Tes Mandiri Korona, RSKM Patok Biaya 2 Jutaan

nurul roudhoh   |   Metro Cilegon  |   Minggu, 19 April 2020 - 19:26:28 WIB   |  dibaca: 165 kali
Tes Mandiri Korona, RSKM Patok Biaya 2 Jutaan

Ainul Gillang / Banten Raya Pemeriksaan suhu tubuh terdahap orang yang hendak memasuki Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) Cilegon, Jumat (17/4). 

CILEGON, BANTEN RAYA - Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) Cilegon membuka layanan mandiri rapid test virus korona. Untuk mendapatkan pelayanan tes itu, pasien dikenakan biaya hingga 2 jutaan.

Senior Officer Humas dan Corporate Social Responsibility (CSR) pada RSKM Cilegon, Agus Wirawan mengatakan, layanan yang disediakan berupa skrining virus korona baik rapid test maupun Polymerase Chain Reaction Test atau PCR. Rapid Tes sendiri terdiri dari tiga kelas, yaitu A, B dan C. “Sementara untuk PCR hanya ada satu paket saja,” jelasnya saat ditemui di RSKM Cilegon, Jumat (17/4) pagi.

Dikatakan, rapid test paket A dikenakan biaya Rp 495 ribu dengan layanan berupa konsultasi dokter umum, rapid test satu kali, dan administrasi. Sementara rapid test paket B dengan biaya Rp 755 ribu akan mendapatkan layanan berupa konsultasi dokter umum, rapid test satu kali, pemeriksaan darah lengkap, rontgen thorax, dan administrasi. Sedangkan rapid test Paket C dengan biaya Rp 2,03 juta dengan pelayanan konsultasi dokter umum, rapid tes satu kali, laboratorium berupa pemeriksaan darah lengkap, CT scan thorax, dan administrasi. "Untuk tes PCR Rp 2,299 juta dengan layanan konsultasi dokter, PCR tes, dan administrasi," jelasnya.

Menurut Agus, pemeriksaan tes korona secara mandiri tersebut awalnya karena adanya keinginan dari perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam KS grup. Tetapi, pada akhirnya RSKM juga membuka layanan untuk umum. “Awalnya perusahaan-perusahaan KS grup, banyak yang karyawannya tinggal di Jakarta harus bolak-balik Cilegon-Jakarta dan perlu dilakukan rapid test. Saat ini, dari masyarakat umum belum ada yang melakukan rapid test mandiri, baru beberapa dari karyawan KS grup yang sering bolak-balik Cilegon-Jakarta,” tuturnya.

Agus menjelaskan, biaya pemeriksaan skrining tes korona secara mandiri tidak bisa dibebankan ke Badan Pelayanan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Hanya pasien yang telah dinyatakan Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP), dan pasien positif korona yang ditanggung BPJS Kesehatan. “Kalau yang mandiri biaya ditanggung sendiri, kalau memang permintaan perusahaan bisa saja ditanggung perusahaan tergantung perusahaan tempat bekerja,” jelasnya.

Ia juga menerangkan, dari kapasitas 282 pasien di RSKM, 30 persen kapasitas diantaranya disiapkan untuk penanganan awal pasien virus korona. “Kapasitas untuK PDP itu 30 persen dari kapasitas rawat inap di RSKM. Jika memang orang PDP dinyatakan positif korona maka akan dirujuk ke RSUD Banten. Jadi di sini tidak merawat yang positif korona,” terangnya seraya menambakan RSKM Cilegon telah beberapa kali menangani PDP sebelum dirujuk ke rumah sakit rujukan RSUD Banten. 

Terpisah, Kepala Dinkes Kota Cilegon Arriadna mengatakan, terkait biaya rapid tes mandiri memang tidak ada kewenangan yang diatur oleh pemerintah. Rapid tes gratis dari pemerintah hanya diperuntukan bagi Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP), dan tenaga medis yang menangani ODP, PDP serta positif korona. "Semua ODP, PDP serta tenaga medis yang menanganinya sudah di rapid tes. Kalau yang mandiri tentu kita tidak bisa monitor," jelasnya. 

Di Kota Cilegon, kata Arriadna, ada dua tempat layanan kesehatan yang melayani rapid test mandiri selain RSKM, yakni Kimia Farma. "Hasil rapid test biasanya sehari sudah ada hasilnya," terangnya. (gillang) 

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook