Apes Bener Suami-suami ini, Sudah Kena Korona, DiPHK, Setelah itu Dicerai Istri 

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Minggu, 12 Juli 2020 - 11:26:46 WIB   |  dibaca: 187 kali
Apes Bener Suami-suami ini, Sudah Kena Korona, DiPHK, Setelah itu Dicerai Istri 


CILEGON, BANTEN RAYA - Kasus perceraian di Kota Cilegon dan Kota/Kabupaten Serang melonjak drastis selama masa pandemi korona.

Salah satu kasus yang menonjol adalah perceraian dipicu faktor ekonomi karena suami terkena PHK dan tak mampu lagi menafkahi istri.

Ketua Pengadilan Agama Serang Buang Yusuf mengatakan, selama masa pandemi Covid-19, angka perceraian di wilayah Serang dimungkinkan melonjak dari tahun 2019.

Angka perceraian tahun 2019 ada 5.000 kasus. Tahun ini, sampai bulan Juni sudah tercatat 2.500 kasus. Sekitar 1.600-an itu kasus cerai. Kurang lebih 1.600-an itu sudah proses. "Yang masih proses masih banyak ada sekitar 2.500-an yang masuk. Kemungkinan ada peningkatan tahun ini," ujar Buang kepada Banten Raya, akhir pekan kemarin.

Ia menjelaskan, penyebab perceraian kebanyakan karena faktor ekonomi, bertengkar, dan adanya perselisihan.

Karena akibat pandemi Covid-19, hampir rata-rata ekonomi. "Latar belakangnya penyebab pertama ekonomi, tidak ada pekerjaan, akibatnya kan bertengkar suami istri, terjadi perselisihan," ungkap dia.

Buang juga menyebutkan bahwa kebanyakan yang mengajukan gugatan perceraian didominasi oleh kaum hawa.

Kemudian yang lebih banyak menggugat itu perempuan yang meminta perceraian. "Jadi kasusnya itu memang perempuannya yang meminta ke PA," katanya.

Ia mengaku sebelum laporan tersebut diterima, pihaknya juga mencoba untuk meredam dan berkomunikasi dengan yang bersangkutan.

"Tapi mau bagaimana lagi, kami nasehatin pun karena memang sudah parah, tetap saja menggugat. Karena kan kalau memang tidak parah tidak mungkin ke sini (PA)," terangnya.

Sementara Data yang dihimpun Banten Raya dari Pengadilan Agama (PA) Kota Cilegon, pada Januari ada 123 permohonan perceraian, pada Februari ada 70 permohonan perceraian, Maret ada 68 permohonan perceraian, April ada 7 permohonan perceraian, Mei ada 9 permohonan perceraian, Juni ada 146 permohonan perceraian, dan Juli hingga tanggal 9 sudah ada 49 permohonan perceraian.

Dari data tersebut, bulan Juni menjadi paling banyak permohonan perceraian.

Humas PA Cilegon Mahdy Syam mengatakan, kenaikan permohonan perceraian pada bulan Juni lantaran pada April dan Mei PA Cilegon tidak melayani permohonan perceraian secara langsung.

Mahdy menjelaskan, permohonan perceraian didominasi oleh pihak perempuan atau cerai gugat. "Cerai talak atau yang dimohon oleh pihak laki-laki tetap ada, tetapi jumlah tidak begitu dominan. Yang banyak minta cerai itu pihak perempuan," katanya.


Menurut Mahdy, beberapa penyebab perceraian saat pandemi korona ini karena masalah ekonomi menjadi paling dominan seperti karena pihak suami terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan porsi untuk menafkahi istri berkurang. (Harir/gillang)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook