DPK Banten Kaji Perayaan Seren Taun 

nurul roudhoh   |   Pendidikan  |   Kamis, 25 Juni 2020 - 19:36:36 WIB   |  dibaca: 282 kali
DPK Banten Kaji Perayaan Seren Taun 

Satibi/Banten Raya-DISKUSI ONLINE: Peserta diskusi online serius membahas Perayaan Seren Taun secara daring, kemarin.

SERANG, BANTEN RAYA-Seren Taun yang dilaksanakan satu tahun sekali di Kasepuhan Adat Banten Kidul merupakan kegiatan yang sangat sakral sebagai perwujudan rasa syukur kepada sang pemberi juga ketaatan terhadap tradisi. 

Seiring dengan perkembangan waktu, seren taun ternyata tidak hanya peristiwa kebudayaan semata, namun juga menjadi wahana komunikasi politik masyarakat adat. Lobi-lobi tersebut dibangun untuk sebuah upaya penegakan eksistensial pengakuan dari negara dan pemerintah daerah atas keberadaan masyarakat adat serta pengakuan atas hutan adat Kasepuhan Banten Kidul.

Hal itu mengemuka dalam Sesi Diskusi Girang mingguan yang dilaksanakan secara virtual oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsiapan (DPK) Provinsi Banten bekerjasama dengan Laboratorium Banten Girang dan Pengurus Daerah Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Provinsi Banten saat membahas buku “Berjuang Menegakan Eksistensi; Komunikasi politik masyarakat Kasepuhan Banten Kidul”  hasil disertasi dosen Universitas Serang Raya (Unsera) Dr. Abdul Malik.

“Sebab seren taun disisi lain menjadi wahana yang bisa dikatakan juga sebagai wahana melakukan lobi dan negosiasi kepada pemerintah, khususnya Pemerintah Kabupaten Lebak untuk kepentingan masyarakat adat," kata Malik sambil mengingat-ingat kembali saat melakukan penelitian sembilan tahun lalu di Kasepuhan Adat Cisungsang, kemarin.

Selain itu, lanjut Malik, juga kepada setiap calon anggota eksekutif dan legislatif yang memiliki kepentingan suara pada masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul. Dalam arti seren taun bukan hanya memiliki makna budaya reflektif atau rekreatif namun lebih dari itu, seren taun merupakan media komunikasi menegakan eksistensi.

Tukar guling kepentingan antara masyarakat adat kasepuhan dan pejabat publik serta calon anggota legislatif dan eksekutif, memiliki capaian kepentingannya masing-masing. Pada masyarakat adat, mereka memiliki kepentingan agar Pemkab Lebak membuat Perda tentang perlindungan, penghormatan dan pengakuan hukum adat. 

“Sebab muncul permasalahan, wilayah kasepuhan yang terancam tersingkir dari tempat yang ditinggali sekian ratus tahun akibat ekspansi Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Serta terancam hilangnya identitas adat sebagai pelestari lingkungan dan peladang," ujar Malik. 

Di pihak calon anggota legislatif dan eksekutif, lanjutnya, kepentingannya adalah basis suara untuk kemenangan salah satu calon pada saat pemilu. Menurut Malik, strategi kebudayaan seperti Seren Taun yang kemudian menjadi strategi politik tidak dapat dihindari, sebab didalam peristiwa budaya tersebut terjadi interaksi yang ternyata bisa digunakan untuk mencapai kepentingan-kepentingan diantara kedua pihak. 

Seri Diskusi Girang juga mengundang Henriana sebagai tamu diskusi dari Kasepuhan Banten Kidul. Ia menambahkan bahwa ada beberapa sesi ritual pada saat seren tahun yang memang tidak  diikuti oleh orang-orang diluar kasepuhan. 

"Sebab rangkaian acara seren tahun akan selalu dilakukan pada hari Senin. Dan acara keramaian yang mengundang banyak orang akan dilaksanakan pada hari Minggu. Dan biasanya seren tahun akan dihadiri oleh para pejabat eksekutif dan legislatif yang memiliki kepentingan politik," katanya. (satibi)
 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook