Rawan Antraks, Pemkot Serang Blokir Hewan Kurban dari Boyolali dan Gunung Kidul

nurul roudhoh   |   Kesehatan  |   Kamis, 16 Juli 2020 - 09:57:19 WIB   |  dibaca: 203142 kali
Rawan Antraks, Pemkot Serang Blokir Hewan Kurban dari Boyolali dan Gunung Kidul

SERANG, BANTEN RAYA - Dinas Pertanian (Distan) Kota Serang membatasi hewan kurban yang berasal dari beberapa daerah seperti Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, dan Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sebab di dua daerah tersebut pernah terjadi wabah antraks. Sehingga dikhawatirkan hewan kurban tersebut membawa penyakit antraks dan menularkan kepada manusia dan hewan kurban lainnya. 

Hal ini diketahui saat Distan bersama tim kesehatan hewan Kota Serang dan Provinsi Banten melakukan pemeriksaan hewan kurban di lapak penjual hewan kurban Dogar Asrem, di Jalan Bhayangkara, Lingkungan Cipocok Jaya, Kelurahan Cipocok Jaya, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, Rabu (15/7). 


Kepala Distan Kota Serang Edinata Sukarya mengatakan, penjual hewan kurban harus melaporkan data asal hewan kurban yang masuk ke Kota Serang. Sebab, hewan ternak untuk kurban dari Boyolali dan Gunung Kidul hewan dikhawatirkan dapat membawa penyakit berbahaya. 


"Makanya itu dilarang sekali hewan ternak dari Boyolali dan Gunung Kidul. Kita waspada sekali hewan ternak dari sana. Karena di sana pernah terjadi wabah antraks," ujar Edinata didampingi Kabid Peternakan Distan Kota Serang Siswati setelah melakukan pemeriksaan hewan kurban. 


Ia menjelaskan, hewan ternak kurban yang terjangkit penyakit antraks memiliki ciri-ciri bentol pada kulitnya dan mengeluarkan darah. "Ini sangat sangat berbahaya, karena bisa menularkan pada manusia, dan juga ke hewan ternak yang lain," jelas dia. 


Karena itu, lanjut Edinata, pihaknya meminta keterbukaan para penjual hewan kurban. "Asal hewan itu harus dicek. Ada pembatasan hewan dari beberapa daerah. Makanya kita minta penjual juga harus melaporkan data yang benar, hewan-hewan ternak ini dari mana aja, jadi ketahuan dari sekarang," terang Edinata. 


Kabid Peternakan Distan Kota Serang Siswati mengatakan, sampai saat ini belum ditemukan hewan kurban yang memiliki ciri-ciri tersebut. Sebab, para penjual hewan sudah banyak yang tahu. 


"Para pedagang juga udah pada tau, makanya tidak akan mengambil hewan kurban dari sana," kata Siswati. 
Ia menjelaskan, pemeriksaan hewan kurban ini selain untuk memastikan kesehatan hewan, juga untuk mendata jumlah lapak, jumlah hewan kurban, dan asal hewan kurban. "Jadi semuanya kita data, bukan hanya kesehatannya aja, termasuk asal hewan kurban juga," jelas dia. 


Siswati mengatakan, pemeriksaan kali ini pihaknya menemukan belasan ekor hewan kurban yang didominasi pada domba mengalami penyakit ringan. "Iya, ditemukan penyakit ringan saja, yang sakit mata ada lima ekor. Kemudian orf atau gudik di sekitar mulut, ada sebelas ekor," katanya. 


Meski demikian, ia menjelaskan, penyakit tersebut dapat diobati dan masih bisa dijual oleh pedagang. "Itu penyakit ringan dan dapat diobati. Masih bisa dijual, penyakit ini banyaknya domba, kalau sapi atau kerbau itu tidak kami temukan. Jadi nanti diobati dulu, kalau sudah benar-benar sembuh bisa dijual lagi," ujarnya. 


Setiap tahunnya, kata dia, penyakit seperti itu selalu ditemukan pada hewan kurban. Seperti ping eye atau gangguan pada mata yang disebabkan oleh perjalanan ternak dari luar kota. "Biasanya diakibatkan karena perjalanan. Kami juga meminta kepada para pedagang agar dipisahkan dari hewan yang sehat, agar diobati terlebih dahulu," ucapnya. 


Pihaknya akan melakukan pemeriksaan hewan kurban tersebut ke seluruh penjuru di Kota Serang, sekaligus mengawasi perdagangan hewan kurban di masa transisi kenormalan baru. 


"Kami juga ditugaskan untuk mengawasi perdagangan hewan kurban. Seperti lapak-lapaknya harus menerapkan anti Covid-19. Kemudian, pedagang diimbau untuk menggunakan baju lengan panjang, dan yang paling penting jaga jarak," katanya. 
Selain kedua penyakit tersebut, Siswati juga menuturkan salah satu penyakit yang perlu diwaspadai adalah antraks. "Tentu penyakit antraks itu kami waspadai.

Dengan ciri-ciri tumbuh bisul dan berdarah, tentu ini sangat berbahaya karena dapat menular kepada manusia apabila dikonsumsi. Insya Allah tidak ada, dan memang selama ini tidak ada kasus seperti itu," tuturnya. 
Pemilik lapak hewan kurban Dogar Arsem mengatakan, hewan kurban yang dijual berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Barat. "Sapi dan kerbau dari Jawa Tengah. Kalau kambing dan domba dari Garut," ucap Rahman. 


Terkait hewan kurban yang sakit, pihaknya mengaku hewan tersebut tidak akan dijual pada konsumen untuk kurban, melainkan dijual pada tukang jagal. "Kalau yang sakit jelas tidak akan dijual, disisihkan atau dipotong. Kayak kemarin ada kerbau yang kakinya patah, saya jual dijagal. Bukan tidak bisa diobati tapi lama, menyita waktu untuk mengurusnya," katanya. (harir/darjat)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook