Dosen dan Guru Dituntut Lebih Kreatif

nurul roudhoh   |   Pendidikan  |   Senin, 18 Mei 2020 - 13:13:42 WIB   |  dibaca: 290 kali
Dosen dan Guru Dituntut Lebih Kreatif

BERCOCOK TANAM : siti sholihat, dosen universitas islam Negeri (uiN) sMH Banten.

SERANG, BANTEN RAYA-Mewabahnya Covid-19 di Indonesia, khususnya di Banten banyak memberikan perubahan dalam dunia pendidikan. Salah satunya adalah kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan memanfaatkan teknologi dan informasi atau daring.

KBM daring ini, menuntut dosen dan guru untuk lebih kreatif dalam menyajikan bahan ajar kepada peserta didiknya. Hal tersebut disampaikan pakar pendidikan di Banten Sholeh Hidayat.
Menurutnya, kondisi di Banten dan sejumlah daerah di Indonesia tentunya memiliki keterbatasan dalam pemanfaatan teknologi. Masih banyak daerah yang belum terjangkau jaringan internet, sehingga KBM daring ini tidak berfungsi maksimal.

Belum lagi, kata Guru Besar Untirta ini, bahan ajar guru dan dosen monoton sehingga peserta didik mengelami kebosanan. Oleh karena itu, guru dan dosen dituntut untuk memiliki ide kreatif dalam menyampaikan bahan ajar kepada peserta didiknya, sehingga peserta didik tidak bosan dalam mengikuti KBM daring.

"KBM daring juga mengakibatkan tenaga pengajar mengalami kesulitan dalam mengontrol peserta didiknya. Tenaga pengajar tidak tahu persis, bahan yang disampaikan bisa diterima maksimal atau tidak. Bahkan ada beberapa mahasiswa saya yang terkendala jaringan," kata Sholeh kepada Banten Raya, Minggu (17/5).

Terkait kualitas peserta didik yang menurun akibat KBM Daring, Sholeh menilai pemerintah menyadari bahwa KBM daring tidak akan memenuhi target kurikulum. KBM daring lebih fokus terhadap pendidikan soft skill. Padahal pada jenjang pendidikan SD dan SMP masih membutuhkan pendidikan yang melatih keterampilan yang membutuhkan tatap muka.

Senada disampaikan Siti Sholehat, praktisi pendidikan dan dosen UIN SMH Banten, berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap responden para dosen dan mahasisa dengan melalui quesioner dan wawancara serta terjun langsung mengajar daring bersama mahasiswa, diperoleh jawaban bahwa pembelajaran online belum bisa dikatakan efektif karena beberapa hal diantaranya ada hambatan dari sisi ketergantungan kepada  jaringan internet dan quota yang dimiliki siswa atau mahasiswa, sementara banyak peserta didik dari pelosok, sehingga ada sebagian mahasiswa yang harus naik ke bukit atau ke sawah untuk mencari sinyal.

"Kurang fokusnya mahasiswa dalam perkuliahan daring ini, karena bisa sambil chatting dengan temannya atau melihat youtube dan mengerjakan pekerjaan rumah. Sehingga dosen sulit mengontrol mahasiswa untuk mengetahui mereka menyimak materi dengan baik atau tidak, dan pembelajaran lebih kaku karena tidak seperti di kelas dan terakhir adalah pembelajaran juga menjadi monoton," katanya.

Namun jika dilihat dari sisi lain, lanjut Siti, pembelajaran daring bisa menjadi efektif bila ada tanggung jawab dan kesadaran yang besar diantara pendidik dan yang dididik. Disiplin terhadap kontrak belajar dan niat serta semangat belajar yang tinggi.

"Jika melihat dari segi waktu dan tempat karena bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja, materi bisa diputar berulang-ulang dan jika mempunyai jaringan wifi bisa mengakses sepuasnya tanpa kendala KBM daring sangat bagus," ujarnya.

Ia menambahkan, karena kurang efektifnya KBM daring dan banyaknya hambatan, maka ini jelas berpengaruh pada kualitas peserta didiknya karena kurang bisa memahami materi dengan baik dan plagiarisme yang tidak bisa dihindari.

"Daya kritis dan nalar mahasiswa menjadi kurang, karena cenderung instan mencari jawaban dalam proses pembelajaran dari internet, dan mahasiswa cenderung individualis karena kurang berinteraksi dengan teman-temannya," ungkap Siti. (satibi)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook