Pengembangan HOTS Diikuti 750 Peserta

nurul roudhoh   |   Pendidikan  |   Selasa, 19 Mei 2020 - 18:30:12 WIB   |  dibaca: 545 kali
Pengembangan HOTS Diikuti 750 Peserta

satibi/banten raya - Siti Sholihat saat menyampai materi dalam sebuah seminar sebelum wabah Covid-19 menyerang Banten.

SERANG, BANTEN RAYA-Sebanyak 750 orang dari berbagai kalangan akan mengikuti Pengembangan higher order thinking skills (HOTS) Bahasa Arab, Rabu (19/5) secara daring. Kegiatan tersebut merupakan kerjasama antara Uiniversitas Islam Negeri (UIN)  Syarif Hidayatullah Jakarta bersama dengan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukit Tinggi.

Kepada Banten Raya, Farisha yang akan menjadi moderator kegiatan tersebut menyampaikan, kegiatan ini bermula dari penelitian yang dilakukan oleh UIN Jakarta dengan PBA IAIN Bukit Tinggi. Hasil penelitian tersebut kemudian berlanjut kedalam sebuah kegiatan Seminar Pengembangan HOTS.

"Dalam kegiatan ini akan membahas mengenai pendidikan kognitif dalam belajar. Artinya peserta didik diajarkan untuk berpikir kritis dalam mempelajari Bahasa Arab. Dalam Pengembangan HOTS ini belajar menganalisa, evaluasi dan outputnya akan menjadi sebuah prodak atau bahan kajian," kata Farisah, Selasa (19/5).

Ia mengaku hingga saat ini jumlah peserta sebanyak 750 peserta. Pendaftaran sendiri gratis dan diskusi dilakukan secara daring. Kegiatan sendiri akan dilaksanakan dari pukul 09.00 WIB sampai dengan pukul 12.00 WIB.

"Lantaran jumlahnya banyak maka proses daring tidak hanya dilakukan dalam zoom, namun juga dilakukan di live facebook dan youtube," ujarnya.

Tujuan kegiatan ini, lanjutnya, akan menjadi kegiatan rutin dan menghasilkan prodak dalam bentuk kajian. Adapun pembahasan selanjutnya akan berbeda dibandingkan kegiatan sebelumnya, sehingga kajian tidak monoton dan akan menambah wawasan.

Terpisah, salah seorang pembicara Siti Sholihat, Dosen UIN SMH Banten dalam pemaparannya menyampaikan menurut Thomas dan Thorne HOTS merupakan cara berpikir yang lebih tinggi daripada menghafalkan fakta atau menerapkan peraturan, rumus dan prosedur. HOTS mengharuskan kita melakukan sesuatu berdasarkan fakta.

"Membuat keterkaitan antarfakta, mengkategorikannya, memanipulasinya, menempatkannya pada konteks atau cara yang baru dan mampu menerapkannya untuk mencari solusi baru terhadap sebuah permasalahan," katanya.

Ia menjelaskan, kemampuan berfikir dasar hanya menggunakan kemampuan terbatas pada hal-hal rutin dan bersifat mekanis, misalnya menghafal dan mengulang-ulang informasi yang diberikan sebelumnya. Sementara, kemampuan berfikir tinggi merangsang siswa untuk mengintrepretasikan, menganalisa atau bahkan mampu memanipulasi informasi sebelumnya sehingga tidak monoton.

"Kemampuan berfikir tinggi digunakan apabila seseorang menerima informasi baru dan menyimpannya untuk kemudian digunakan atau disusun kembali untuk keperluan problem solving berdasarkan situasi," ujarnya.

Siti sapaan akrabnya mengatakan, pembelajaran Bahasa Arab berbasis HOTS memiliki beberapa ciri, yaitu kemampuan untuk mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi dan mengkreasi. Membiasakan HOTS kepada peserta didik tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba dan instan, karena membtuhkan strategi holistik dari para guru. Guru tidak dapat menagih siswa dengan pengukuran dan asesmen bertipe HOTS di akhir pembelajaran tanpa melakukan pembelajaran berbasis HOTS terlebih dahulu.

"Pembelajaran HOTS yang dilakukan secara tepat akan membuat siswa antusias, memiliki motivasi, tidak mudah menyerah dan merasa membutuhkan pembelajaran yang pada akhirnya siswa akan menjadi pembelajar yang aktif. Pembelajaran aktif memang sebuah kerja keras, tapi juga harus menyenangkan bagi siswa," imbuhnya. (satibi)

 

 

 

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook