UMKM: Pejabat Lebak Kurang Suka Produk Lokal

nurul roudhoh   |   Lebak  |   Rabu, 01 April 2020 - 12:56:07 WIB   |  dibaca: 73 kali
UMKM: Pejabat Lebak Kurang Suka Produk Lokal

LEBAK, BANTEN RAYA - Perajin anyaman bambu, koran, dan rotan di Kabupaten Lebak mengalami kesulitan memasarkan produknya. "Untuk pemasaran produk, jujur kami mengalami kesulitan. Tapi kalau dari hasil karya boleh diadu karena memang tidak kalah saing dengan daerah lain," kata Eko Sutrisno, salah seorang perajin bambu, koran dan rotan di Perumahan Ranau, Desa Bojongleles, Kecamatan Cibadak kepada Banten Raya di kantor Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak, Selasa (31/3).

Karya yang dihasilkan Eko di antaranya berupa toples, tempat tisu, wadah pensil, telur, nasi, miniatur kapal laut, boneka, beragam binatang dan lainnya. Dimana kesemuanya dibuat dari bahan baku berupa bambu, rotan dan koran. "Jadi untuk koran kita recycle dibuat sebuah produk multifungsi. Untuk hiasan oke untuk menyimpan barang juga oke, tentunya dengan harga terjangkau," katanya.

Eko mengatakan, harga sebuah toples dari anyaman bambu, koran dan bambu per buah dihargai Rp30 ribu. Satu buah toples memakan waktu tiga jam sekali buat. "Kalau dari segi harga sebetulnya murah namun sayang untuk produk UMKM ini belum begitu dilirik oleh warga dan juga para pejabat di Kabupaten Lebak. Kalau saja para pejabat peduli dan cinta produk Lebak maka kami besar kemungkinan tidak akan mengalami kesulitan dalam pemasaran," katanya.

Eko mengaku Optimis, para pelaku UMKM akan bangkit dan maju ketika para pejabatnya sudah mengoleksi karya orang Lebak. "Tidak perlu beli banyak, cukup dikoleksi di ruang kerja atau kantornya. Jika saja itu sudah dilakukan maka secara otomatis karya perajin akan semakin dikenal karena mengoleksi atau beli produk sama dengan memasarkan dan mencitai produk Lebak," katanya.

Eko berharap, keinginannya dapat direalisasikan karena ia memiliki visi ingin berkembang dan produknya bisa diterima masyarakat. Serta ingin membuka lapangan kerja baru seluas-luasnya. "Kalau usahanya jalan maka akan menambah banyak karyawan. Namun itu tadi dibutuhkan tangan para pejabat untuk ikut andil mempermudah akses penjualan produk,"katanya.

Eko mengaku, kerajinan tangan karyanya dapat dipesan sesuai keinginan pemesan.  "Jadi kita bisa buat miniatur leuit Baduy maupun lainnya. Tentu yang begitu itu kan sangat cocok untuk oleh-oleh kepada para tamu maupun wisatawan yang datang berkunjung baik itu kunjungan kerja maupun wisata," katanya.

Ketua UMKM Kabupaten Lebak dan selaku Ketua Koperasi UKM Lebak Sejahtera Ade Purna menuturkan, pemerintah daerah harusnya mendorong produk-produk dipasarkan di lokal. "Masyarakat kita itu kalau sudah mengenal produk kita, mereka akan memasarkan juga ini produk kami di medsos tapi kalau mereka tidak tahu tanda tanya mau bagaimana memasarinnya, kan," katanya.

Lebih lanjut Ade menegaskan, pemerintah daerah bisa mewajibkan jajarannya agar menggunakan produk lokal yang menggunakan bahan baku dari Kabupaten Lebak seperti kerajinan tangan dan makanan. "Itu alangkah bagusnya jadi pemasaran itu menurut saya digencarkan di tingkat lokal dulu, setelah lokal baru bisa bersaing ke luar daerah begitu," katanya.

Ade mengakui, selama ini pemda sudah mulai hadir di tengah-tengah pelaku UMKM dengan memberikan pembinaan. "Alangkah lebih baiknya pemerintah lebih fokus lagi, difokuskan lagi membantu memberikan solusi atas kendala dihadapi para pelaku UMKM, misal dari segi permodalan, akses pemasarannya.

Ini yang jadi kendala jangan sampai UMKM diberi modal oleh pemda tetapi akses pemasaran tidak dipikirkan. Akhirnya apa, modal diberi oleh pemerintah melalui perbankan lewat KUR tapi akses pemasaran tidak dibantu. Kalau bisa setiap OPD menggunakan atau belanja bahan kerajinan  dan makanan dari pelaku UMKM Kabupaten Lebak," katanya. (purnama)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook