Kisah Siti Aminah, Mantan Pengemis yang Sukses Berjualan Kopi

nurul roudhoh   |   Metro Cilegon  |   Kamis, 16 April 2020 - 17:53:39 WIB   |  dibaca: 116 kali
Kisah Siti Aminah, Mantan Pengemis yang Sukses Berjualan Kopi

URI MASYHURI/BANTEN RAYA MELAYANI PEMBELI : Siti Aminah saat melayani pembeli di tempat mangkalnya Landmark Kota Cilegon, Rabu (15/4).

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka” (QS. Ar-Ra’d 11).  Penggalan ayat ini rasanya tepat untuk menggambarkan kehidupan Siti Aminah (39), Warga Lingkungan Simpang Tiga, Kelurahan Ramanuju, Kecamatan Purwakarta, yang menanggalkan profesinya sebagai pengemis dan berganti menjadi pedagang kopi keliling. 

CILEGON – URI MASYHURI 

Setiap hari, Aminah -panggilan akrab Siti Aminah mengkal di bawah videotron di Landmark Kota Cilegon. Ibu satu anak ini menjajakan kopi dengan mengandalkan pembeli sopir angkot dan ojek yang juga menunggu penumpang. Dari julan itu, Aminah biasa mendapatkan rata-rata Rp200 ribu perhari.

“Awalnya saya selalu dinasehati untuk berhenti mengemis. Akhirnya saya memang mau dan hanya diberikan modal Rp300 ribu dari Almarhum (Bahrudin, perwira polisi). Alhamdulillah berkat berdagang, nasib saya lebih baik, bahkan, kasarnya dapet Rp200 ribu rata-rata, bisa untuk memenuhi kebutuhan dan juga menabung,” katanya kepada Banten Raya, Rabu (15/4).
Aminah sebelumnya selama 1 tahun atau tepatnya pada 2017 selalu mengemis di jalan. Ia terpaksa mengandalkan belas kasihan orang untuk membeli kebutuhan makan kedua anaknya. 
Namun, karena nasihat dan dorongan dari Bahrudin (Alm) seorang perwira polisi di Polres Cilegon dan diberikan modal Rp300 ribu, saat itu Aminah berputar haluan menjadi pedagang kopi keliling.

Profesinya itu telah dijalaninya selama dua tahun lebih atau sejak 2018, dan kini Aminah pun sudah menanggalkan statusnya sebagai pengemis.
Saat menjadi pengemis, Aminah mengaku sering berurusan dengan anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan juga Dinas Sosial (Dinsos). Aminah mengaku butuh pembekalan atau dorongan dari pemerintah, bahkan bantuan materi, sehingga dirinya tidak mengemis. Namun, Aminah tidak pernah mendapatkannya.

“Seringlah kena razia. Tapi hanya begitu aja setelahnya dibiarkan. Saya 'bertobat' itu karena dari polisi yang iba setiap melihat saya mengemis,” papar wanita yang suaminya juga berdagang di sekitar Jalan Pondok Cilegon Indah (PCI).

Setelah berjualan kopi keliling seperti saat ini, Aminah juga mengaku tetap berurusan dengan aparat Satpol PP, karena berjualan di pinggir jalan. Namun sampai sekarang juga pemerintah tidak memberikan solusi untuk tempat berdagang. Bahkan, tempat dagang sebelumnya di jalan lapangan Sumampir digusur karena pembangunan salah satu swalayan besar. Alasannya membuat macet dan lainnya.

“Sekarang saya berkeliling lagi sudah hampir lima bulan atau setengah tahunlah, soalnya warung saya yang ada di belakang Polres juga sudah digusur karena memang mau ada toko besar (swalayan). Padahal usaha saya lagi maju-majunya,” imbuhnya. 

Menjadi pengemis menjadi sebuah keterpaksaan bagi Aminah, karena dirinya butuh makan, namun dia tidak memiliki kemampuan. “Butuh usaha untuk bnar-benar berubah. Kalau sudah enak mengemis pasti akan selamanya menjadi pengemis. Padahal ada banyak pekerjaan yang lebih berkah dari pada mengemis,” ujarnya.

Suami Aminah, Pungut (43) juga sebelum menjadi pedagang pingir jalan, dia menjadi tukang becak. Dengan modal yang diperoleh istrinya dengan berjualan kopi, ia berjualan di sekitar jalan PCI. Secara penghasilan, berjualan lebih lumayan dibandingkan menarik becak.

“Saya ngebecak dan istri saya mengemis sebelumnya. Bersyukur sekarang ada orang baik yang menolong dan akhirnya berkat usaha kami nasib kami berangsur semakin baik,” pungkasnya. (uri)
 

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook