Tersangkut Kredit Fiktif, BJB dan BTN Diduga Rugikan Negara Hingga Rp27,7 Miliar

Redaksi   |   Hukum  |   Senin, 12 Oktober 2020 - 05:07:12 WIB   |  dibaca: 232 kali
Tersangkut Kredit Fiktif, BJB dan BTN Diduga Rugikan Negara Hingga Rp27,7 Miliar

SERANG, BANTEN RAYA - Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten melalui Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) tengah melakukan audit kerugian negara atas tiga kasus dugaan tindak pidana korupsi (tipikor) kredit fiktif di perbankan. Berdasarkan audit sementara, kasus di Bank Jawa Barat (BJB) Cabang Tangerang potensi kerugian negaranya mencapai Rp8,7 miliar, Bank BJB Syariah Cabang Tangerang potensi kerugian Rp 11 miliar, dan Bank Tabungan Negara (BTN) Cabang Tangerang potensi kerugian Rp8 miliar. Total potensi kerugian negara Rp27,7 miliar.

Kasi Penerangan Hukum Kejati Banten Ivan Hebron Siahaan mengatakan, audit kerugian negara dugaan penyaluran kredit fiktif Bank BJB Syariah Cabang Tangerang, BJB Cabang Tangerang dan BTN Cabang Tangerang masih dilakukan BPKP Perwakilan Banten. Audit dilakukan untuk mendapatkan nilai rill kerugian negara.
Saat ini kami masih menunggu hasil perhitungannya. Sudah kami minta ke BPKP untuk diaudit kerugian negaranya, katanya kepada Banten Raya, kemarin.
Ivan mengungkapkan, kasus kredit fiktif yang diduga melibatkan orang dalam di bank.

Penyidik masih mengumpulkan bukti-bukti dan pendalaman keterangan saksi-saksi. Untuk masalah bank ini melibatkan kedua belah pihak, dari pihak banknya dan dari orang yang diberikan kredit," ungkapnya.

Sebelumnya, Kajati Banten Rudi Prabowo Aji mengatakan, untuk kasus BJB Cabang Tangerang ada dugaan pemberian kredit fiktif yang mengakibatkan kerugian mencapai Rp8,7 miliar. Kasus tersebut masuk kategori tindak pidana korupsi karena pihaknya sudah melakukan komunikasi dengan meminta pendapat ahli perbankkan. Sudah kita konsultasikan dengan ahli perbankan, katanya.

Untuk kasus bank BJB Syariah Cabang Tangerang, kasus serupa juga terjadi. Ia mengatakan ada pengajuan kredit yang diajukan seseorang dengan agunan sertifikat. Tetapi, sertifikat itu dijaminkan tanpa diketahui oleh pemilik sertifikat tersebut. :Hal tersebut membuktikan bahwa adanya tindak pidana korupsi. Malah pemilik sertifikat itu sendiri yang melaporkannya," katanya.

Selain pengadaan kredit fiktif tersebut, bank BJB Syariah Cabang Tangerang juga mengucurkan kredit untuk pengadaan kapal yang diduga fiktif. Tim Kejari sudah melakukan penyelidikan. Hasilnya, kapal tersebut tidak pernah ada. Akibatnya, terjadi potensi kerugian negara sebesar Rp11 miliar.

Sementara itu, untuk kasus BTN Cabang Tangerang masih tentang adanya kredit fiktif dengan kerugian mencapai Rp8 miliar. Kasus tersebut juga menggunakan modus yang sama. Yakni mengucurkan kredit dengan jaminan sertifikat lahan, tanpa sepengetahuan sang pemilik sertifikat dan lahan tersebut. Kemungkinan pihak perbankan terlibat. Sudah kita mintai keterangan dari kedua belah pihak, katanya. (darjat/rahmat) 

Profil Redaksi

Redaksi

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook