Tidur di Kasur Lantai, Satu Kamar Diisi 25 Orang

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Kamis, 02 April 2020 - 15:22:10 WIB   |  dibaca: 199 kali
Tidur di Kasur Lantai, Satu Kamar Diisi 25 Orang

SUDAH CUKUP BAIK : Sekretaris Komisi V DPRD Banten Fitron Nur Ikhsan meninjau Pendopo Lama Gubernur Banten yang menjadi lokasi karantina tenaga kesehatan RSU Banten, Rabu (1/4) malam.

SERANG, BANTEN RAYA- Sekretaris Komisi V DPRD Provinsi Banten Fitron Nur Ikhsan menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke mess atau tempat karantina tenaga kesehatan di Pendopo Lama Gubernur Banten, Rabu (1/4) malam. Hasilnya, dia mendapati fasilitas tempat tidur yang berdesakan. Satu kamar ada yang diisi hingga 25 orang, dan sebagian lainnya tidur di kasur lantai.  

Sidak sendiri digelar sekitar pukul 19.00. Setibanya di pendopo lama gubernur, Fitron yang menggunakan jas hujan model mantel langsung menuju gedung eks Rumah Dinas Gubernur Banten, tepat berada di belakang Gedung Museum Negeri Banten. Sebelum memasuki mess, setiap yang akan masuk wajib melalui bilik disinfektan terlebih dahulu.

Di dalam mess dia menyempatkan diri bercengkrama dengan tenaga medis yang ada di sana. Mereka yang ada di sana merupakan pegawai medis Rumah Sakit Umum (RSU) Banten yang kini beroperasi sebagai RS pusat rujukan korona Banten sejak 25 Maret lalu. Dalam percakapannya itu, diketahui jika tenaga kesehata yang tinggal di sana berjumlah 90 orang.

Setelah bercengkarama, politikus Golkar itu langsung berkeliling. Melihat setiap ruang yang ada. Mulai dari ruang tamu, ruang tengah, kamar tidur, toilet hingga dapur diperhatikan.
Fitron kepada wartawan mengatakan, secara umum kondisi mess atau fasilitas karantina yang disediakan Pemprov Banten sudah cukup baik. Bahkan pelayanan makan dan minumnya mendapatan apresiasi darinya.

"Kondisinya sudah cukup manusiawi, hanya saja mereka ini garda penyelamat yang bertugas dalam rentang waktu yang cukup panjang sampai tiga bulan. Mereka harus terjamin segalanya terkait dengan kenyamanan, terkait dengan makan dan minum," ujarnya.

Wakil rakyat dari Dapil Kabupaten Pandeglang itu menuturkan, meski sudah cukup baik namun pihaknya menyoroti fasilitas kamar dan tempat tidur. Ia melihat kondisinya perlu mendapat perbaikan. Dijelaskannya dalam sidak itu, dia mendapati satu kamar yang diisi oleh 25 orang. Walau ukuran kamar cukup luas, namun jika ditempati pulhan orang tetap berdempetan. Bahkan sebagian dari mereka tidur di atas kasur lantai.

"Saya berpesan ke Kadinkes (kepala dinas kesehatan) dan dirut (direktur utama RSU Banten) kalau bisa ditingkatkan fasilitas tempat tidurnya. Jangan di bangsal, kasur di bawah, enggak harus ngampar. Satu kamar juga ada yang sampai diisi 25 orang," katanya.

Kondisi tempat tidur yang berjejer dengan jarak yang berdekatan, kata dia, membuat situasinya tak mengindahkan protool kesehatan Covid-19. "Jarak di antara mereka rentan, kalau satu terpapar (virus korona) bisa kena semua karena berkerumun, tidak standar (protokol) covid," ungkapnya.

Menurutnya, jika memang tak muat maka tak perlu dipaksakan semua tinggal di sana. Dia menyarankan Pemprov Banten untuk bekerja sama dengan hotel yang ada di Kota Serang.
"Bisa bekerja sama dengan hotel sekitar sini yang mau mendedikasikan. Sekarang kan lagi low season, tidak banyak tamu di hotel. Didesain paket isolasi, menyediakan tempat dan saya rasa menguntung juga secara ekonomi bagi hotel-hotel yang ada," tuturnya.

Selain fasilitas, Fitron juga mendorong agar para tenaga kesehatan itu diberikan penghargaan atas jasa-jasa. Terutama mereka yang berstatus sebagai pegawai honorer untuk dipertimbangkan diangkat menjadi ASN.

"Mereka siang malam bekerja, mereka juga harus dikarantina, meninggalkan keluarga. Tidak boleh berkomunikasi dengan keluarga karena persoalan protokoler covid. enggak boleh bersentuhan dengan keluarga, ini pengorbanan yang luar biasa. Mereka butuh jaminan, mereka sudah berkorban bukan hanya bertaruhkan waktu dan keluarga tapi nyawa," ujarnya.

Kepala Dinkes Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti mengatakan, pihaknya memang sengaja menyediakan fasiilitas karantina untuk tenaga kesehatan RSU Banten. Pendopo Lama Gubernur Banten dipilih karena dinilai paling representatif untuk digunakan. Baik dari segi kapasitas hingga fasilitas yang ada.

"Kasur-kasur sengaja kami langsung belikan, begitu juga mereka semua diberi makan tiga kali sehari. Mereka juga diantar jemput dari dan ke RSU Banten. Di rumah sakit tersendiri diberikan ekstra makan, dijamin vitaminnya mulai dari vitamin C, b komplek, E dan menggunakan APD (alat pelindung diri) sesuai standar WHO (organisasi kesehatan dunia)," paparnya.

Meski mereka yang tinggal di sana mencapai puluhan, namun tidak tinggal secara bersamaan. Mereka bekerja dibagi dalam empat shift sehingga fasilitas pendopo lama bisa digunakan dengan tidak menumpuk. Selanjutnya, para tenaga kesehatan di RSU Banten juga dilakukan rapid test atau tes cepat untuk memastikan mereka tidak terpapar virus korona.

"Utamanya tentunya tenaga kesehatan di RSU Banten mereka mendapat insentif. Dokter spesialis Rp 75 juta, dokter umum Rp 50 juta, perawat Rp17,5 sampai Rp22 juta, tenaga penunjang medis dan non medis Rp15 juta, untuk tenaga pendukung operasional seperti satpam, office boy sebesar Rp 5 juta per bulan," katanya. (dewa)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook