Pasien Sembuh Korona di Cilegon Dijauhi Masyarakat

nurul roudhoh   |   Metro Cilegon  |   Senin, 17 Agustus 2020 - 20:53:44 WIB   |  dibaca: 2030 kali
Pasien Sembuh Korona di Cilegon Dijauhi Masyarakat

CILEGON, BANTEN RAYA – Di tengah kemeriahan perayaan 17 Agustus, ternyata ada kisah sedih dari pasien sembuh virus korona. Mereka yang pernah terkonfirmasi positif ternyata belum diterima masyarakat seutuhnya. Ada yang mengolok-olok, ada yang menjauhi, dan sebanyaknya. 

Salah satunya seperti yang dialami AS (33), warga Kelurahan Panggungrawi, Kecamatan Jombang, Kota Cilegon. AS menceritakan bahwa setelah terkena korona, warga dan tetangganya menjauhinya. Hal itu membuat ia dan keluarganya depresi. Parahnya lagi, usahanya hampir hancur karena perlakuan warga yang berlebihan.

Diketahui, AS menjalani rapid test pada Rabu (10/6) yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon di Pasar Baru Kranggot, Kelurahan Sukmajaya, Kecamatan Jombang dan hasilnya saat itu reaktif. Ia kemudian elakukan swab mandiri di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Jombang. Hasilnya pada Sabtu (13/6) AS dinyatakan positif Covid-19.

“Saya sembuh pada Selasa (23/6) dua kali swab negatif. Untuk tetap bertahan hidup, maka saya langsung jualan. Tapi itu semua orang-orang di pasar melihat saya seperti melihat setan. Semuanya takut mendekat. Saya khawatirkan usaha saya itu hancur. Sampai sekarang ada saja yang masih mengolok-olok saya, bilang jangan deket-deket takut korona. Padahal saya sudah dinyatakan sembuh dan sertifikatnya ada dari rumah sakit,” katanya kepada Banten Raya.

Sadar dengan kondisi tersebut, AS tidak ambil pusing. Baginya, meneruskan usaha lebih penting.

“Sebelum-sebelumnya pernah debat dan saya tantangin untuk mengetes kesehatan. Tapi sekarang karena tetap harus mencari penghasilan cuek (masa bodoh) saja dengan perkataan warga dan pedagang lain. Sekarang sudah hampir dua bulan masih sama saja perlakuannya,” imbuhnya.

Tidak hanya di situ, istri dan anaknya juga mendapatkan perlakukan yang kurang lebih sama dari warga. Hal itu diceritakan anak dan istri kepada AS. "Ya dijauhin lah gitu," kata dia.  

AS mengatakan, KK (38), warga Panggungrawi lainnya yang bekerja di PT Krakatau Nippon Steel Sumikin (PT KNSS) juga sempat depresi dan sering melamun setelah kasus korona tersebut. AS mengaku kadang ditelepon ayah KK untuk memberikan masukan.

“Sekarang ini ada lomba Agustusan. Saya tanya ke anak saya kenapa tidak ikut lomba, katanya takut diejek dan lainnya. Istri saya juga sama, tidak ada tukang ojek  yang mau membawanya, dan tetangga saya juga sama sering melamun mungkin mendapatkan perlakukan yang sama,” imbuhnya.   

AS meminta kepada warga untuk melihat pasien korona sebagai manusia biasa yang butuh hidup normal. 
“Tentu kami berkeinginan, warga dewasa berfikir, ini bukan kemauan, ini sudah jalannya. Kami juga tentu punya hak untuk kembali normal tanpa adanya ejeken dan olokan dari warga,” paparnya. (uri)  

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook