Modal Menjadi Manusia Silver Ternyata Sampai Rp200 Ribu

Redaksi   |   Metro Serang  |   Minggu, 27 September 2020 - 09:35:21 WIB   |  dibaca: 483 kali
Modal Menjadi Manusia Silver Ternyata Sampai Rp200 Ribu

SERANG, BANTEN RAYA - Menjadi manusia silver ternyata tidak murah. Mereka yang sehari-hari berprofesi sebagai manusia silver harus merogoh kocek kantong pribadnya. Sebab untuk menyulap menjadi manusia silver membutuhkan bahan-bahan mulai dari bodi painting silver (cat badan silver) minyak baby oil, dan bedak. Bahan itu semua harus dibeli karena untuk mengubah mereka menjadi manusia silver, sebelum mereka performa atau beraksi di jalanan.

Lampu lalu lintas di pertigaan Jalan Ciwaru, Kota Serang, mendadak kembali berwarna merah. Momen itu buru-buru dimanfaatkan oleh salah seorang pria berwarna silver yang sedari tadi berada di atas trotoar pembatas jalan. Lantas ia mendadak mematung sambil bergaya! Kedua tangannya seraya memegang kotak kardus. 

Beberapa detik kemudian, ia kembali normal seperti orang yang siuman. Lalu ia hampiri satu persatu pengendara sambil menyodorkan kotak kardus yang sedari tadi ia pegang. Itulah sekilas gambaran manusia silver yang coba mengadu nasib di Ibukota Provinsi Banten. Saat ini jumlahnya makin marak! 

Salah seorang manusia silver, Fauzi Rahman (27), mengatakan, sedikitnya ia bersama rekan-rekannya harus iuran mengeluarkan Rp 200.000 untuk membeli bahan-bahan kebutuhan menjadi manusia silver. 

"Biayanya sekitar Rp 200.000. Itu pun cuma untuk sekali pakai. Umpamanya yang mau jadi manusia silver ada empat orang, berarti bahannya abis buat sekali pakai. Besok kalau mau dicat lagi harus beli lagi bahannya," ujar Fauzi, ditemui di pertigaan lampu lalulintas Jalan Ciwaru, Kota Serang, kemarin. 

Biaya modal yang ia keluarkan, tak sebanding dengan penghasilan yang ia dapatkan di jalanan saat performa menjadi manusia silver. Fauzi menyebutkan, hasil performa menjadi manusia silver tak menentu, sebab, menurutnya rejeki sudah diatur Allah SWT. Kadang sehari ia dapat Rp 50 ribu, kadang kalau rejekinya lagi bagus ia bisa dapat Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu perhari.

"Tapi itu juga kotor, belum buat makan, buat beli rokok, buat beli air minum, buat ngopi dan biaya sewa motor. Kalau dibagi sama temen umpamanya dua orang yang jadi manusia silver, berarti kan bersihnya cuman Rp 30 ribu. Kita ngasih juga ke pengemis atau pengamen, karena kita juga pengen berbagi," katanya.

Untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah, ia bersama rekan-rekannya harus melakukan inovasi atau kreativitas agar masyarakat yang melihat terkesima dengan aksi manusia silver.

"Kalau kita cuma ngasongin kardus kosong kan gak bedanya pengemis. Makanya kita punya gaya matung dengan gaya-gaya yang unik. Supaya orang kan ngelihat kitanya seneng. Kadang sampe ada yang moto atau minta selfi," ungkap pria asal Rangkasbitung ini.

Meski demikian, Fauzi pun mengakui tak semua orang menilai positif terhadap keberadaan manusia silver di jalanan. Tak heran, ia bersama rekan seprofesinya kerap ditertibkan, bahkan dirazia oleh aparat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di wilayah setempat. Hal itu lantaran keberadaan manusia silver dianggap meresahkan masyarakat atau menganggu keindahan tata kota.

"Padahal mah kita gak meresahkan, cuman aksi matung doang. Minta pun gak maksa," ucap Fauzi.

Ia mengungkapkan, menjalani profesi sebagai manusia silver, karena desakan ekonomi. Tiap hari, bapak muda yang baru dikaruniai satu anak ini harus pulang pergi Rangkasbitung-Serang untuk mencari nafkah sebagai manusia silver.

"Saya berasal dari Rangkasbitung. Saya ke sini (Kota Serang) lagi namu, nyari makan. Di sini nyaman cari perkawanan. Tinggal di Rangkasbitung. Tiap hari bolak balik naik motor," ungkap Fauzi.

Dari Rangkasbitung menuju ke Ibukota Provinsi Banten, ia mengendarai sepeda motor bersama rekan-rekannya. 

"Berangkat jam 08.00. kadang pulang sekitar jam lima sore," kata dia.

Fauzi menerangkan, menjalani profesi sebagai manusia silver berawal dari ajakan rekannya yang berasal dari Kota Kembang Bandung, Jawa Barat. 

"Saya diajak gabung jadi manusia silver.
Saya setahun lebih di Rangkasbitung. Terus ke Lampung, dan Palembang ikut teman," terangnya. (harir)

Profil Redaksi

Redaksi

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook