Pendapatan Pemprov Susut Rp 1,7 Triliun

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Kamis, 09 April 2020 - 12:24:53 WIB   |  dibaca: 185 kali
Pendapatan Pemprov Susut Rp 1,7 Triliun

TERUS DIKAWAL: Ketua DPRD Provinsi Banten Andra Soni (kanan) bercengkrama dengan Sekda Banten Al Muktabar (kiri) usai rapat koordinasi antara DPRD Banten dengan TAPD Provinsi Banten di Sekretariat DPRD Provinsi Banten, KP3B, Kecamatan Curug, Kota Serang, Rabu (8/4).

SERANG, BANTEN RAYA-  Pendapatan daerah Pemprov Banten tahun anggaran 2020 diprediksi mengalami penyusutan senilai Rp 1,79 triliun. Hal tersebut terjadi karena lesunya pemasukan pendapatan asli daerah (PAD) dan penurunan dana perimbangan dari pemerintah pusat akibat pandemi virus korona atau Covid-19.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, adapun rincian penurunan pendapatan daerah itu adalah berasal dari PAD yang susut hingga Rp1,754 triliun dari target awal Rp 8,15 triliun. Sementara dana perimbangan turun Rp 42,45 miliar dari target awal Rp 4,44 triliun. Sementara total pendapatan daerah tahun anggaran pada 2020 ditarget sebesar Rp12,69 triliun.

Lantaran adanya penurunan pendapatan daerah, maka Pemprov Banten melakukan pergeseran anggaran yang besarannya mencapai Rp2,4 triliun. Itu terdiri belanja barang dan jasa pada belanja langsung Rp 941 miliar yang berasal dari belanja makanan dan minuman, perjalanan dinas, alat tulis kantor, cetak dan pengadaan, pemeliharaan dan jasa konsultasi.

Selanjutnya, belanja modal pada belanja langsung senilai Rp1,52 triliun yang berasal dari belanja modal sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), di antaranya Dinas Pendidikan dan kebudayaan (Dindikbud), Dinas Pekerjaam Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) dan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman (DPRKP).

Pergeseran anggaran juga dilakukan untuk pemenuhan alokasi anggaran penanganan Covid-19. Seperti yang diungkap Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) pada rapat koordinasi, Senin (6/4) kebutuhannya mencapai Rp 1,34 triliun. Itu terdiri atas belanja tak terduga Rp1,265 triliun dan sisanya untuk kegiatan preventif dan kuratif.

Wakil Ketua DPRD Provinsi Banten M Nawa Said Dimyati membenarkan, akibat pandemi Covid-19 membuat adanya penurunan target pendapatan daerah hingga Rp1,79 triliun. Hal itu dikarenakan target PAD yang juga turun karena lesunya penerimaan pajak daerah."Estimasi pendapatan pajak turun sehingga pendapatan daerah terkoreksi.

Kemudian juga dana transfer ke daerah (dana perimbangan) sudah berkurang,” ujarnya usai menggelar rapat koordinasi antara DPRD Banten dengan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Provinsi Banten, di Sekretariat DPRD Banten, KP3B, Kecamatan Curug, Kota Serang,  Rabu (8/4).

Politikus Partai Demokrat itu menjelaskan, atas dasar itulah Pemprov Banten melakukan pergeseran anggaran untuk melakukan penyesuaian. Terlebih, pemprov juga butuh dukungan anggaran untuk penanganan Covid-19. “Saya pikir pemprov harus hati-hati dalam melakukan pergeseran anggaran. Sebab, ini menyangkut dengan pilihan mana yang lebih tepat dan mana yang tidak dalam rangka pencegahan dan mengantisipasi dampak wabah Covid-19,” katanya.

Terkait pergeseran anggaran, kata dia, pemprov telah menunda sejumlah proyek fisik yang menelan dana besar seperti pembanguan rumah sakit jiwa (RSJ) dan sport center. Meski mendukung pihaknya tetap memberikan catatan untuk kebijakan pergeseran anggaran.

“Perhatikan aspek yuridis, artinya pemprov harus mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku. Aspek politis, artinya pemprov harus mendapat dukungan dari DPRD karena pada akhirnya pergeseran itu akan berkaitan dengan perubahan APBD. Selanjutnya adalah, aspek sosial ekonomis, artinya jangan sampai pergeseran anggaran justru menambah keterpurukan ekonomi masyarakat Banten, khususnya pelaku usaha,” ungkapnya.

Disinggung soal besaran pergeseran anggaran yang diperuntukan bagi penanganan Covid-19 tahap II di Provinsi Banten, Nawa mengaku belum mengetahuinya. Sebab, pemprov belum memberikan tembusan kepada DPRD Banten dan dari hasil rapat koordinasi pun mereka masih melakukan perhitungan. “Kami belum mendapatkan pemberitahuan. Kami meminta perhitungannya dilakukan dengan cermat,” tuturnya.

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Banten Opar Sohari mengakui pendapatan daerah khususnya pajak kendaraan bermotor (PKB) merosot tajam. Jika sebelum pandemi virus korona per hari bisa mencapai Rp 22 miliar, kini hanya bisa meraup Rp 6 miliar. Menurutnya, hal itu terjadi karena tidak beroperasinya kantor sistem administrasi manunggal satu atap (samsat)."Biasanya Rp 22 miliar (per hari), turun jadi paling Rp 6 miliar. Tidak ada yang berbondong lagi ke samsat. Walau bisa secara online, belum maksimal," paparnya.

Terpisah, Sekda Banten Al Muktabar mengatakan, pemerintah pusat memberikan waktu tujuh hari sejak 2 April kepada bagi Pemprov Banten untuk melakukan refocusing atau pergeseran anggaran. Meski begitu, dirinya belum mau membeberkan berapa anggaran yang disiapkan untuk penanganan Covid-19 tahap dua di Banten. "Untuk angkanya nanti kita akan beritahu kalau sudah selesai semua," katanya.

Sementara itu, informasi yang dihimpun dari situs infocorona.bantenprov.go.id per 8 April hingga pukul 20.00 WIB, dari 152 kasus positif terdiri atas juga 119 pasien yang masih dirawat, 10 telah sembuh dan 23 dinyatakan meninggal dunia. Adapun rinciannya, Kabupaten Tangerang 32 dirawat, 3 sembuh dan 2 meninggal. Kota Tangerang 41 dirawat, 5 sembuh dan 8 meninggal. Kota Tangerang Selatan 47 dirawat, 2 sembuh dan 13 meninggal dan Kota Serang 1 masih dirawat.

Untuk kategori pasien dalam pengawasan (PDP) berjumlah 520 kasus terdiri atas 421 dirawat, 53 sembuh dan 46 meninggal.Rinciannya, Kabupaten Pandeglang 2 dirawat, 7 sembuh dan 4 meninggal, Kabupaten Lebak 5 dirawat, Kabupaten Tangerang 68 dirawat, 14 sembuh dan 11 meninggal. Kabupaten Serang 5 dirawat, 8 sembuh dan 2 meninggal, Kota Tangerang 166 dirawat, 15 sembuh dan 4 meninggal dunia, Kota Cilegon 2 sembuh dan 1 meninggal. Kota Serang 7 dirawat dan 3 sembuh serta Kota Tangerang Selatan 168 dirawat, 4 sembuh dan 24 meninggal.

Kemudian untuk ketagori orang dalam pemantauan (ODP) berjumlah 3.686 orang, terdiri atas 2.413 dipantau dan 1.273 sembuh. Rinciannya, Kabupaten Pandeglang 444 dipantau dan 302 sembuh, Kabupaten Lebak 138 dipantau dan 166 sembuh, Kabupaten Tangerang 155 dipantau dan 160 sembuh. Kabupaten Serang 350 dirawat dan 254 sembuh, Kota Tangerang 617 dipantau dan 45 sembuh, Kota Cilegon 170 dipantau dan 189 sembuh. Kota Serang 112 dipantau dan 64 sembuh serta Kota Tangerang Selatan 427 dipantau dan 93 sembuh. (dewa)
 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook