Tak Sampai Satu Persen, Sampel Swab Banten di Bawah Standar WHO

Redaksi   |   Kesehatan  |   Rabu, 07 Oktober 2020 - 07:59:56 WIB   |  dibaca: 224 kali
Tak Sampai Satu Persen, Sampel Swab Banten di Bawah Standar WHO

SERANG, BANTEN RAYA - Jumlah sampel tes swab di Banten belum mencapai standar dari organisasi kesehatan dunia (WHO). Dari target sampel swab 1 persen dari jumlah penduduk, kini capaiannya baru diangka 98,95 persen per 3 Oktober lalu. Kabupaten Pandeglang menjadi daerah dengan capaian terendah sebesar 38,30 persen. 

Informasi yang dihimpun, adapun target 1 persen sampel swab di Banten sendiri adalah sebanyak 129.273. Hingga 3 Oktober sudah terdapat 127.917 sampel yang dilakukan tes swab dengan 113.687 diantaraya telah keluar hasil uji laboratoriumnya.

Rinciannya, Kabupaten Lebak dari target 13.026 sampel, 5.159 sampel telah diswab, 4.521 diantaranya sudah keluar hasil dengan capaian 39,61 persen. Kabupaten Pandeglang dari target 12.119 sampel, 4.642 sampel telah diswab, 3.648 diantaranya sudah keluar hasil dengan capaian 38,30 persen. Kabupaten Serang dari target 15.084 sampel, 7.365 sampel telah diswab, 7.062 diantaranya sudah keluar hasil dengan capaian 48,83 persen.

Kabupaten Tangerang dari target 38.008 sampel, 29.395 sampel telah diswab, 28.739 diantaranya sudah keluar hasil dengan capaian 77,34 persen. Kota Cilegon dari target 4.372 sampel, 11.369 sampel diswab, 11.194 diantaranya sudah keluar hasil dengan capaian 260,04 persen. Kota Serang dari target 6.886 sampel, 5.801 sampel telah diswab, 4.363 diantaranya sudah keluar hsil dengan capaian 84,24 persen.

Kota Tangerang dai target 22.299 sampel, 36.182 sampel telah diswab, 19.901 diantaranya sudah keluar hasil dengan capaian 162,26 persen. Kota Tangerang Selatan dari target 17.479 sampel, 28.004 sampel telah diswab, 19.901 diantaranya sudah keluar hasil dengan capaian 160,21 persen.  

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti mengatakan, untuk mencegah penyebaran Covid-19 pihaknya telah melakukan berbagai upaya. Salah satunya adalah dengan melakukan pelacakan atau tracing hingga penyaringan atau screening melalui tes swab. Target swab sendiri disesuaikan dengan standar WHO yaitu satu persen dari jumlah penduduk. "Target swab persen dari jumlah penduduk adalah sebesar 129.273," ujarnya, kemarin. 

Mantan Direktur Utama RSUD Kota Tangerang itu menuturkan, dari target tersebut telah terealisasi sebesar 98,95 persen per 3 Oktober. Terdapat 127.917 sampel yang sudah diuji swab dari target 129.917.

"Capaian swab se-Proinsi Banten sampai dengan 3 Oktober 2020 dengan 127.917 sampel tes. Adapun target  mencapai 100 persen adalah di akhir Oktober," katanya.

Selain tes swab, kata dia, pihaknya juga melakukan penilaian penilaian zona risiko yang dilakukan sepekan sekali. Penilaian dilakukan oleh para pakar dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana  BNPB.

"Kriteria penilaian berdasarkan pada emapt aspek. Pertama, epidemiologi dengan 10 indikator. Kedua, surveilans kesehatan masyarakat degan dua indikator. Ketiga, pelayanan Kesehatan dengan dua indikator serta keempat yaitu reproduction number (RT) sebagai triangulasi," ungkapnya.

Dengan demikian, kata dia, penilaian zona penyebaran Covid-19 bukan hanya dilihat dari penurunan jumlah kasus positif, tingkat kesembuhan dan kematian. Ada hal lain yang juga menjadi pertimbangan seperti sejauh mana peran gugus tugas dalam melakukan sosialisasi, edukasi masyarakat untuk mengubah prilaku agar disiplin menerapkan protokol kesehatan.

"Lalu juga ketersediaan pelayanan kesehatan  seperti laboratorium, rumah singgah isolasi covid dan rumah sakit dibandingkan dengan jumlah kasus yang ada. Terakhir, sejauh mana keaktifan dan kecepatan tracing kontak dilakukan," tuturnya.

Dari penialian itu lah yang akhirnya bisa diambil kesimpulan mengapa wilayah Tangerang Raya yang tadinya zona merah penyebaran Covid-19 turun menjadi oranye. Kemudian hal sebaliknya terjadi untuk kabupaten Serang pada 5 Oktober lalu.

"Kabupaten Serang sudah menerapkan PSBB (pembatasan sosial berskala besar), namun belum optimal. Belum tampak terlihat akibat klaster pilkada. Justru kasus Kabupaten Serang banyak pada klaster perusahaan dan keluarga," ujarnya.

Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy mengatakan, penanganan dan pencegahan Covid-19 menjadi perhatian Pemprov Banten. Bahkan, pihaknya telah menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 45 Tahun 2020 tentang Perubahan Atas Pergub Nomor 38 Tahun 2020 tentang  Penerapan Sanksi dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan sebagai Upaya Pencegahan dan  Pengendalian Covid-19. “Ini tidak bisa diabaikan dan harus menjadi perhatian kita bersama,” tuturnya.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang dihimpun dari situs infocorona.bantenprov.go.id, jumlah kasus konfirmasi Covid-19 di Provinsi Banten hingga 6 Oktober terdapat 6.247. Angka itu naik 80 kasus dibanding hari sebelumnya. Dari jumlah tersebut, 1.284 masih dirawat, 4.753 sembuh dan 210 meninggal.

Adapun rinciannya terdiri atas Kota Tangerang dengan 1.415 sembuh, 273 masih dirawat dan 62 meninggal. Kota Tangerang Selatan 1.061 sembuh, 64 masih dirawat dan 59 meninggal. Kabupaten Tangerang 1.312 sembuh, 444 masih dirawat dan 41 meninggal. Kabupaten Lebak 80 sembuh, 124 masih dirawat dan 5 meninggal.

Kota Cilegon 476 sembuh, 62 masih dirawat dan 16 meninggal. Kota Serang 125 sembuh, 149 masih dirawat dan 9 meninggal. Kabupaten Serang 189 sembuh, 127 masih dirawat dan 12 meninggal. Terakhir di Kabupaten Pandeglang 95 sembuh, 41 masih dirawat dan 6 meninggal.

Selanjutnya, terdapat dua daerah yaitu Kota Cilegon dan Kabupaten Serang yang masuk zona merah. Sementara enam kabupaten/kota lainnya masuk zona oranye. (dewa)

Profil Redaksi

Redaksi

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook