Tiga Napi Kendalikan Narkoba dari Lapas

nurul roudhoh   |   Hukum  |   Kamis, 01 Oktober 2020 - 13:22:01 WIB   |  dibaca: 93 kali
Tiga Napi Kendalikan Narkoba dari Lapas

PELAKU PENYALAHGUNAAN NARKOBA: Sebanyak 18 pengedar dan pengguna narkoba dikumpulkan saat ekspose pengungkapan kasus narkoba selama September 2020, di Mapolres Serang Kota, Rabu (30/9).

SERANG, BANTEN RAYA- Tiga narapidana (napi) Lembaga Pemasyarakat (Lapas) di Banten berinisial S, H dan D ditetapkan tersangka oleh Satuan Narkoba (Satnarkoba) Polres Serang Kota karena diduga kuat sebagai pengendali narkoba di wilayah Serang dan Cilegon. Kasus napi pengendali narkoba ini terungkap setelah Satnarkoba Polres Serang Kota mengamankan 18 pengedar dan 4 pengguna narkoba selama September 2020.

"Kemarin kita berhasil mengungkap jaringan yang dikendalikan dari Lapas. Kita sudah berkoordinasi dengan Kepala Lapas langsung. Alhamdulillah dari pemeriksaan itu kita bisa menetapkan tiga orang tersangka," ujar Kepala Satnarkoba Polres Serang Kota Iptu Shilton, Rabu (30/9).

Berdasarkan informasi yang diperoleh Banten Raya, salah satu jaringan lapas yang berhasil diungkap merupakan pengembangan penangkapan janda cantik berinisial RIK (28) warga Perumahan Serang City, Kecamatan Taktakan, Kota Serang yang diamankan di rumahnya usai pesta sabu pada 18 September 2020.

Ketika diamankan, janda pengusaha asal Kota Serang tersebut sempat mengelak jika dirinya sering berpesta sabu. Namun perempuan itu tidak bisa mengelak ketika polisi menemukan alat hisap sabu dan korek api di dalam kloset.

Shilton mengungkapkan, pada September 2020 pihaknya berhasil mengungkap 19 kasus penyalahgunaan narkoba maupun obat-obatan keras. Jumlah tersangkanya yakni 18 pengedar dan 4 pengguna narkoba. Menurut Shilton, 18 pengedar narkoba jenis sabu tersebut diamankan dari sejumlah wilayah di Kota Serang maupun Kabupaten Serang.

Belasan pengedar itu memiliki jaringan yang berbeda, termasuk jaringan rutan di wilayah Banten, dan Jakarta. Shilton menambahkan, dari pengembangan penangkapan 18 pengedar dan 4 pengguna narkoba tersebut, pihaknya juga menetapkan tiga orang narapidana di Lapas wilayah Banten karena diduga menjadi pengendali narkoba jenis sabu. Tiga orang napi yang terlibat jaringan narkoba tersebut sudah ditetapkan tersangka.

"Masing-masing punya wilayah operasi, mulai dari Kramatwatu hingga PCI Kota Cilegon, kemudian daerah Pabuaran, Curug, Walantaka, Kasemen Karangantu, Ciruas, dan Pegantungan. Jadi, untuk pelaku yang masih kalangan pelajar yaitu terjerat penyalahgunaan obat-obatan keras dan ganja sintesis. Kalau dari kalangan pengangguran dan pegawai, didominasi narkoba jenis sabu," katanya.

Shilton menjelaskan, para pengedar narkoba yang berhasil diamankan sudah ahli dalam menyembunyikan barang bukti. Bahkan beberapa di antaranya sempat dibebaskan karena tidak ditemukan barang bukti. "Setelah kita lepaskan, mereka terus kita pantau. Ketika ada barang bukti baru kita tangkap," jelasnya.

Shilton membeberkan, berdasarkan keterangan pelaku (bandar), sabu yang diedarkan di wilayah hukum Polres Serang Kota dikirim dari sejumlah wilayah di pulau Jawa maupun Sumatera. "Ada yang dipasok dari Jakarta, Lampung, Cilegon. Kemudian mereka mengedarkannya di wilayah Kota Serang," jelasnya.

Atas perbuatannya itu, 22 tersangka penyalahgunaan narkoba tersebut dapat dijerat pidana dengan pasal 114 ayat (2) dan atau pasal 112 ayat (1) atau pasal 127 ayat (1) UU RI nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika. "Ancaman hukumannya minimal 4 tahun dan maksimal 12 tahun penjara. Tergantung dari barang bukti yang berhasil diamankan," tegasnya.

Sementara itu, Badan Narkotika Nasional (BNN) Banten berhasil mengamankan 301 kilogram ganja asal Aceh, di Pelabuhan Bandar Bakau Jaya (BBJ) Bojonegara, Kabupaten Serang. Satu orang pelaku berinisial AS ditangkap dalam kasus pengiriman ratusan kilogram ganja dalam truk tersebut.

Kepala BNNP Banten Kombes Pol Hendri Marpaung mengatakan, penyelundupan ganja dari Aceh tujuan Bogor trungkap dari adanya laporan masyarakat bahwa akan ada pengiriman 301 kilogram ganja menggunakan truk berplat nomor BK 9735 DU pada 24 September 2020 lalu.

"Kami mendapatkan informasi akan ada pengiriman ganja dari Lampung dengan menggunakan truk melalui pelabuhan BBJ. Setelah dilakukan penyelidikan, kita temukan truk BK 9735 DU parkir di warung kopi di Jalan Raya Merak-Serdang," katannya, di kantor BNNP Banten, Rabu (30/9).

Menurut Hendri, petugas sempat terkecoh dengan modus yang dilakukan oleh pelaku. Sebab, truk bermutan ratusan ganja itu terlihat rapi dan bersih. Sehingga membuat ragu anggotanya.
"Modusnya, pelaku menggunakan dua media, satu media karung, yang satunya di kotak kayu yang dikemas dengan jumlah 301 bata. Kita sempat terkecoh, fisik truknya juga bersih sehingga kami berpikir truk itu bukan datang dari luar daerah," ujarnya.

Hendri menambahkan, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh anggotanya, AS sudah sering mengirimkan ganja ke wilayah Bogor, Jawa Barat. Namun pelaku terkenal licin, sehingga sulit untuk ditangkap oleh anggotanya maupun anggota kepolisian."Ini yang ketiga kalinya (mengirim ganja), sebelumnya pernah jadi target Polda Banten. Awal pengiriman pengungkapan Polda yang 210 kilogram pada Desember 2019, dan 150 kilogram di bulan Agustus," tambahnya.

Hendri menegaskan dari pengungkapan ribuan kilogram ganja asal Aceh tujuan Bogor tersebut, BNNP Banten mengklaim dapat menyelamatkan sedikitnya dua juta orang dari penyalahgunaan narkoba."Kami masih melakukan pendalaman dan pengembangan dari tersangka AS ini," tegasnya.

Hendri menjelaskan tersangka AS dapat dikenakan pasal 114 ayat (2) dan atau pasal 111 ayat (2) Jo pasal 132 ayat (1) Undang-undang RI nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman penjara semur hidup atau hukuman mati."Pelaku ini pengedar karena sudah ketiga kalinya melakukan pengiriman ganja, pemiliknya asal Aceh," jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Hendri mengimbau masyarakat untuk tanggap akan bahaya peredaran narkoba yang telah menyasar setiap lapisan masyarakat. Jangan segan melaporkannya kepada BNN, apabila ditemukan adanya pelaku penyalahgunaan narkoba."Pencegahan penyalahgunaan narkoba yang efektif memerlukan peranan aktif dari segenap lapisan masyarakat. Termasuk di dalamnya orangtua, guru, tokoh masyarakat dan tokoh agama, kelompok remaja, dan warga lainnya," jelasnya. (darjat/rahmat)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook