Wisata Mangrove Jembatan Pelangi Lontar

nurul roudhoh   |   Wisata  |   Minggu, 10 Mei 2020 - 19:41:39 WIB   |  dibaca: 201 kali
Wisata Mangrove Jembatan Pelangi Lontar

Tohor/Banten Raya-Para pengunjung nampak menikmati wisata alam.

SERANG, BANTEN RAYA-Wisata Mangrove Jembatan Pelangi yang berlokasi di Kampung Brangbang, Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten, tidak hanya sekadar tempat wisata. Lokasi ini juga berfungsi sebagai tempat edukasi bagi masyarakat sekitar dan pengunjung.

Penggagas Wisata Mangrove Jembatan Pelangi Miftahul Halim mengatakan, jembatan pelangi menjadi wahana edukasi mangrove atau bakau bagi mahasiswa, pelajar SMP dan SMA, bahkan siswa SD. Dengan belajar mengenai mangrove, masyarakat diedukasi agar bisa ikut menjaga kelestarian alam karena dengan begitu manusia juga yang akan diuntungkan.

Miftah mengungkapkan bahwa dengan tumbuhnya mangrove di pesisir pantai maka abrasi yang akan ditimbulkan oleh ombak akan dapat dihindari. Mangrove yang juga berfungsi sebagai pemecah ombak akan membuat kekuatan ombak melemah, dan pada akhirnya tidak akan menimbulkan abrasi.

Selain itu, mangrove juga merupakan habitat yang cocok untuk udang, kepiting, ikan, burung, dan makhluk lainnya yang tumbuh dan berkembang biak. Bila banyak ikan dan hewan yang bisa dimanfaatkan oleh manusia tumbuh di sekitaran mangrove, maka yang akan diuntungkan juga adalah warga sekitar. Bahkan nelayan tidak perlu mencari ikan sampai ke tengah lautan, karena di pinggir pantai di dekat mangrove pun banyak. “Kalau ada mangrove, hewan-hewan itu tumbuh dan berkembang di situ,” kata Mitah, Jumat (8/5).

Miftah menceritakan bahwa awalnya ia yang menginisiasi pembangunan jembatan pelangi dengan meminta bantuan dari PT PLN (Persero) Banten. Saat itu tingkat kesadaran masyarakat akan lingkungan, terutama dalam menjaga kelestarian pantai dengan menanam mangrove, masih sangat rendah. Bahkan ia kerap ditertawakan oleh warga sekitar ketika sedang menanam mangrove. “Saya dikira gila,” katanya.

Para warga saat itu bertanya-tanya untuk apa dia menanam mangrove. Miftah tak ambil pusing dan terus saja menanam mangrove. Sebab ia yakin dengan adanya mangrove maka kehidupan masyarakat sekitar akan membaik. Mangrove akan membawa kebaikan bagi warga. Ia yang sudah lama berkegiatan di NGO lingkungan paham betul tentang ini.

Setelah meminta izin warga setempat, termasuk lurah dan pemilik lahan, akhirnya jembatan pelangi mulai dibangun. Miftah sejak semula hanya meniatkan bagaimana agar warga sadar lingkungan dan mendapat hasil dari pengelolaannya. Terbukti ketika jembatan pelangi viral dan ramai dikunjungi orang, Miftah menyerahkan pengelolaannya kepada masyarakat sekitar. Ia sudah cukup gembira bisa membantu warga dengan menyediakan lokasi berjualan bagi mereka. Juga pengelolaan parkir oleh pemuda yang dikerjakasamakan dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Serang.

“Awalnya banyak yang mencemooh. Ada yang ngeledek dan bilang ini jembatan sirotol mustaqim. Mereka bilang enggak ada gunanya. Tapi saya tetap berjalan dan berniat menginginkan ini supaya menjadi cikal bakal percontohan pengelolaan mangrove di Banten,” katanya.

Dengan bantuan yang diberikan PT PLN (Persero) Banten, ia pun menanami mangrove dan membuat jembatan pelangi. Panjangnya tidak lebih dari 100 meter. Dari jembatan pelangi ini pengunjung bisa melihat secara dekat pohon mangrove yang tumbuh di pingiran pantai. Dibangun selama dua bulan pada 2018, akhirnya jembatan pelangi pun dibuka pada tahun yang sama dan langsung viral. Banyak yang berkunjung bukan hanya para orang tua dan remaja, melainkan juga anak-anak. Ramainya pengunjung sudah terlihat sejak lokasi ini dibangun dan belum jadi, tetapi sudah banyak masyarakat yang mempertanyakan kapan akan dibuka untuk umum.

“Alhamdulillah waktu pertama dibuka antusiasime warga sangat besar. Sehari bisa sampai 1.000 pengunjung. Kita kaget juga karena semua masih ala kadarnya pas pertama dibuka,” ujarnya.

Pengunjung yang datang tidak hanya dari wilayah sekitar Lontar, Pontang, dan Tirtayasa, melainkan juga dari daerah di Kabupaten Serang, Kota Serang, dan Cilegon. Bahkan dari Tangerang, Jawa Tengah, dan Sumatera juga ada. Para pelajar, khususnya siswa SD, tidak hanya datang untuk wisata melainkan juga belajar tentang mangrove bahkan menanamnya.

Sampai sekarang pengunjung yang pernah mendatangi jembatan pelangi diperkirakan sudah mencapai 80.000 orang. Bahkan Wakil Bupati Serang Panji Tirtayasa pernah berkunjung ke sini.

Bagi pengunjung yang datang, fasilitas yang disediakan seperti perahu wisata untuk melihat mangrove, tempat belajar anak saung mangrove, kios untuk masyarakat berjualan, menara pandang 10 meter untuk melihat mangrove dan pantai, dan toilet. Khusus menara pandang itu merupakan bantuan dari Kementerian Kelautan Pusat.

Tempat wisata pinggir pantai ini sangat murah karena bagi yang ingin masuk hanya dikenai tiket Rp 3.000 per orang. Untuk parkir kendaraan roda dua (motor) ditarif Rp 2.000, untuk kendaraan roda empat (mobil) ditarif Rp 5.000 per unit.  

Lokasi Wisata Mangrove Jembatan Pelangi paling mudah dijangkau dari perempatan Ciruas dengan mengambil jalan ke arah Pontang-Tirtayasa. Setelah sampai di perempatan Pontang, jaraknya hanya sekitar lima kilo meter dari sana. Wisata Mangrove Jembatan Pelangi sudah didaftarkan di Google Map sehingga akan memudahkan orang ketika akan mengunjunginya.

Bagi yang ingin makan besar bisa juga memesan kepada pedagang yang ada di lokasi. Untuk harganya, makanan berupa lauk ikan bandeng bisa mencapai Rp 300.000 untuk 10 orang. Bila dengan lauk yang lebih wah seperti kepiting atau udang bisa mencapai Rp 500.000 untuk 10 orang. Hanya sayangnya, saat pandemi Covid-19 ini jumlah pengunjung pun berkurang drastis. (tohir)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook