atau droplet saat seseorang batuk dan bersin, sehingga menjaga jarak sangat disarankan, sekurangnya satu meter, sebab droplet dapat terhirup masuk ke saluran napas orang yang sehat, akibatnya akan tertular.

Lebih lanjut, Achmad menjelaskan, droplet dapat jatuh ke benda-benda sekitar yang sering disentuh secara bersama, dan tidak sadar disentuh orang lain juga, yang kemudian tanpa mencuci tangan menyentuh wajah, sehingga sangat memungkinkan terjadinya pemindahan virus menuju tubuh yang semula sehat. (fin)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook