Diler Mobil Ngeluh, Biaya KIR Digetok Rp1 Juta di Cilegon

Redaksi   |   Metro Cilegon  |   Senin, 19 Oktober 2020 - 06:38:54 WIB   |  dibaca: 1015 kali
Diler Mobil Ngeluh, Biaya KIR Digetok Rp1 Juta di Cilegon

CILEGON, BANTEN RAYA - Pelayanan pengujian kendaraan bermotor atau KIR di Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Cilegon dikeluhkan masyarakat.

Pasalnya ongkos pelayanan yang ditetapkan membangkak dari Rp100 ribu jadi Rp1 juta per satu kendaraan.

Salah satunya dikeluhkan Business Manager Mitsubishi Cilegon Usdensi kepada Banten Raya, Minggu (18/10). Ia menceritakan, biaya uji KIR di Kota Cilegon memberatkan pemilik kendaraan dan diler.
"Selama ini kan kita sudah biasa uji KIR dan sudah ada standar tarif yang ditentukan. Nah ini kami harus bayar diluar standar itu. meskipun ada tarif yang ditentukan kita juga biasa lebih dari yang dibayarkan. Misalnya tarifnya Rp100 ribu kita bayar Rp150 ribu. Tapi ini gak kira-kira mintanya Rp1 juta. Gila gak lo!, ujar Usdensi.
Lantaran biaya yang ditentukan petugas lebih tinggi dari yang ditentukan, kata Usdensi, konsumennya ikut mengeluh.

"Akhirnya konsumen marah-marah sama kita. Biaya KIR kan Rp100 atau paling mahal Rp200 ribu. Nah itu kan kita bayar. Tapi diminta diluar itu. Ini orang pengen cepat kaya atau apa," katanya.

Akibatnya lanjut Usdensi, karena biaya yang ditentukan lebih mahal dari tarif normal, pihaknya tidak bisa mengurus uji KIR kendaraan milik konsumennya.

"Ngurus uji KIR kan bukan hanya ada di Cilegon, tapi ada yang di Serang, dan Pandeglang. Tapi gak gini amat, di Cilegon keterlaluan!. Saya gak tahu ini. Apakah oknum atau ada kongkalingkong. Saya gak ngerti. Kalau begini terus kita dirugiin. Dari segi diler dirugikan dan konsumen juga dirugikan," katanya.

Usdensi menambahkan, jika biaya uji KIR tidak dibayar Rp1 juta, maka petugas tidak mengeluarkan surat izin pengujian kendaraan bermotor.
"Kejadian ini udah beberapa kali. Kemarin itu tidak bisa KIR lima unit. Berarti (bayar) Rp5 juta. Gila gak tuh. Karena kita tidak bayar sesuai yang diminta, maka alasannya buku KIR nya habis katanya," terang Usdensi.

Secara terpisah, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Cilegon Uteng Dedi Afendi membantah adanya pungutan liar (pungli) terkait pembuatan uji KIR hingga Rp1 juta di Dishub Kota Cilegon.
"Gak ada tuh (pungli-red). Sesuai retribusi aja tuh (tarifnya). Kalau memang persyaratannya lengkap (bayar) sesuai retribusi. Gak ada (biaya Rp1 juta itu red) namanya dilapangan," ujar Uteng Dedi Afendi saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon seluler, Minggu (18/10).

Ia menjelaskan, jika persyaratan pemohon uji KIR sudah lengkap, hasil uji KIR bisa langsung diambil pada bagian loket uji KIR.

"Jadi gak ada tuh (mempersulit). Karena memang ada peralihan ke kartu sim card (kartu pintar). Ditambah memang buku uji KIR sudah habis. Jadi nunggu sim card. Dan aturan dari pusat memang tidak boleh pakai surat keterangan. Berarti kita nuggu sim card. Mungkin pertengah Desember 2020 baru bisa berjalan. Karena kita ngajukan anggaran dahulu ke pusat," terang Uteng.

Lantaran buku KIR nya habis kata Uteng, saat ini pihaknya tidak bisa menerbitkan izin KIR kepada seluruh para pemilik kendaraan.
"Buku KIR nya habis dan gak ada. Makanya kita tidak berani mengeluarkan surat keterangan. Karena aturannya memang tidak boleh. Karena buku KIR nya sudah habis jadi harus nunggu kartu," katanya.

Uteng melanjutkan, tidak hanya dialmi diler Mitsubishi, hampir seluruh diler yang mengajukan KIR juga tidak dilayani lantaran buku KIR nya habis.
"Jadi semuanya dipending tidak hanya Mitsubishi. Semua mobil baru kita pending. Karena gak ada material (buku KIR). Jadi semua kita pending untuk nunggu sim card atau kartu," katanya.

Uteng menambahkan, karena pengajan pengadaan pergantiaan buku KIR ke kartu pintar tersebut pada anggaran perubahan 2020, diperkirakan baru bisa ada paling cepat awal Desember 2020.
"Awal Desember mudah-mudahan lah (sudah ada)," tutup Uteng. (ismet)

Profil Redaksi

Redaksi

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook