Pandeglang-Lebak Diprediksi Terparah Terkena Dampak La Nina

Redaksi   |   Metro Serang  |   Kamis, 22 Oktober 2020 - 13:42:18 WIB   |  dibaca: 240 kali
Pandeglang-Lebak Diprediksi Terparah Terkena Dampak La Nina

SERANG, BANTEN RAYA- Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena La Nina akan berlangsung hingga Desember mendatang. Banten menjadi salah provinsi yang dilanda, Kabupaten Lebak dan Pandeglang sebagai daerah paling terdampak. 


Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Klas II Tangerang Selatan Sukasno mengatakan, saat ini fenomena La Nina sedang terjadi dan Indonesia termasuk Banten terkena dampaknya. Terkait hal tersebut maka perlu adanya peningkatan kewaspadaan dari berbagai pihak untuk mengantisipasi potensi yang ditimbulkan.


"Secara masif kita sampaikan kepada masyarakat bahwa La Nina sedang berlangsung sampai Desember. Mudah-mudahan pada Januari akan menurun," ujarnya usai menghadiri rapat koordinasi penanganan bencana di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten, Rabu (21/10).

 

Ia menjelaskan, dampak dari fenonema La Nina sendiri adalah terjadinya peningkatan curah hujan sebesar 20 hingga 40 persen. Dari prakiraannya, curah hujan yang turun satu harinya bisa mencapai 210 milimeter. Angka itu sama dengan curah hujan normal dalam jangka satu bulan.


"Itu bisa meng-cover dalam periode kriteria musim hujan dalam satu bulan. Jadi dalam satu bulan itu dimampatkan dalam satu hari. La Nina terkait dengan angin yang bergerak di (Samudera) Pasifik. Curah hujan meningkat 20 sampai 40 persen di zona musim masing-masing," katanya.

 

Masih dari hasil pantauannya, kata dia, sebagian besar Kabupaten Pandeglang dan bagian barat Kabupaten Lebak menjadi daerah paling terdampak di Banten akibat fenomena La Nina. Kedua wilayah tersebut menjadi daerah di atas normal dampak La Nina jika dilihat dari zona musimnya.

 

"Jadi kami melihatnya daerah di atas normal. Prakiraan di atas normal itu untuk zona musim di wilayah Pandeglang, sebagian besar Pandeglang. Kemudian ada di sebagian Lebak bagian barat. Itu daerah yang harus diwaspadai untuk daerah di atas normal," ungkapnya. 

 

Sukasno tak menampik, peningkatan curah hujan akan juga memicu potensi terjadinya bencana alam seperti banjir dan longsor. Hal itu akan sangat dipengaruhi oleh karakteristik dari masing-masing daerah di Banten. "Itu tergantung potensi dari daerah masing-masing. Jadi tergantung potensi daerah masing-masing untuk peta rawan banjir dan peta rawan longsornya," tuturnya.

 

Terkait hal tersebut pihaknya bersama pemangku kepentingan terkait sepakat untuk menyiapkan antisipasi penanggulangan bencana. Pihaknya juga menyambut baik adanya peningkatan status kewaspaan bencana oleh Pemprov Banten. Selanjutnya Sukasno juga berhara daerah yang tawan bencana untuk segera melakukan antisipasi dan persiapan. "Misalnya saat terjadi bencana di Lebak ada fasilitas yang belum digunakan atau belum selesai itu dipercepat. Mitigasi harus kita lakukan bersama," ujarnya.

 

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Banten Nana Suryana mengungkapkan, untuk peta rawan bencana pihaknya mengacu pada inaRISK atau sebuah aplikasi untuk bahaya kebencanaan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Terdapat empat daerah di Banten yang rawan terjadi banjir dan longsor yaitu Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, Kota Cilegon dan Kabupaten Serang.

 

"Kabupaten/kota lainnya seperti Tangerang itu terlintasi oleh Sungai Cisadane itu bisa terjadi. Kalau longsor di kota relatif kecil. Seperti di Kota Serang ini kecuali di (Kecamatan) Taktakan karena ada dataran tinggi itu bisa terjadi longsor," katanya. 

 

Dipaparkannya, risiko banjir dan longsor menjadi perhatian BPBD karena curah hujan diprediksi meningkat akibat fenomena La Nina. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meminimalisasi hal yang tak diinginkan. "Curah hujan tinggi otomatis mengakibatkan kejadian seperti itu. Ini yang kita tidak inginkan sampai terjadi korban. Seperti yang terjadi beberapa bulan lalu baik di Lebak maupun di Cilegon yang terakhir," tuturnya. 

 

Untuk saat ini juga pihaknya telah menyiapkan personel, bukan hanya dari BPBD tapi juga dari seluruh pemangku kepentingan terkait kebencanaan termasuk relawan. Ia juga secara masif melakukan koordinasi dengan pemerintah di berbagai tingkatan mulai kabupaten/kota hingga desa/kelurahan. (Dewa)

Profil Redaksi

Redaksi

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook