Gedung KP3B Dipersiapkan untuk Pasien Covid-19

Redaksi   |   Metro Serang  |   Senin, 21 September 2020 - 14:35:43 WIB   |  dibaca: 284 kali
Gedung KP3B Dipersiapkan untuk Pasien Covid-19

SERANG, BANTEN RAYA - Pemprov Banten berencana mengubah sementara kantor organisasi perangkat daerah (OPD) baru di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) menjadi rumah singgah Covid-19. Gedung-gedung tersebut akan dijadikan tempat isolasi pasien terpapar virus korona tanpa dan dengan gejala ringan andai terjadi pelonjakan kasus.

Seperti diketahui, pemprov telah membangun gedung yang diperuntukkan bagi OPD yang memiliki kantor sendiri di KP3B pada 2019 lalu. Mereka adalah Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Satpol PP, Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Perhubungan dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Kependudukan dan Keluarga Berencana (DP3AKB).

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti mengatakan, dengan terus meningkatnya kasus baru Covid-19, Pemprov Banten telah menyiapkan rencana penanganan sebagai antisipasinya. Salah satu yang disiapkan adalah menyediakan fasilitas perawatan atau isolasi berupa rumah singgah. 

"Untuk mencegah meningkatnya klaster keluarga yang ada di Banten, Pak Gubernur bersama bupati/walikota terus meningkatkan rumah singgah, karantina," ujarnya, kemarin.

Mantan Direktur Utama RSUD Kota Tangerang itu menuturkan, untuk saat ini terdapat enam rumah singgah Covid-19 yang ada di Banten. Rinciannya, Kota Tangerang sebanyak empat unit, Kota Tangerang Selatan satu unit dan Kabupaten Tangerang satu unit yaitu di Hotel Yasmin dengan kapasitas 240 ranjang. 

Saat ini Kota Tangerang Selatan berencana menambah jumlah rumah singgah. Selanjutnya juga dari Pemprov Banten berencana menyetting sejumlah kantor OPD baru yang belum ditempati menjadi fasilitas serupa.

"Kalau memang terjadi pelonjakan kasus kita akan me-setting kantor. Inikan ada kantor di KP3B yang belum digunakan, yang baru tapi proses pelistrikan segala macam lagi finishing. Insya Allah kalau memang kasus membludak itu akan dijadikan (rumag singgah). Itu disaster plan (prosedur penanggulangan bencana-red) yang ada," katanya.

Rumah singgah, kata dia, disiapkan lantaran saat ini rumah sakit diperuntukkan bagi pasien Covid-19 dengan gejala sedang hingga berat. Hal itu dilakukan sebagai upaya dalam menurunkan tingkat kematian akibat virus asal Tiongkok tersebut.

"Sisi positifnya, kan ini yang membutuhkan rumah sakit yang memang benar-benar membutuhkan bisa tertampung. Agar menurunkan angka mortalitas, angka kematian. Karena memang yang dikejar saat ini menurunkan angka kematian di Indonesia," ungkapnya.

Ati mengungkapkan, akibat kebijakan itu pula pasien yang telah dirawat 14 atau di atas 10 hari dan kondisi umumnya telah membaik maka mereka akan dipulangkan dari rumah sakit. Dari kondisi tersebut maka muncul sisi lemah yaitu mereka yang dipulangkan berpotensi menimbulkan penyebaran klaster keluarga.

"Jadi (dengan ada rumah singgah) tidak ada lagi orang orang yang tanpa gejala positif dan sampai yang ringan itu (isolasi mandiri) di rumahnya. Suka tidak suka, enak tidak enak, ini untuk bisa memutuskan rantai penularan," tuturnya. 

Disinggung jika yang membludak adalah pasien bergejala sedang hingga berat, Ati menegaskan pemprov sudah siap mengoperasikan kembali RSUD Banten sebagai RS Pusat Rujukan Covid-19. Akan tetapi, saat ini hal itu belum akan dilakukan mengingat tingkat okupansi ruang perawatan khusus Covid-19 belum menyentuh angka maksimal.

"Karena ketika hanya sedikit (ranjang yang terisi lalu) kami jadikan pusat rujukan covid, seperti kemarin itu sayang. Sedangkan yang penyakit lain juga masih butuh berobat," ujarnya. (dewa)

Profil Redaksi

Redaksi

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook