Cerita Dirut Bank Banten Sembuh dari Covid-19: Gak Enak, Batuk-batuk dan Dada Sakit

Redaksi   |   Kesehatan  |   Jumat, 09 Oktober 2020 - 09:27:37 WIB   |  dibaca: 247 kali
Cerita Dirut Bank Banten Sembuh dari Covid-19: Gak Enak, Batuk-batuk dan Dada Sakit

SERANG, BANTEN RAYA - Direktur Utama Bank Banten Fahmi Bagus Mahesa kini telah dinyatakan sembuh dari Covid-19. Dirinya pun meminta masyarakat tak menganggap enteng virus asal Tiongkok tersebut. Sebab, banyak hal tak mengenakan yang dialaminya selama masa perawatan.

Fahmi merupakan penyintas Covid-19 yang diketahui terpapar pada September lalu. Dirinya terpapar Covid-19 masuk dalam penyebaran dari klaster keluarga. Diceritakannya, awal penularan terjadi diduga saat sang istri menghadiri perayaan ulang tahun anaknya. Diduga ada salah satu temannya atau anggota keluarga yang terpapar sehingga terjadi penularan ke istrinya.

"Kayaknya klaster keluarga, awalnya istri saya yang positif. Istri dapat saat menghadiri acara ulang tahun anak saya. Dia datang ternyata temannya positif atau keluarga positif. Makannya saya di swab ulang dan hasilnya negatif," ujarnya saat berbincang dengan Banten Raya, belum lama ini.

Akan tetapi tak lama berselang dirinya tiba-tiba mengalami gejala Covid-19 berupa batuk secara terus menerus dibarengi dengan mulai menghilangnya penciuman. Lantaran ada gejala dirinya kembali menjalani tes swab dan hasilnya positif sehingga harus menjalani perawatan di Santosa Hospital Kopo, Kota Bandung.

"Batuk kering sampai sakit dada, enggak tahan gatel banget, flu dan di situ agak sesak. Yang paling agak itu (terasa-red) hilang penciuman sama rasa (pengecap). Cium parfum, makan petai saja enggak kecium," katanya.

Dalam masa perawatan ini lah Fahmi mengungkap banyak pengalaman tak mengenakan. Dia dirawat di sebuah ruangan berisi enam orang tanpa pendingin ruangan. Tentu hal itu membuatnya tak nyaman karena suhu yang kurang sejuk. 

Saat perawatan itu juga baru diketahui jika pasien terpapar Covid-19 mengalami pengentalan darah. Akibatnya, sejumlah bagian tubuhnya terutama tangan terjadi pembengkakan cukup parah. 

"Karena bengkak infus enggak masuk sehingga cairan tubuh yang keluar. Sempat saat itu saya tidur dan bangun kasur saya basah. Ternyata itu basah karena cairan dari tubuh saya yang keluar," ungkapnya. 

Dari semua itu yang tak akan pernah dilupakannya adalah macam-macam obat yang dimasukan ke tubuhnya. Lantaran vitamin yang dimasukan cukup tinggi maka tubuhnya bereaksi dengan merasakan sakit. "Itu setiap hari disuntik lewat infus. Ada satu yang itu sakit banget," tururnya. 

Dengan tekadnya untuk sembuh yang tinggi akhirnya kondisi Fahmi mulai membaik dan keluar rumah sakit setelah 14 hari perawatan. Setelahnya Fahmi melakukan isolasi mandiri selama 16 hari di kediamannya. 

"Jumat (2/10) swab dan Senin (5/10) keluar hasilnya negatif. Makannya Rabu (7/10) suah bisa masuk kantor lagi," ujarnya.

Dia mengimbau kepada masyarakat untuk tak acuh menjalankan protokol kesehatan sebagai bentuk pencegahan. Fahmi juga menyayangkan masih banyak warga yang menganggap virus korona hanya rekayasa.

"Korona itu benar ada, saya mengalami sendiri. Itu benar ada. Saya mengimbau sekaligus mengajak masyarakat agar tetap menjaga kesehatan dan mematuhi protokol kesehatan. Memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan dengan sabun," pungkasnya. (dewa)

Profil Redaksi

Redaksi

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook