Cilegon Zona Merah Korona, Walikota Cilegon Edi Ariadi Salahkan Warga

Redaksi   |   Metro Cilegon  |   Rabu, 23 September 2020 - 10:16:55 WIB   |  dibaca: 185 kali
Cilegon Zona Merah Korona, Walikota Cilegon Edi Ariadi Salahkan Warga

CILEGON, BANTEN RAYA – Status Kota Cilegon diumumkan menjadi kota dengan penyebaran risiko tinggi atau zona merah penyebaran Covid-19 oleh Juru Bicara Pemerintah Perkembangan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito melalui streaming Youtube, Selasa (22/9) pukul 16.00.

Kota Cilegon menjadi zona merah bersama dengan 38 kabupaten/kota lainnya di Indonesia.

Diketahui, angka terkonfirmasi positif Covid-19 di Kota Cilegon sepanjang September angkanya sudah mencapai 255 kasus positif Covid-19 atau naik 300 persen dibanding Agustus yang hanya 78 kasus. 

Hal tersebut juga didominasi klaster keluarga dan juga perkantoran yang ada di Kota Cilegon. 

Berdasarkan data, Covid-19 di Kota Cilegon dimulai pada April sebanyak 1 kasus positif, Mei 4 kasus positif, Juni 31 kasus, Juli 7 kasus dan Agustus 78 kasus. Wiku menyatakan, untuk Provinsi Banten ada 4 wilayah yaitu Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan dan Kota Cilegon yang statusnya berubah dari zona risiko sedang atau zona oranye menjadi zona risiko tinggi atau merah.

“Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan dan Kota Cilegon merupakan zona risiko tinggi,” katanya melalui siaran pers Youtube, Selasa (22/9).

Wiku menyatakan, perubahan status tersebut menjadi bukti jika penerapan protokol kesehatan yang dilakukan masih sangat lengah. Sebab, masih banyak klaster industri dan perkantoran termasuk juga pejabat negara yang terkonfirmasi positif. “Ini menjadi bukti jika penerapan protokol masih sangat lengah,” imbuhnya.

Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon Dana Sujaksani mengungkapkan, pihaknya akan terus melakukan upaya pencegahan dengan menggencarkan protokol kesehatan. 

“Bagi kami akan terus melakukan upaya pencegahan, artinya protokol kesehatan akan digencarkan, kepada warga, kemudian juga upaya edukasi, sosialiasi tetap dilakukan, termasuk upaya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) diharapkan bisa menekan, sehingga bisa kembali mengetuk hati warga Kota Cilegon untuk menerapkan protokol kesehatan dan masuk zona oranye lagi,” ungkapnya. 

Dana menyatakan, pihaknya juga akan melakukan evaluasi segera dengan kondisi perubahan zona tersebut. Pilihannya, papar Dana, apakah memilih fokus terhadap protokol kesehatan atau pertumbuhan ekonomi. 

“Apakah kita akan sinergiskan (protokol kesehatan dan pertumbuhan ekonimi) atau pilih salah satu, ini yang tidak boleh ditinggalkan, terutama protokol,” paparnya.

Sementara itu, Walikota Cilegon Edi Ariadi menjelaskan, pihaknya sudah sangat maksimal dalam penerapan pengetatan protokol kesehatan. Pihaknya juga meminta warga tidak terus menyalahkan pemerintah. Sebab, persoalannya warga masih bandel dalam penerapan protokol kesehatan. 

“Sudah PSBB, kan diperketat semuanya, terus gimana kasusnya, sudah PSBB, sudah (pemerintah) begini begitu, dan upaya penegakan hukum. Tinggal masyarakatnya sekarang mah, jangan menyalahkan petugas saja, jangan menyalahkan gugus tugas, sudah maksimal kita,” jelasnya. 

Menyikapi zona merah Edi semakin sedih karena tidak ada perbaikan disiplin dari warga. Baik itu, industri dan lainnya.

“Sudah pasti karena warga tidak disiplin, industri dan klaster lainnya, protokol tidak dipakai dan diikutin, Semakin sedih saja dari oranye ke zona merah tidak ada perbaikan,” imbuhnya. (uri)

Profil Redaksi

Redaksi

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook