Pedagang di MOS Kota Serang Terancam Ditendang

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Selasa, 07 Juli 2020 - 11:46:19 WIB   |  dibaca: 927 kali
Pedagang di MOS Kota Serang Terancam Ditendang

HARIR/BANTEN RAYA - MEDIASI: Sejumlah pedagang di MoS saat mediasi bersama Event Organizer (EO) PT. Epatama Grasia Indonesia di MoS lantai 2, Kota Serang, Senin (6/7).

SERANG, BANTEN RAYA- Lantaran para pedagang belum membayar uang sewa per Juli 2020, sejumlah pedagang di lantai dua Mall of Serang (MoS) Kota Serang terancam 'ditendang' oleh pihak event organizer (EO) PT Epatama Grasia Indonesia selaku pengelola tenant. Alhasil, mereka tidak diperbolehkan untuk membuka lapaknya sebelum melunasi bayar sewa. Kejadian ini diketahui setelah para pedagang melakukan mediasi dengan pengelola EO di MoS, Senin (6/7)

Seorang pedagang Yoan mengaku kecewa karena telah mendapat pesan singkat dari pihak EO dengan kalimat yang kurang mengenakkan. 
"Katanya kalau tidak bisa transfer malam ini silakan kosongkan tempatnya. Itu bahasa pengusiran, kenapa harus seperti itu bahasanya. Saya benar-benar merasa direndahkan dengan kata-kata itu," ujar Yoan kepada awak media, setelah mediasi. 
Ia juga meminta pihak EO agar tidak sepihak menaikkan biaya sewa dan melakukan mediasi setiap kali ada kebijakan. Sebab, selama ini pihak EO tidak pernah melakukan mediasi dan transparan terhadap pedagang. "Padahal mereka (EO) mengatakan kalau kami ini adalah mitra, dan bahasa mereka itu terlalu kasar," ucap dia. 
Menurut Yoan, jika pedagang diizinkan membuka lapaknya jelang lebaran selama dua pekan, pihaknya pun siap untuk membayar uang sewa. "Kami selalu rutin, kalau memang diizinkan kami akan membayar dimuka. Kemudian, selama saya berjualan delapan tahun di sini, pembayarannya selalu diakhir bulan, kenapa sekarang diawal bulan," tuturnya. 
Ia mengungkapkan, dirinya sudah membayar uang sewa 50 persen, namun tetap tidak diperbolehkan untuk membuka lapaknya. 
"Ini saya sudah bayar separuh tapi tetap tidak boleh berjualan dulu. Nanti kalau sudah dilunasi baru boleh membuka stand, padahalkan kondisi ekonomi semua juga sedang krisis, kenapa tidak ada kebijaksanaan," ungkap Yoan. 
Keluhan serupa pun dikatakan pedagang lainnya, Acong. Menurut dia, seharusnya pihak EO melakukan mediasi terlebih dahulu dengan pedagang sebelum mengambil keputusan. 
"Jangan sepihak, harusnya itu ada mediasi setiap kebijakan dan keputusan itu diambil bersama, pedagang dan EO itu duduk bersama. Kami hanya ingin ada mediasi, itu saja," ketus Acong. 
Terkait kenaikan biaya sewa dan kebijakan lainnya, ucap dia, seharusnya management EO melihat kondisi pasar. 
"Karena kondisi saat ini di tengah Covid-19, kami pun kesulitan dana. Kalau kondisi tidak ada Covid-19 mungkin pedagang tidak terlalu mengeluhkan. Dan seharusnya melihat pasar dulu, kondisi kami seperti apa," katanya. 
Mengomentari keluhan para pedagang, pengelola EO PT Epatama Grasia Indonesia Bisri pun angkat bicara. Ia mengaku pihaknya tidak melakukan pengusiran dalam bentuk apa pun. Bahkan para pedagang sudah diberitahukan melalui pesan singkat terkait kebijakan pembayaran sewa tersebut. 
"Karena kami bekerja sesuai dengan prosedur kami, dan sebelumnya pun sudah kami informasikan," terang Bisri. 
Ia menjelaskan, terkait aturan sewa, sejak awal pembayaran sewa tenant dilakukan awal bulan. 
"Memang dari kantor itu pembayaran sewa dimuka, sebelum membuka stand. Jadi kalau pun ada keterlambatan, kami pun memberikan toleransi kepada pedagang. Bahkan ada pedagang yang membayar hingga telat bulan. Nanti dari hasil mediasi ini juga akan saya sampaikan ke kantor," beber dia. 

ANCAM DEMO 
Sementara itu, Ketua Gerakan Peduli Pembangunan Rakyat (Gappura) Banten Husen Saidan mengatakan, pihaknya akan mengawal hingga tuntas persoalan tersebut. 
"Apabila pihak pengelola EO tetap melakukan pengusiran dan tidak memberikan tenggat waktu kepada pedagang, kami siap untuk melakukan aksi kepada mereka," ancam Husen. 
Ia menyebutkan, berdasarkan hasil audiensi yang dilakukan oleh pihaknya dan pengelola EO, serta pedagang, kata dia, pihak pengelola akan memperbaiki. 
"Mudah-mudahan ke depan bisa saling menerima, jadi kalau masyarakat yang bisa menyelesaikan bagi yang mampu, dan yang tidak mampu nanti seperti apa dari management," sebut dia. 
Husen menegaskan, apabila manajemen tetap melakukan penindasan dengan kebijakan-kebijakan mereka, pihaknya akan bereaksi keras. 
"Tentu kami bereaksi keras dan melakukan aksi agar persoalan ini selesai. Karena kan ada pengusiran secara halus, mereka bilang mengosongkan. Padahal pedagang di sini sudah lebih dari lima tahun, dan membantu pihak management menjadi lebih ramai," tegasnya. (harir)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook